
Meski sempat berontak hebat ketika Bima menyatukan bibir mereka, beberapa saat kemudian, Seruni tersadar. Ia menggeleng keras, ia tidak boleh terlena hanya karena sebuah ciuman. Segera didorongnya Bima hingga lelaki itu hampir menghantam tembok.
Seruni mengelap kesal bibirnya. Bibir Bima sendiri rasanya masih menempel dan lembab jadinya. Bima mencoba meraih Seruni lagi, ia tahu ia telah kembali membuat perempuan itu terluka untuk kesekian kali meski Bima tak bermaksud melukainya. Sama sekali tidak. Sayangnya, Bima di mata Seruni sudah terlalu banyak minus!
"Hentikan perlakuanmu yang seperti itu, Bima! Apa tak puas dulu kau pernah menghancurkan aku juga dengan sentuhanmu?" tanya Seruni lemah, suaranya tak lagi meledak-ledak seperti sebelumnya, tapi tetap saja emosi masih membayangi.
"Seruni, sungguh aku tak bermaksud untuk membuat kau terluka. Aku sungguh merasa bersalah kepadamu. "
"Lupakan! Kau tak perlu merasa seperti itu karena semuanya sudah terlambat. Apa penyesalanmu bisa mengembalikan aku seperti dulu lagi? Bertahun-tahun aku kesakitan, bermimpi buruk karena kau! Dan kemunculanmu lagi di dalam hidupku hanya menambah deretan pilu itu! Bima ... Aku sudah meninggalkan penyesalan itu di balik bilik bambu, tempat dimana kau telah meninggalkan aku waktu itu. Sekarang, aku sudah bahagia dengan kehidupanku! Sekarang biarkan aku keluar dari ruangan ini, dan kau juga bisa pergi dari sini."
Seruni duduk lemas di ujung sofa sedang Bima hany menatap Seruni yang masih bersikukuh dengan kebenciannya, dengan pandangan mengiba. Entah mengapa, Bima rasanya tak sanggup membiarkan Seruni sendiri, bekerja di tempat seperti ini dengan banyaknya tangan nakal yang akan menjamah tubuh indahnya. Bima tak rela.
__ADS_1
"Seruni, aku tidak akan menyerah. Maafkan aku atas kesalahan sepuluh tahun yang lalu. Malam ini, aku tahu kau masih muak melihatku. Namun, sungguh, jika sesuatu terjadi kepadamu lagi, aku tidak akan pernah bisa tenang."
"Tenanglah, tuan Seno Ari Bimantara, lihat, selama sepuluh tahun aku berkelana sendirian, tanpa teman, dengan luka dan cacat di tubuhku karena kau, aku masih bisa melangkah walau terseok-seok. Seruni yang kau kenal malam itu sudah mati di balik bilik bambu. Seruni yang sekarang bukan yang dulu lagi."
Bima hanya mengangguk lesu. Ia sendiri bingung mengapa bisa begitu lemah menghadapi orang lain sekarang. Bima kemudian keluar room itu, disusul Seruni yang kemudian pergi ke bar. Diam-diam, Bima mengikutinya. Dilihatnya Seruni mulai berbaur, banyak sekali pemuda yang mendekati Seruni, mengajaknya berjoget di tengah kelab malam dan memberinya banyak saweran. Seruni terlihat seperti tak mengalami apapun dengannya barusan.
Hati Bima rasanya memanas, hati Bima rasanya bergetar hebat melihat Seruni bersama pria-pria itu. Namun, ia belum bisa melakukan apapun seba Seruni masih menutup akses bagi dirinya untuk dekat.
Tanpa sadar, tangan Bima terkepal. Ia menutup matanya sesaat, berusaha untuk menenangkan diri. Pada akhirnya Bima keluar dari kelab malam dengan anggukan hormat para penjaga yang sudah jelas mengenal siapa dirinya.
Bima tidak langsung pulang, dari dalam mobil dia mengawasi kapan Seruni akan keluar dan pulang dari bekerja. Hingga subuh hari menjelang, ketika orang berduyun-duyun keluar dari kelab malam, dilihatnya Seruni dengan rambutnya yang terurai indah, berjalan keluar.
__ADS_1
"Seruni ..." Bima mendesah tanpa sadar.
Teleponnya berdering, dari Atikah. Bima tak menggubrisnya, ia membiarkan tetap berdering tanpa berniat untuk mengangkatnya. Fokus perhatiannya tentu hanya Seruni yang sudah berjalan di pinggir jalan. Lalu ojek datang menghampiri Seruni, membawanya hingga ke mulut gang sempit tempat Seruni tinggal.
Bima mengikutinya sedari tadi, sekarang dia sudah tahu di mana Seruni tinggal. Ia menyunggingkan senyum sekilas, ia tahu perjuangannya untuk meredakan kebencian di hati Seruni masih begitu panjang.
Namun, Bima sendiri tak pernah paham untuk apa semua ini dilakukannya. Apa hanya untuk memperoleh maaf dari Seruni atau ada hal lain yang tiba-tiba saja terpatri dalam hatinya untuk Seruni.
"Seruni ... Aku tidak akan menyerah," desis Bima setelah ia memastikan Seruni telah masuk ke dalam kontrakannya.
Tidak akan menyerah untuk apa? Bima sendiri tak paham. Yang jelas dia memastikan malam ini bukan kali terakhir Seruni akan melihatnya. Bima keluar dari tembok tempat ia bersembunyi dan memperhatikan Seruni dalam diam barusan. Ia kembali melangkah ke mobilnya yang terparkir jauh dari mulut gang. Di otaknya berpendar-pendar bayangan Seruni. Tidak, bukan hanya di otak tapi sudah sampai ke dasar hati menjadikannya suka menguntit Seruni.
__ADS_1