
Seruni datang kembali, membawa secangkir teh hangat juga pisang goreng mentega yang tadi dibuatnya untuk Bima. Sekarang, Bima memang sedang tak di rumah. Lelaki itu katanya ada urusan sebentar di luar.
"Mana abangku?" tanya Laras, nada suaranya tak lagi ketus seperti tadi tetapi masih terdengar dingin.
"Mas Bima sedang keluar, Ras. Mau aku telepon?"
Laras buru-buru menggeleng. Sampai hari ini, dia yakin Bima belum tahu tentang apa yang sedang menimpanya sekarang. Seruni pun tak bertanya banyak hal.
Namun, Seruni melihat Laras agak lain. Dia seperti sedang menahan perutnya. Terlihat sedikit sesak. Seruni tak mau berpikir macam-macam. Namun, melihat kondisi Laras yang berjalan sendirian dengan jejak airmata di wajahnya, nampaknya memang sudah ada yang terjadi.
"Aku siapkan kamar buatmu," kata Seruni.
Lagi-lagi, Laras hanya diam. Dia tidak tahu lagi harus kemana, juga berharap, Bima tak akan pernah tahu hal ini sebelum Bayu mau bertanggungjawab. Laras yakin betul, Bayu lah ayah dari bayi yang dikandungnya.
Beberapa saat kemudian, Seruni datang lagi.
"Aku sudah menyiapkan kamarmu. Beristirahatlah. Kalau mau mandi, di dalamnya juga sudah ada kamar mandi. Aku juga sudah menyiapkan beberapa potong baju yang bisa kau gunakan selama kau di sini."
Laras diam, tetapi dia mengangguk. Ia segera menuju kamar yang tadi Seruni tunjuk. Setelah masuk, dia terduduk lemas di tepi ranjang. Airmatanya mengalir begitu saja. Laras segera menghapus airmatanya itu, dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Seruni sendiri sekarang sedang menyiapkan nasi beserta lauk pauknya, menaruhnya di atas nampan lalu mengantarnya ke dalam kamar yang ditempati Laras. Seruni hampir saja berbalik setelah ia meletakkan nampan berisi makanan itu, tapi ia menghentikan langkahnya sejenak, tertegun melihat korset yang tergeletak begitu saja di atas ranjang.
Pikiran Seruni mulai bercabang-cabang. Dia tak berharap, semua hal dalam pikirannya betulan. Mungkin, Laras sengaja memakai benda itu, atau memang sengaja memakainya untuk menutupi sesuatu.
Ia tersentak kaget saat Laras keluar dari kamar mandi. Laras pun sama kagetnya dan Seruni melihatnya, dalam balutan handuk itu, perut Laras memang tampak membuncit.
"Ehmmmm ... Aku sudah menyiapkan makan untukmu, kalau kau perlu sesuatu, kau bisa memanggilku."
Seruni berusaha tenang dan berbalik tapi Laras memanggil namanya sebelum dia sempat meraih gagang pintu dan keluar.
"Seruni."
__ADS_1
Seruni berbalik. "Ya."
"Kau tentu sudah bisa menebaknya. Aku hamil."
Seruni tenang, dia mengangguk pelan.
"Tolong, jangan beri tahu abang."
"...."
"Kau bisa kan merahasiakannya?" pinta Laras dengan sangat.
"Aku ..."
"Apa yang mesti dirahasiakan?!"
Laras dan Seruni sama-sama tersentak kaget. Laras mundur ketika melihat Bima datang dengan wajah marah.
Bima hampir menampar wajah Laras, tetapi Seruni menahannya. Ia menggeleng.
"Jangan, Bim. Kekerasan tidak akan menyelesaikan apapun."
"Seruni, lihatlah. Aku hampir kehabisan sabar menghadapi tingkahnya! Memalukan! Kau lebih rendah dari pelaccur!"
"Bim!" Seruni menggeleng. Ia tak ingin Bima menambah runtuhnya pertahanan Laras yang sudah meringkuk ketakutan.
"Aku ini seorang polisi, Ras! Ayah, ibu, mereka bukan orang biasa di desa ini! Kau malah membuat malu keluargamu!"
"Maafkan aku, Bang."
Laras tersedu sedan, Seruni mendekatinya, menenangkan Laras yang hanya bisa menunduk, bahkan tak berani ia menatap Bima. Laras berlindung dengan Seruni, tak tahu apa jadinya jika tak ada Seruni. Mungkin sudah memar seluruh badannya.
__ADS_1
"Siapa ayah anak itu?! Bayu atau Tobi?!" desak Bima.
"Tobi?" Seruni bergumam.
"Ya, dia ini tak cuma tidur dengan Bayu! Dengan Tobi juga!" hardik Bima dengan suaranya yang keras.
"Bayu, Bang. Bayu!"
Dengan yakin, Laras menjawab. Bima mendekati Laras, dia menatap adiknya lekat.
"Tunggu kau di sini!"
Bima bergegas pergi, ia menuju rumah Tobi juga Bayu. Sempat terjadi perdebatan dan perkelahian di antara Tobi dan dirinya tetapi Tobi bersikeras bahwa Laras hanya tidur beberapa kali dengannya dan dia meyakinkan Bima bahwa dia tidak pernah membanjiri rahim Laras dengan benihnya.
Ketika menuju ke rumah Bayu, Bima menggedor tak sabar tapi tak ada jawaban, bahkan rumah itu nampak gelap.
"Mas Bima, Bayu tadi buru-buru, katanya mesti pergi keluar kota," kata seorang tetangga yang kebetulan baru pulang dari berkebun dan sempat melihat Bayu pergi.
Bima mengepalkan tangannya, kembali ke rumahnya dengan tangan hampa. Dilihatnya Seruni buru-buru sekali, menyentak motor matic.
"Mau kemana?" seru Bima sembari keluar dari mobil.
"Laras pergi entah kemana, Mas. Aku akan mencarinya."
Bima bergegas mengambil alih motor itu, bersama Seruni ia menjelajahi desa, mencari keberadaan Laras. Seruni memekik saat melihat sesuatu tak jauh dari semak-semak.
"Itu Laras, Mas. Ya Allah, dia sepertinya baru saja tertabrak."
Tidak betul, Laras bukannya tertabrak. Seseorang sudah menikamnya dengan gunting yang Laras bawa untuk mencari Bayu. Tapi kata tetangga, Bayu sudah pergi. Bima meraih ponsel Laras, terlihat pesan bahwa Bayu sempat mengajak bertemu dan mungkin Laras membawa gunting itu untuk berjaga-jaga jika Bayu tak mau bertanggungjawab juga. Namun, sepertinya Bayu lebih gelap mata dan merebut benda itu lalu menikamnya tanpa ampun.
Laras segera dilarikan ke klinik terdekat untuk penanganan pertama. Kedua orangtuanya dikabari, dan mereka bergegas menuju tempat itu segera. Seruni berusaha menenangkan Bima yang hanya bisa memeluknya. Sungguh berat cobaan keluarga terhormat itu.
__ADS_1