
Lalu, setelah masa tiga bulan penantian, akhirnya Seruni merasa sesuatu bergejolak di pagi hari. Ia sampai mengabaikan beberapa panggilan dari customer yang menanyakan kenapa butiknya tidak buka kemarin. Seruni merasa mual, wajahnya juga pucat pasi. Bima yang baru terbangun mendekati istrinya, menepuk-nepuk pelan tengkuk Seruni yang tengah mengeluarkan isi perutnya di wastafel.
"Semenjak kapan sudah muntah-muntah begini, Sayang?" tanya Bima khawatir.
"Sejak kemarin, Mas. Aku sampai tidak buka butik," jawab Seruni pelan.
"Sayang, kau sudah test kehamilan?" tanya Bima.
Seruni mengangkat wajahnya, dia menggeleng.
"Sepertinya kau sedang hamil, dulu mbak Inka juga begini sewaktu sedang hamil."
"Aku lupa membelinya, Mas, karena sempat skeptis akan cepat hamil."
"Baiklah, Sayang. Tunggu di sini ya, Mas ke apotek sebentar."
Seruni mengangguk. Ia duduk di tepi ranjang. Melihat beberapa roti cokelat kesukaannya yang berada di dalam ranjang di atas nakas, ia malah tidak berselera sama sekali. Seruni mengusap perutnya, ia tersenyum kecil. Kalau betulan sudah ada benih Bima di rahimnya, mereka pasti akan sangat bahagia. Mereka sudah menantikannya selama tiga bulan ini.
Seruni harap-harap cemas sekarang, menanti kedatanga Bima dengan alat pipih yang akan membuktikan apa sudah ada benih di rahimnya.
Kemarin malam sempat berteleponan dengan Laras dan nampaknya Seruni akan membuka cabang toko bajunya di depan rumahnya dan Bima yang ada di desa. Halaman rumah itu luas, jadi bisa dibangun sebagian untuk toko baju dan Seruni akan mempercayakan Laras untuk mengelola toko bajunya di sana. Selama Seruni tak ada di rumahnya dan Bima di kampung, Laras lah yang menempati. Ia menyambut antusias rencana Seruni itu.
Beberapa menit kemudian, suara mobil Bima kembali terdengar. Suaminya masuk dengan setengah berlari. Dia pun tak sabar ingin melihat hasil test.
__ADS_1
"Sayang, cobalah sekarang," serunya kepada Seruni dengan mata penuh harap.
Seruni segera masuk ke dalam kamar mandi, ia mulai menampung urin. Ia berharap hasilnya memang sesuai keinginannya dan Bima. Setelah mencelup benda itu sesuai batas maksimal, akhirnya Seruni keluar dengan memeluk benda itu.
"Sayang," panggil Seruni kepada Bima yang membelakanginya saat ini.
"Ya, bagaimana??" tanyanya antusias.
"Maaf ..."
Bima jadi lesu, ia menatap Seruni dengan menghela nafas berat.
"Maaf, Mas akan repot karena akan menjadi ayah."
"Terima kasih, Sayang. Aku pasti akan menjagamu dan anak kita," bisik Bima sembari mengusap matanya yang sudah berair.
Seruni tak kalah terharu, mereka akan mengabarkan kehamilannya kepada orang tua juga Laras. Pasti ibu akan sangat bahagia mendengar hal ini. Tak lupa, Seruni akan menelepon mak Ute juga.
"Kau bahagia?" tanya Seruni kepada Bima yang segera mengangguk.
"Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada ini. Aku bangga kepadamu, Istriku."
"Aku lebih bangga padamu, Mas."
__ADS_1
Mereka berpelukan untuk waktu yang lama. Seruni terlampau bahagia hari ini. Ia segera memesan nasi kotak kepada sebuah catering dan akan membagikannya kepada anak jalanan, beberapa masjid juga tetangga-tetangganya di tempat ia mengontrak dulu.
"Sudah dipesan makanan untuk dibagikan?" tanya Bima kepada Seruni.
"Sudah, Mas, hanya saja kata orangnya mungkin selepas ashar baru bisa selesai."
"Tak apa, Sayang, nanti sepulang dari kantor, Mas akan singgah ke tempatnya dan nanti bersamamu kita akan mengantarnya ke masjid-masjid dan orang-orang."
Seruni mengangguk, dia jadi tak lemas lagi. Mendapatkan kenyataan bahwa dia sedang mengandung membuatnya jadi bersemangat lagi.
"Tapi kau istirahat saja ya," kata Bima.
"Biar aku membuka butik, Mas. Dua pegawai akan masuk hari ini, aku mau mengajari mereka. Aku tidak akan kelelahan, karena belum ada barang baru yang datang."
"Baiklah, kalau kau tetap ingin ke butik. Aku akan mengantarmu. Tapi nanti jangan lupa istirahat ya."
Seruni mengangguk, ia menunggu Bima sebentar untuk mandi baru mereka akan berangkat. Seruni bahagia sekali, berkali-kali diusapnya dengan lembut perutnya yang masih tampak rata itu.
Setelah Bima selesai mandi, mereka berangkat menuju mobil.
"Kita cari makan dulu ya, kau sedang mengandung, harus banyak makan. Nanti malam kita akan ke dokter kandungan."
Seruni mengangguk, dia ikut saja semua yang dikatakan oleh suaminya. Tak sabar rasanya ingin melihat dirinya sendiri membuncit karena ada bayi di dalam perutnya. Bima juga menjadi lebih memperhatikan semua hal tentang Seruni selama masa kehamilan. Ia kerap tak sabar pulang dari bekerja hanya untuk bersama dengan Seruni. Hidupnya sempurna dengan adanya Seruni di sisinya.
__ADS_1