
Sari takut jika Hendra berbicara yang tak baik dengan Hermawan. Bagaimana jika dirinya dan Bunga sampai di pecat.
"Ibu... kenapa ibu berhenti...?"
Tanya Bunga.
"Eh... tidak apa Bunga.. Ayo kita jalan lagi."
Ucap Sari.
"Perasaan ku tidak enak. Semoga tidak terjadi sesuatu." Batin Sari.
Rumah
Dari kejauhan Bunga dan Sari melihat pintu rumah terbuka.
Mereka menebak, mungkin Hendra pulang lebih awal.
Bunga dan ibunya masuk kedalam. Dan betapa terkejutnya mereka.
Hendra sudah duduk dilantai dengan muka nya lebam bekas pukulan.
Satu orang parubaya duduk di atas kursi. Dan 2 lainnya berdiri disamping Hendra yang sudah tak berdaya.
Darah segar keluar dari mulut Hendra. Ia merintih kesakitan.
Sari terkejut dan langsung berlari mendekat Hendra.
"Mas......"
Ia langsung meletakkan siku kakinya di lantai.
"Ayah....? " Batin Bunga bingung.
"Tuan... ada apa ini. Apa yang anda lakukan dengan ayah saya ?" Teriak Bunga pada 2 orang yang berdiri di samping Hendra dan Sari.
"Ayahmu hutang padaku 50 juta. Dia tidak bisa membayar malah datang lagi padaku untuk meminjam lagi. Saya kesini ingin menagih. "
Ucap Hermawan.
"50 juta ?" Batin Sari dan Bunga terkejut.
__ADS_1
"Pak.... Pak Hermawan... saya akan berusaha melunasi hutang-hutangnya. Tapi saya mohon berikan kami waktu." Ucap Sari yang berdiri dan memohon pada Hermawan.
"Hermawan ?"
"Dia pemilik kebun teh dimana aku dan ibu bekerja" Batin Bunga.
Hermawan berdiri dari tempat duduknya.
Dan melihat ke arah Bunga.
"Aku kemari menagih janji dari ayahmu gadis manis."
Ucap Hermawan mendekati Bunga dan menekan pipinya.
"Apa yang bapak maksud.. lepaskan....!"
Teriak Bunga dan menghempaskan keras tangan Hermawan.
Hermawan menahan amarahnya. Ia menghela nafas nya dan berjalan pelan melangkahkan kakinya hendak keluar. Namun terhenti di depan pintu.
"Jangan lupa janjimu Hendra. Aku akan memberi mu waktu 3 hari. Jika kau gagal melunasi utang mu. Anak gadismu yang akan melunasinya"
Bunga yang mematung mendengar ucapan Hermawan. Kemudian melihat ke arah Hendra.
"Ayah.... apa yang di katakan pak Hermawan. Apa maksudnya aku bisa melunasi nya. "
Ucap Bunga sembari menggoncang kan tubuh Hendra.
"Arghhhhhh.......anak sialan...."
Teriak Hendra dan mendorong tubuh Bunga keras hingga terjatuh.
"Mas........."
Sari teriak dan menopang tubuh Bunga.
"Jangan sakiti Bunga...Dia tidak tau apapun..."
Hendra berdiri dengan sekuat tenaga dengan nafas terengah-engah.
Ia melihat Bunga dan Sari yang duduk di lantai.
__ADS_1
"Kalian.... benar-benar tidak berguna. "
Teriak Hendra.
Hendra bingung dengan situasi nya yang dikejar Hermawan untuk membayar utang. Karena kesepakatan Hendra pada Hermawan jika dirinya tidak sanggup melunasi hutang. Maka Hendra bisa menyerahkan Bunga untuk Hermawan. Dan Hermawan berjanji akan menganggap hutangnya lunas. Bahkan Hermawan janji. Akan menambah uang 50 juta lagi, Jika ia menyerahkan anaknya.
"Aku pusing dengan semua ini. Sekarang kamu ikut aku..."
Hendra menarik paksa tangan Bunga.
"Ayah....lepaskan." Bunga terus meronta. Namun sulit melepaskan genggaman tangan ayahnya.
"Mas....apa yang kau lakukan." Teriak Sari.
Hendra kesal dengan Sari yang terus menahannya. Ia menghempas tubuhnya dengan keras. Dan membuatnya jatuh hingga kepalanya membentur kursi kayu. Dan ia tak sanggup untuk berdiri.
"Ibu..... " Teriak Bunga.
"Jika kau tidak menurut dengan ayah... Ayah bisa membuat ibumu menjadi lebih buruk dari ini. " Bisik Hendra.
Bunga yang ketakutan. Kemudian diam tak berani memberontak. Air matanya seketika menetes mewakili perasaan nya.
"Kau hanya menemani tuan Hermawan sebentar. Dan utang ayah akan lunas. Bahkan ayah bisa mendapat tambahan 50 juta lagi. Apakah kau tidak mau membantu ayah mu ini sayang. ? Jadilah anak yang patuh"
Ucap Hendra masih berbisik.
"Kau ayah yang jahat. Aku benci pada ayah...." Teriak Bunga.
Seketika Hendra langsung membungkam mulut Bunga dengan kedua tangannya dan menyeretnya keluar meninggalkan rumah.
Sari tak sanggup menahannya karena ia sudah tergeletak pingsan.
"Ibu... ibu...." Bunga terus berteriak dan terus melihat ke belakang.
Namun cengkraman Hendra yang kuat. Membuat Bunga tak sanggup menahannya.
Melewati jalan yang kanan dan kirinya kebun teh. Hendra menarik Bunga dengan cepat. Menuju tempat yang sudah di katakan Hermawan pada dirinya.
Malam itu Hendra seperti kehilangan kendali. Karena pikirannya sudah di selimuti uang dan uang. Tak peduli apapun. Rela membuat anak gadis satu-satunya menemui Hermawan. Dan entah apa yang akan dilakukan Hermawan pada Bunga.
TEMAN-TEMAN READERS DUKUNG NOVEL INI YA. SUPAYA AUTHOR SEMAKIN SEMANGAT BERKARYA MAKASIH.
__ADS_1