
Kehidupan rumah tangga yang bahagia memang sedang dijalani oleh Seruni juga Bima. Mereka akan berada di desa kurang lebih dua minggu setelah nantinya akan kembali lagi ke Jakarta. Beberapa kali Bima dan Seruni mengunjungi kedua orang tua Bima, tetapi yang menyambut hanyalah tuan Tono. Nyonya besar itu sama sekali tidak mau bertemu Bima maupun Seruni.
"Maafkan ibuku, semoga hatinya segera terbuka." Bima mendesah dengan nafasnya yang berat. Dia heran, kenapa ibunya begitu keras kepala dan tetap tidak mau menerima Seruni padahal mereka sudah sah sebagai suami istri.
Apalagi Seruni setiap kali datang, tak pernah tak membawa apapun. Seruni selalu membawa buah-buahan atau memasakkan sesuatu untuk keluarga besar itu setiap ia berkunjung. Namun, Seruni tak pernah ambil hati, dia tetap berkeyakinan suatu saat, ibu mertuanya pasti bisa menerimanya yang telah berusaha itu.
"Tak apa, aku mengerti. Biarkan saja mengalir dengan aku yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati ibumu. Kalau bukan sekarang, aku yakin kelak pasti ibumu bisa menerima kehadiranku."
Bima mengangguk, dia bersyukur Seruni bisa memahami keadaannya yang serba sulit sekarang ini. Dia hanya berharap agar Seruni bisa terus melapangkan hati setiap menerima perlakuan acuh tak acuh dari ibunya itu.
"Suamiku, sesekali, coba pergilah mencari Laras. Aku sudah sangat lama tak melihatnya. Pernah minggu yang lalu bertemu di toko buah koh Asun, dia pucat sekali."
"Biar saja, Sayang. Aku sudah begitu malas dan muak mendengar atau melihat wajahnya. Kurang ajar anak itu!"
Bima selalu terpancing emosi setiap kali ia teringat perbuatan hina Laras dulu kepada Seruni. Namun, entah mengapa firasat Seruni tentang Laras justru tak enak sekarang. Wajahnya yang pucat membuat Seruni jadi khawatir. Kemarin sempat ingin menyapa, tetapi Laras selalu membuang wajahnya dan menghindar.
Jadi maksud Seruni, biarlah Bima yang menegur adiknya itu duluan. Namun, Bima pun tetap bersikukuh tidak akan melakukan hal itu, dia sudah terlanjur kecewa dengan Laras. Apalagi mendengar Laras pernah main serong dengan Tobi, ada rasa jijik terhadap adiknya sendiri. Sungguh hina, mengatai Seruni dulu sebagai pelacuur, sendirinya binal bagai kuda liar.
__ADS_1
"Aku malu dengan kelakuannya, dia perempuan, anak orang terpandang dan terhormat di desa ini, tetapi sifatnya tak mencerminkan gadis yang terhormat. Diam-diam liar tak terkendali."
"Tapi bagaimanapun, dia adalah adik kandungmu. Aku tahu, kau kecewa, aku juga sempat kecewa dengan apa yang sudah dilakukannya dahulu, tapi kalau bukan kita siapa lagi yang mau memperhatikannya, Sayang?"
Bima masih dian membeku, dia tak mau meneruskan perbincangan mengenai Laras. Gadis tak bisa diatur itu membuat Bima muak.
Sementara itu, di kediaman orangtua Bima sekarang, nyonya Tono tak sengaja melihat pintu kamar Laras terbuka sedikit, biasanya, puterinya itu akan selalu mengunci pintu ketika ia tak berada di rumah. Semalam, anak gadisnya itu pulang, tapi lalu pergi lagi dan baru kembali sudah larut malam. Ketika paginya saat nyonya Tono baru saja bangun, puterinya itu sudah pergi dengan mobil miliknya. Tak berkata mau kemana.
Jadi, dengan perlahan, perempuan paruh baya itu membuka pintu kamar Laras. Tak ada yang aneh, hanya saja lemari nakasnya terbuka juga sedikit. Langkah nyonya Tono semakin dekat dengan nakas, bermaksud untuk menutupnya tetapi matanya menangkap sesuatu.
Sebuah benda pipih berwarna putih. Refleks, ia mengambilnya. Tangannya bergetar hebat ketika melihat kenyataan di depannya, melalui benda pipih itu, dia seolah melihat Laras. Dua buah garis berwarna merah gelap cukup menjadi bukti bahwa anak gadisnya sudah tak suci lagi.
Nyonya Tono terdengar berseru kemudian merintih. Ia menekan dadanya, benda itu terjatuh begitu saja. Tepat saat itu Titin masuk ke dalam, segera menahan tubuh sang nyonya yang sudah lemas dan lunglai tapi masih sadar sepenuhnya.
"Ya Allah, Nya, ada apa ini, Nya?" Titin berseru dengan panik, memanggil dua pembantu yang lain yang segera datang dan membantu membawa nyonya besar itu ke bawah. .
"Tuan!" Mbok Sum segera berlari ke arah samping, padahal sekarang, tuan Tono tengah menerima tamu, membicarakan perihal bisnis mereka di lahan perkebunan. "Nyonya, jantungnya kumat, Tuan!"
__ADS_1
Segera berlari tuan Tono, meninggalkan sementara tamunya. Ia menemukan istrinya sudah lunglai tetapi masih sadar. Badan istrinya memang tampak lemas.
"Kenapa, Bu? Kita ke klinik saja."
Baru saja tuan Tono hendak membawa istrinya, tespack itu terjatuh begitu saja dari genggaman nyonya besar itu. Tuan Tono memungutnya, ia tak cukup bodoh dan tak betul benda apa itu.
"Punya siapa ini?!" tanya tuan Tono murka.
Nyonya Tono menggeleng kemudian menangis.
"Laras, Pak. Laras hamil."
"Kurang ajar!" Tuan Tono menghempaskan benda itu bertepatan dengan Laras yang baru saja pulang dan terpaku di depan pintu. "Anak tak tahu malu!"
Tuan Tono mendekati Laras yang sudah pucat pasi, lalu tamparan keras mendarat di pipi puterinya itu kiri dan kanan. Nyonya Tono hanya diam menyaksikan, dia tidak mau membela Laras.
"Memalukan!"
__ADS_1
"Lari kau dari sini!" Nyonya Tono menunjuk keluar. Ia mengusir Laras yang sudah tak ada daya lagi untuk membela diri.