
Seruni hanya bisa menggelengkan kepala dengan tawa kecil seolah tak habis pikir jika sekelebat ingatan tentang mobil yang bergoyang kemarin, lewat lagi di alam pikirannya. Selama ini, begitu culas mulut Laras ketika menghina dan menyebutnya kotor.
Sembari memetik kangkung, setelah Seruni selesai mandi dari pemakaman tadi, ia jadi kepikiran. Mengapa Laras bisa begitu mudah menghina dirinya, menyebutnya pelac*r dan sebutan kotor yang lain sementara dirinya sendiri menistakan tubuhnya hanya karena cinta kepada kekasihnya sendiri?
"Kenapa kau, Run, nampak kali banyak yang kau pikirkan."
"Ah, tak ada, Mak." Seruni berkilah sembari fokus lagi memetik kangkung. Siang ini mereka akan memanggang banyak ayam juga ikan.
Mereka sudah terbiasa makan bersama, masak bersama, bahkan sering ke kali di belakang bersama pula. Seringnya juga para pelac*r mak Ute diintip oleh anak-anak muda yang kebetulan sedang memancing ikan.
"Malam ini pasti ramai." Salah satu perempuan malam yang tengah asik mengulek sambal berseru riang.
Celoteh- celoteh itu membuat Seruni tersenyum lepas. Suasana di warung remang-remang itu tak pernah sepi. Tak ada pula para pekerja mak Ute yang sering bertengkar. Mereka semua akrab satu sama lain. Sudah seperti keluarga saja.
"Run, nanti kalau lepas kau membantu Ina menyiapkan meja dan kursi, lebih baik jangan sering keluar kamarmu. Aku risih setiap kali ada yang menawari kau." Mak Ute menatap Seruni penuh proteksi.
"Ya, Mak, tak ada Bima. Tak ada pula yang musti aku temui di depan."
Mak Ute mengangguk. Memang, lelaki yang datang dan melihat Seruni kerap kali ingin menawar Seruni dengan harga yang tinggi. Mak Ute tentu akan jadi orang pertama yang memaki para lelaki itu.
__ADS_1
Saat malam hari tepat pukul sebelas ketika Seruni baru saja menyudahi panggilan video dari Bima, keluar dari kamar. Ia haus, bermaksud mau minum. Dan jika ingin ke dapur, memang harus melewati pembatas ruangan yang menghubungkan langsung dengan warung remang-remang.
Suara musik sudah menghentak, para perempuan bertubuh sintal berbadan seksi sedang menemani para lelaki bergoyang baik di meja atau di panggung.
Namun, mata Seruni menangkap satu wajah yang cukup dikenalnya. Lelaki itu, baru kemarin ia lihat bersama Laras dalam mobil yang bergoyang-goyang.
Seruni diam sesaat, memastikan pandangannya tak salah. Ia melihat dengan jelas, bagaimana lelaki bernama Bayu itu menggelayut manja dada seorang pekerja mak Ute.
"Kasihan kau, Ras."
Seruni mendesah pelan, melihat pemandangan itu. Ia akhirnya pergi ke belakang, memuaskan dahaga dengan meneguk habis air minum yang baru ia tuang ke dalam gelas.
Lalu Seruni pergi kembali ke kamarnya, matanya sudah mengantuk. Beberapa panggilan dari Angga dia abaikan. Lelaki itu tak juga jera, masih berusaha meraih Seruni dengan berbagai cara.
"Ehmmmm, semalam pelangganmu tak ganti-ganti, Sar." Seruni mencoba membuka obrolan kepada gadis cantik dan genit itu.
"Ah, iya, kau melihatku ya semalam?" tanyanya dengan tawa.
Seruni mengangguk.
__ADS_1
"Kalau sudah ada mas Bayu, aku memang tak bisa melayani lelaki lain lagi, Run. Mas Bayu itu sudah jadi tamu setiaku sejak lama."
Seruni mengangguk-angguk. Ia baru kali ini melihat Bayu ke warung remang-remang itu. Entah karena selama ini berada di Jakarta jadi ia tak tahu.
"Dia banyak duit, Run, mau minta digoyang sampai pagi pun aku ladeni."
Seruni mengusap tengkuknya gusar, geli ia mendengarnya. Ia juga iba pada Laras. Mau sampai kapan, perempuan itu dibodohi dan dibohongi kekasihnya yang ternyata suka jajan di luar itu.
"Ya sudah, aku mandi duluan ya."
Seruni masuk ke dalam kamar mandi. Ia bingung, harus menyampaikan ini kepada Bima atau tidak. Ia tahu persis, Bima sangat sayang kepada adiknya, Laras, meskipun saat ini mereka telah merenggang.
"Mungkin, aku harus memberi tahu Bima agar bisa memperingatkan adiknya. Bayu tak baik, kasihan Laras," bisik Seruni dalam hatinya sendiri.
Namun, ketika Seruni pergi ke kantor kelurahan untuk mengurus sesuatu, pas pula saat itu ia bertemu dengan Laras, perempuan itu memandangnya dengan kesal. Namun, wajah Laras begitu pucat.
"Masih di sini kau rupanya!" dengus Laras sebal.
"Ya, aku masih ada urusan di desa ini," sahut Seruni mencoba ramah.
__ADS_1
Laras melengos, lalu pergi begitu saja dari hadapan Seruni. Seruni menggeleng perlahan saat ia melihat Laras menghampiri kekasihnya dengan manja dekat kantin kantor lurah. Seruni kembali meneruskan kepentingannya di sana dan mengabaikan sikap Laras barusan.
"Semoga saja, dia menikahimu," bisik Seruni pelan sembari melirik Laras yang sedang bermanja dengan kekasih durjananya.