
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, Bima tersentak lalu membuka matanya. Ia memandang sekeliling, dilihatnya sepi. Pintu kontrakan Seruni juga sudah terkunci. Seruni tak ada lagi di depannya. Apa ia tertidur? Ternyata benar saja. Ia tertidur dan sekarang tubuhnya sudah berselimut, kepalanya sudah disanggah bantal.
Seruni nampaknya sudah tidur. Perlahan, Bima membuka selimut yang menyelimuti dirinya lalu berjalan pelan menuju kamar Seruni, pintu kamar Seruni sudah roboh dan sekarang hanya sebuah tirai polos berwarna biru yang menjadi penutupnya. Bima menyibaknya. Dilihatnya, Seruni sedang meringkuk tanpa bantal.
Hati Bima berdesir, ingin rasanya ia memeluk Seruni, memberikan ketenangan juga jaminan rasa aman. Namun, setiap kali dia terkenang dengan kejahatan yang dulu dilakukannya kepada Seruni di masa lalu, hatinya tiba-tiba saja dihantam rasa bersalah juga memaksa memaki diri sendiri, betapa pecundangnya Bima muda waktu itu.
Bima kemudian menarik sesuatu di dalam saku celananya, sebuah kotak perhiasan kecil, di dalamnya ada liontin cantik yang pasti akan semakin membuat Seruni tampak memukau jika memakainya. Bima masuk perlahan, tak bermaksud apa-apa selain meletakkannya di atas nakas di samping ranjang Seruni berbaring.
Lalu Bima meletakkan bantal yang tadi menyanggah kepalanya di bawah kepala Seruni tak lupa untuk sekalian menyelimuti perempuan itu. Bima tergoda untuk duduk di tepi ranjang, menyibak sedikit anak rambut Seruni, dipandangnya Seruni lekat-lekat. Cantik, ayu, menggoda, gambaran wanita dewasa dambaan setiap lelaki yang memandangnya.
"Tidur yang nyenyak ya." Bima menyudahi keasyikannya memandangi Seruni yang sudah terlelap.
Kemudian, Bima keluar dari kontrakan itu setelah sebelumnya mengunci pintu dan menyelipkan kuncinya hingga masuk kembali ke dalam melalui celah di bawah pintu itu.
***
Subuh telah menyambangi Jakarta dan sekitarnya, Seruni baru saja terbangun, ia hendak menunaikan ritual menghadap sang pencipta. Namun, ia tertegun ketika mendapati tubuhnya telah berselimut, kepalanya telah beralaskan bantal. Lebih tertegun ketika melihat sesuatu yang berkilauan ditimpa cahaya lampu kamar dengan kotaknya yang sengaja dibuka.
"Bagus sekali," gumam Seruni tanpa sadar setelah ia meraih benda itu. Baru saja hendak memakainya, Seruni segera meletakkannya kembali. Ia tidak boleh terlena dengan semua hl yang berkaitan dengan Bima.
Seruni akhirnya menyimpan benda itu di dalam laci nakas. Lalu beringsut turun dan segera ke depan. Bima sudah tak ada lagi, kunci rumahnya pun sudah tergeletak tak jauh dari celah pintu. Seruni mengambilnya kemudian memasukkan kembali ke lubang kunci.
__ADS_1
Setelah itu, Seruni mulai bermesraan dengan Tuhan melalui ibadah subuh dalam balutan mukena putihnya. Wajahnya nampak bercahaya terkena air wudhu juga tertimpa sinar rembulan. Seruni memang sering membuka jendela kamarnya ketika sedang solat subuh.
Pagi harinya, ketika Seruni sudah memakai baju kerja, ia menemukan box makanan di depan pintu rumahnya, tergantung. Nampaknya itu bukan pengantar yang meletakkannya di sana, mungkin Bima yang sengaja mampir dan menggantungkannya di sana.
"Dari pak polisi, Seruni."
Seruni terlonjak kaget, menemukan tetangga kontrakannya di belakang.
"Iya, Mbak, Mbak sudah makan?" tanya Seruni.
"Belum, Tante."
Seorang bocah kecil yang menyahut. Seruni tersenyum.
"Jangan, Seruni, itu kan dari pak polisi buatmu."
"Tak apa, Mbak. Aku kebetulan tak jarang sarapan, kalau sarapan suka sakit perut ketika bekerja. Ambil lah."
Seruni memberikannya kepada bocah kecil yang menerimanya dengan senang hati. Lalu Seruni melangkah lagi menuju ujung gang. Dia segera menyetop seorang ojek untuk mengantarkannya ke tempat bekerja.
Sesampainya di sana, ia mulai melihat apa yang bisa dikerjakannya. Hari ini ada jadwal meeting dan ia akan menyusun berkas yang akan dibawa nanti bersama Angga. Seruni cekatan dalam bekerja, dia juga luwes dan tak banyak bicara.
__ADS_1
Angga semakin suka dibuatnya. Lelaki itu sering memandanginya dari kejauhan dengan tatapan memuja. Namun, siang itu, makanan darinya untuk Seruni tak tersentuh, sebab ada seorang pengantar makanan yang mengantarkan makanan untuk Seruni.
"Aku makan di kantin saja, bersama staff yang lain ya."
Angga tak bisa menahannya sebab Seruni bergegas keluar dengan makanan yang baru saja diantar oleh kurir untuknya. Seruni pun sempat terkejut saat tahu Bima ternyata telah mengetahui bahwa dia bekerja di perusahaan Angga sekarang, tapi kenapa lelaki itu tak membahasnya semalam?
Kau sudah makan kan?
Sebuah pesan dari Bima. Awalnya, Seruni tak mau membalas tapi kemudian dia memotret makanan yang sudah setengah itu lalu mengirimkannya kepada Bima.
Kapan bisa ajukan libur bekerja?
Seruni mengerutkan dahi. Bima aneh! Masa baru bekerja sudah mau ajukan cuti?
Lama lagi.
Seruni membalas singkat.
Carilah waktu dan minta libur kepada atasanmu.
Kau ini kenapa? Seruni bertanya dengan sebal di pesan yang baru saja ia kirimkan.
__ADS_1
Aku ingin membawamu ke desa kita. Aku akan melamar kau di sana.
Hampir tersedak Seruni jadinya. Dia tak lagi membalas pesan itu dan memilih untuk mematikan data ponselnya.