
Bunga berlari mencari pertolongan. Ia terus berjalan meminta bantuan tetangga. Malam itu kampung sudah amat sepi. Pasalnya malam sudah sangat larut. Ia terus berjalan, Air matanya terus mengalir, Semua perasaan berkecamuk dalam dirinya.
Sampai akhirnya ia mendapat bantuan dari tetangganya.
Sari dibawa menuju puskesmas yang buka 24 jam.
Hanya ada satu perawat berjaga. Sehingga sari hanya di infus dan masih belum diperiksa lanjutan. Perawat memasang selang yang di masukkan kedalam hidung Sari, yang terus mengeluarkan darah. Untuk membuang darah yang terus mengalir keluar dari hidungnya.
Tubuhnya di biarkan terbaring di atas ranjang. Wajahnya begitu pucat. Seakan ia sudah hampir tiada. Namun perawat berusaha menghubungi dokter.
Bunga terus duduk disampingnya. Menangis dan hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia terus berdoa untuk kesembuhan Ibu nya.
Hingga tubuhnya lelah dan tertidur.
Satu Jam Kemudian
Dokter datang membangunkan Bunga yang tertidur di samping ranjang Sari. Kemudian menyuruhku Bunga untuk menunggu di luar. Dan memeriksa keadaan Sari. Setelah dokter memeriksa keadaan Sari.
Dokter meminta perawat memasang selang oksigen dan alat deteksi jantung.
Bunga hanya bingung melihat semua perawat berjalan kesana-kemari. Ia duduk dengan hati yang cemas. Sesekali berdiri, ingin melihatnya apa yang sesungguhnya terjadi.
Beberapa jam kemudian Dokter meminta Bunga meminta dirinya ikut ke ruangannya.
"Nona... Sejak kapan ibu anda terjatuh ?" Tanya dokter yang sudah mengetahuinya riwayat Sari dibawa ke puskesmas.
Bunga duduk dihadapan dokter dan menggenggam erat kedua tangannya.
Menumpukan kedua tangannya diatas paha.
"Sudah sejak sore kemarin dok..." Jawab Bunga cemas. Kala itu matahari sudah hampir terbit. Cahaya matahari mulai menunjukan kepada dunia.
Hatinya ditemani rasa tak tenang. Seakan ingin menutup telinga. Agar tak mendengar kabar buruk yang menimpa ibunya.
"Ibu anda ada penggumpalan darah di dalam otak. Karena benturan yang terlalu keras. Membuat pembuluh darahnya pecah dan semua darah membeku didalam otaknya."
"Apa.....??"
__ADS_1
Bunga terkejut. Apa yang di takutkan dirinya terjadi. Hal buruk menimpa ibunya.
Ia tetap mencoba tenang dan tegar. Berusaha tetap berfikir positif. Ibunya akan baik-baik saja.
"Dokter... lalu bagaimana agar ibu saya bisa sembuh ?"
Tanya Bunga.
"Saat ini ibu anda masih koma. Begini Nona...."
Ucap Dokter agar tak menyakiti hati Bunga dan mencoba membuatnya tenang.
"Sebenarnya, anda sudah terlambat membawa ibu anda kemari. Saya rasa, dia terbentur sudah sangat lama. Sebab, seluruh darah sudah menyebar ke otak. Dan... kemungkinan tidak ada kesempatan untuk ibu anda bertahan. Semua hanya kuasa Tuhan yang sanggup merubah ketidak mungkinnan"
"Apa.....??"
Bunga tak percaya dengan apa yang saat ini ia dengar.
"Dok... tolong sembuhkan ibu. Saya akan berusaha mencari biaya. Berapa pun biaya yang di butuhkan. Dokter aku mohon."
Bunga terus berusaha memohon.
Ucap Dokter menguatkan Lili.
Bunga semakin lemas mendengar ucapan dokter. Ia berterimakasih dan berpamitan.
Dengan sekuat tenaga ia berdiri. Berjalan menuju ruangan Sari dan menghampiri nya.
Ia duduk disampingnya, terus memandangi Sari yang sudah tak berdaya.
Ia menangis, Tak menyangka semua ini terjadi begitu saja.
"Ibu..... Bangun.... Bunga ada disini... "
Bunga semakin tak kuasa menahan tangis.
"Hari sudah semakin siang. Kita harus bekerja. Bunga mohon bangun.....bangun ibu.... bangun....."
__ADS_1
Bunga menggoncang tangan Sari. Namun tetap sama. Ia hanya terbaring tak berdaya.
"Bunga......"
Teriak Hendra.
Ia datang dengan amarah yang meledak-ledak. Tak peduli dengan kondisi di sekitarnya. Termasuk Sari istrinya yang sudah di ambang kematian.
"Ayah... . "
Bunga terkejut melihat Hendra dan ia langsung berdiri
"Anak sialan......."
"Plakkkkkkk......."
Dengan keras Hendra menampar pipi Bunga.
Bunga jatuh tersungkur di lantai. Tanpa pikir panjang Hendra meraih tangan anaknya. Ia memaksa Bunga berdiri dan membawanya keluar meninggalkan Sari.
Bunga berusaha melepaskan genggaman Hendra yang kuat.
"Ayah..... lepaskan Bunga. Bunga mau menjaga ibu... Ibu sakit ayah. Bunga mohon lepaskan...!"
Bunga kesulitan melepaskan genggaman Hendra. Karena begitu kuat , Sembari menahan sakit, Bunga terus berusaha. Langkah kaki Hendra begitu cepat. Membuat Bunga juga kesulitan berjalan.
Hingga akhirnya ia jatuh tersandung.
"Ahhhh...... .."
Bunga sudah jatuh di tanah.
"Kau benar-benar anak tidak tau di untung. Kenapa kau kabur dari Vila. ? Hah....?"
Teriak Hendra marah.
TEMAN-TEMAN JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NOVEL INI YA...
__ADS_1
SUPAYA AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA. MAKASIH