Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Hargai Saja Prosesnya


__ADS_3

Hargai Setiap Proses


Danau tenang itu sebenarnya tak setenang hati Seruni saat ini. Ia sebenarnya sedang kecewa pada nasib juga keadaan. Sudah bertahun-tahun mengalah pada takdir dan nasib, hidup miskin, dihina, dicaci maki, seperti sudah jadi makanan sehari-hari.


Sempat sial dalam hubungan percintaan karena ditinggal begitu saja setelah melepas keperawanan. Namun, seseorang yang pernah melakukan itu kini telah kembali dan berjanji untuk memperbaiki segalanya.


Setelah ia berhasil memaafkan Bima setelah melalui berbagai pertentangan batin juga egoisme untuk tetap bertahan dengan luka, badai kembali menerjangnya tanpa ampun. Keluarga besar Seno Ari Bimantara itu tak menyetujui hubungan mereka.


"Sayang ..."


Seruni menoleh, melihat Bima dengan dua buah eskrim lengkap dengan sendok kecil. Ia memberikannya satu kepada Seruni. Bukan eskrim itu yang membuat Seruni tersenyum kali ini, tetapi panggilan 'Sayang' dari Bima yang begitu menggelitik nuraninya. Hatinya tersentuh, sang abdi negara yang pernah mengecewakan dan mencampakkannya begitu saja, nampak begitu tulus untuk memulai segalanya dengan niat yang begitu baik, menikahinya.


"Terima kasih, Bim." Seruni menerima itu lalu membiarkan Bima duduk di sampingnya.


Mereka menikmati eskrim itu, terkadang jadi saling lirik satu sama lain.


"Aku sering tergelitik setiap kali mendengar kau memanggilku Sayang."


Bima menoleh, ia tertawa kecil.


"Memangnya tak boleh aku memanggil begitu kepada wanita yang aku cintai?" tanya Bima menyejukkan.


Seruni mengulas senyum lebih lebar. Tentu saja, dia juga suka mendengarnya. Namun, apakah akan selamanya kata sayang itu meluncur dari Bima sementara restu belum juga mereka kantongi. Bukan tak mungkin, suatu saat Bima akan memilih keluarganya dan Seruni tidak ingin menahan lelaki itu agar tetap di sisinya. Bina seorang yang berpangkat, dia dihormati semua orang. Sang abdi negara itu rasanya tak pantas dibenci hanya karena memilih dirinya.


"Bim, besok kau kembalilah dahulu. Aku menyusul beberapa hari lagi."


"Kenapa tak pulang bersama saja?" tanya Bima tak rela. Bahkan sehari tak melihat Seruni rasanya tak bisa, tak mampu.


"Aku masih rindu pada mak Ute dan teman-teman di warung remang-remang itu. Lagipula, beberapa hari lagi aku juga mau nyekar di makam ibu dan bapakku."

__ADS_1


Meski nampak tak rela, akhirnya Bima mengangguk juga. Dia memang harus segera kembali ke kantor. Ada banyak berkas dan kasus yang harus dia tangani.


"Baiklah," kata Bima singkat.


Seruni tersenyum melihat lelaki itu. Kemana kebencian itu? Seruni tak lagi menemukannya. Ia bahkan betulan sudah jatuh hati pula kepada Bima. Cinta memang sudah bertaut, sayangnya jalan yang masih berliku nan panjang.


Saat sedang menikmati semilir angin, telepon Bima berbunyi. Lelaki itu nampak mengeluarkannya dari saku celana. Sekilas, Seruni melihatnya.


"Angkat saja, Bim."


"Ini telepon dari Atikah. Biarkan saja, Seruni. Aku tak lagi ada urusan dengannya."


"Kau memang tak ada lagi urusan dengannya, tapi dia belum selesai dengan masa lalunya."


Kata-kata Seruni menghentikan gerakan Bima untuk menyimpan kembali benda itu ke dalam saku celana. Ia menatap Seruni bingung, ia tak ingin Seruni salah paham.


"Tak apa. Angkat saja."


"Aku hamil, Bim!"


"Aku sudah mendengar berita bohong itu, Tika."


"Bohong katamu?"


"Ya, sebab aku tak pernah menidurimu."


Atikah diam sesaat.


"Tapi aku hamil! Kalau bukan kau, siapa lagi? Kau tak ingat, kita pernah tertidur ketika acara temanmu malam itu?"

__ADS_1


Ingatan Bima kembali. Ya, dia memang pernah tertidur satu ranjang dengan Atikah beberapa bulan yang lalu karena sempat pula menenggak minuman luar negeri yang mengandung alkohol. Tapi Bima ingat betul, dia tak meniduri Atikah, kendati paginya, perempuan itu memang tidur di sebelahnya.


Bima melirik Seruni, yang masih nampak tenang seolah tak terganggu dengan pembicaraan sensitif yang dibuat oleh Atikah.


"Aku tak pernah melakukan apapun, Tika. Kalau ini adalah usahamu untuk menahanku, sepertinya kau salah."


"Semua orang tahu kau adalah kekasihku waktu itu. Beberapa temanmu juga pernah melihat kita keluar dari kamar hotel itu! Kau bisa kehilangan jabatanmu jika aku membawa masalah ini ke ranah hukum!"


"Kau bisa saja mengancamku, tapi menuduh tanpa bukti juga bisa menjeratmu ke penjara, Tika. Apalagi jika nanti anak itu lahir dan dilakukan test DNA. Aku tidak pernah melakukannya."


Diam sesaat. Lalu beberapa detik kemudian, telepon itu terputus.


"Kenapa dia bisa begitu yakin aku telah menghamilinya?" tanya Bima kesal.


"Tapi benar kan kau tak melakukannya?" tanya Seruni kemudian.


Bima memegang bahu Seruni, menghadapkan wajah perempuan itu ke wajahnya sendiri.


"Aku tidak pernah meniduri perempuan lain selain seorang gadis berusia tujuh belas tahun sepuluh tahun yang lalu. Bayanganmu lah yang menahanku setiap kali akan berbuat hal itu kepada perempuan lain, Seruni."


Seruni menarik nafasnya panjang. Ia pun tidak bisa berkata apapun lagi. Juga tak mau menuduh Bima yang macam-macam. Dia ingin percaya bahwa Bima tak akan tega membohonginya lagi.


"Percaya kepadaku." Bima meremas pelan bahu Seruni.


Seruni akhirnya mengangguk .


Setelah itu, keduanya beranjak, berjalan santai mengelilingi danau dan taman di sekitarnya. Beberapa orang yang kebetulan lewat menyapa mereka. Setelah ini, pasti gosip akan menyebar lagi dan kembali sampai di telinga ibu Bima dan keluarganya, tentang mereka hari ini.


"Seruni, jika dalam waktu satu bulan ini tak juga ada restu dariku, maka aku akan menikahimu, apapun resikonya," kata Bima tepat ketika hembusan angin terasa kencang dan dingin.

__ADS_1


"Ya, Bima ... Kita hargai saja setiap prosesnya dahulu."


Bima mengangguk. Niatnya sudah begitu bulat ingin mempersunting belahan jiwanya itu.


__ADS_2