Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Pulang Tanpa Pesan


__ADS_3

Perdebatan antara Bima dan ibunya akhirnya mengantarkan Bima ke rumah Seruni lagi. Sayang, ketika dia mengetuk pinta dan pintu sudah terbuka, yang keluar bukanlah Seruni tetapi seorang perempuan muda yang baru kali ini dilihat oleh Bima.


"Maaf, cari siapa ya, Bang?" tanya perempuan itu dengan pandangan heran.


"Saya cari yang punya rumah ini."


"Saya yang punya rumah ini, Bang. Oh, mungkin Abang mencari mbak Seruni?" tebak perempuan itu.


Bima segera mengangguk, tentu saja Seruni yang dicarinya.


"Maaf, Bang, mbak Seruni sudah menjual rumah ini kepada


saya. Mba Seruni sudah kembali ke Jakarta.


Bima tertegun sesaat. Ia sungguh baru tahu jika Seruni sudah kembali lagi ke Jakarta. Tanpa pesan kepadanya? Bima jadi mengutuk dirinya sendiri, memangnya dia siapanya Seruni sampai perempuan itu harus mengabarkan kepulangannya kepada dirinya? Lupakah pada kebencian Seruni kepadanya selama ini?


Hati Bima rasanya jadi nelangsa ditinggalkan begitu saja oleh Seruni tanpa pesan. Sungguh ia begitu bergantung kepada gadis itu sekarang, sehari saja tak melihat Seruni, rasanya merana sekali. Bima tak mengerti, dulu kepada Atikah dia tak pernah merasa perasaan semacam ini. Ini jelas bukan hanya tentang rasa bersalah yang sudah menggunung, tetapi memang murni ada rasa lain yang muncul sekarang ke permukaan.


Bima naik lagi ke motornya, mengelilingi desa dengan pandangan memuja para gadis yang melihatnya. Tatapan Bima kemudian berhenti ke rumah tak berpenghuni itu, di mana tragedi pernah terjadi kepada Seruni karena ulahnya.

__ADS_1


Bima berjalan menuju ke rumah lain, berselang beberapa tembok dari rumah yang sudah kosong itu.


"Nak Bima?" tanya pria tua yang baru saja membuka pintu.


"Ya, Pak, saya ingin bertanya tentang rumah itu." Bima menunjuk rumah tak jauh dari gapura dengan bilik bambu yang telah menyisakan penyesalan di dalamnya.


"Oh, itu rumah memang sudah lama kosong, Nak. Sudah hampir dua puluh tahun ditinggalkan pemiliknya."


"Boleh saya tahu siapa empunya, Pak?"


"Orangnya sudah lama pindah ke Bandung, Nak Bima. Mereka punya usaha rumah makan di sana."


"Ya, saya dengar begitu. Cuma sampai sekarang belum ada yang mau membelinya."


"Mungkin Bapak bisa memberi tahu saya nama rumah makan pemilik itu di Bandung sana?"


Pria tua itu tampak mengenang. "Sebentar, saya tanya istri. Sebab istri saya nampaknya lebih banyak tahu tentang sejarah rumah itu."


Bima mengangguk dan tersenyum singkat. Ia sangat berharap bisa membeli rumah itu. Dia akan merombak habis bangunannya dan akan mempersembahkannya kepada Seruni, juga akan melamar Seruni secepatnya. Biarlah Seruni masih benci kepadanya tetapi dia hanya ingin menebus semua rasa bersalah sebagai bentuk penyesalan juga rasa cinta yang sekarang sudah mulai disadarinya untuk Seruni.

__ADS_1


"Nak Bima, nanti cobalah pergi ke alamat ini. Ini adik yang punya rumah itu. Kata istri saya, dia yang mengurus rumah itu semenjak kakaknya sudah pergi ke Bandung."


"Terimakasih, Pak, saya sangat terbantu."


Bima kemudian melangkah keluar setelah berpamitan. Di jalan tak sengaja dia melihat mobil kekasih Laras berhenti di pinggir jalan yang sepi. Mobil itu sedikit bergoyang. Pikiran Bima mulai tak tenang. Ia segera menepikan motornya lalu turun dan mengetuk kaca mobil yang gelap itu.


"Bang! Kenapa di sini sih? Mengagetkan orang saja!" Laras berdecak sebal tetapi pandangan Bima malah tertuju pada lelaki berseragam PNS yang masih di dalam mobil.


"Turun!" Bima mengetuk kaca mobil. Akhirnya pacar Laras yang bernama Bayu turun dari mobil seraya membetulkan seragamnya.


"Bang Bima, tadi kita lagi bersantai di dalam."


"Apa tak ada tempat yang lebih layak untuk bersantai?" tanya Bima dengan pandangan menyelidik sementara Laras sudah begitu jengah dengan interogasi yang dilakukan oleh abangnya.


"Sudahlah, Bang, ini juga Bayu sudah mau antar aku pulang, Yuk, Bay," ajak Laras kepada Bayu yang segera mengangguk. Sebagai lelaki brengsek di masa lalu, Bima tentu paham dengan apa yang terjadi barusan.


"Bay, kalau kau serius dengan adikku, nikahi dia secepatnya."


Bayu nampak tersentak, tapi dia hanya mengangguk pelan, kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana. Bima juga naik ke atas motornya. Ia juga akan segera pulang ke rumah. Besok dia akan segera kembali ke Jakarta setelah menemui pengurus rumah tak berpenghuni itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Bima masih mendapati pandangan tak suka dari ibunya. Saat ini, bukan waktunya dia berdebat panjang lebar dengan ibunya itu. Selain karena tidak mau mengulang kata-kata yang sama, ia juga tidak mau ibunya sampai syok lagi dan berakhir ke rumah sakit karena serangan jantung. Bima hanya ingin bertanggungjawab dan meluluhkan hati Seruni. Ia hanya ingin Seruni. Sungguh, tak bermaksud mempermainkan Atikah selama ini. Ia juga bersiap dengan semua resiko, mungkin akan dibenci mati-matian oleh Atikah dan keluarganya setelah ini.


__ADS_2