
Malam menyapa, Bima memeluk Seruni hangat dalam dekapannya. Teringat sore tadi saat mengantar makanan berupa nasi kotak dan menyelipkan amplop untuk mereka yang pantas menerimanya. Sampai detik ini, hanya bahagia yang terlihat dalam nyala mata Seruni. .
"Aku ingin kau lebih banyak beristirahat selama masa kehamilanmu ini, Sayang," ungkap Bima sembari menautkan jemarinya ke jemari Seruni.
"Tentu, Mas. Aku pasti akan banyak istirahat, tetapi aku harus tetap ke butik. Pesanan sekarang sedang banyak sekali. Butik kita juga kedatangan banyak customer. Aku suka berbincang dengan para pembeli. Meskipun sekarang sudah ada Ira dan Ratna yang membantu melayani pembeli, aku tetap saja ingin berada di sana. Apalagi mereka masih baru, kadang suka lupa dengan harga jual."
"Kenapa kau tak mengambil karyawan yang sudah berpengalaman saja, Sayang? Tentu akan merepotkan kalau harus mengajari pegawai baru yang bahkan belum pernah bekerja sebelumnya."
"Aku tak tega, mereka memang baru bisa bekerja setelah menganggur dua tahun dari kelulusan sekolah. Baru ini mereka mendapat sambutan dari surat lamaran pekerjaan mereka."
"Ya, memang kasihan. Kalau begitu, terserah kau saja, Istriku. Aku hanya berharap semua yang terbaik bagimu. Aku tentu tak ingin kau kelelahan. Semoga kedua pegawaimu itu bisa cepat mengerti apa yang kau ajarkan," sambung Bima.
"Tentu, Mas. Mereka anak pintar kok, hanya perlu sedikit belajar lagi dalam berdagang."
Bima nampak mengangguk saja.
"Oh iya, aku belum mengabari ibu dan ayah tentang kehamilanmu. Nanti biar Mas telepon mereka."
"Besok pagi sekali kita kabarkan mereka ya, Mas. Aku juga ingin berbicara dengan ibu dan ayah."
Bima mengangguk. Mereka kemudian tertidur dengan saling mendekap satu sama lain.
Keesokan harinya, hari yang ditunggu oleh Seruni datang juga. Pagi sekali setelah mereka selesai sarapan, Bima memulai sambungan telepon. Mungkin karena masih pagi dan kedua orangtuanya juga sedang sibuk di meja makan, jadi panggilan itu tidak diangkat.
Tapi beberapa saat kemudian, ibunya menelepon balik. Bima segera mengangkat telepon itu dengan sumringah.
"Tadi Ibu dan ayahmu sedang sarapan."
"Iya, Bu, maaf aku mengganggu menelepon pagi begini." Bima menyahut.
__ADS_1
"Tak apa, Bim. Ada apa memangnya?"
"Ada kabar gembira untuk ibu dan ayah."
"Kabar apa, Bim? Ibu kok jadi deg-degan." Terdengar suara nyonya Tono menunggu.
"Seruni sudah hamil, Bu. Sebentar lagi kami akan segera menjadi orangtua," ungkap Bima penuh kebahagiaan.
Hening sesaat, tapi kemudian terdengar suara ibunya berseru.
"Bapak! Pak, sini! Sini!"
"Yo Bu, ada apa kok teriak-teriak begitu!" Suara tuan Tono ikut terdengar setelah itu. Bima dan Seruni berpandangan, mereka tertawa mendengar betapa semangatnya ibu.
"Seruni hamil! Mantu kita hamil!" kata ibu dengan masih berseru.
Bima tertawa lalu memberi ponsel itu kepada Seruni. Ia ingin Seruni sendiri yang kembali menyampaikan berita bahagia itu.
"Betulan ini Seruni sudah mengandung?" tanya tuan Tono semangat.
"Betul, Yah. Aku sudah hamil, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah. Kami sekeluarga juga ikut bahagia mendengarnya, Nak. Dijaga kandunganmu, jangan bekerja terlalu keras. Banyak istirahat ya."
"Sini, Pak, biar Ibu yang bicara juga."
"Ibu?"
"Ya, Seruni ini Ibumu, dengar kata ayah tadi, kau musti banyak istirahat ya. Jaga kandungan dalam perutmu. Makan yang banyak biar anaknya sehat-sehat di dalam. Nanti kalau ada waktu luang mungkin kami akan ke Jakarta. Ingat, jangan kerja yang berat-berat. Ibu ndak mau kau dan calon anakmu nanti ada apa-apa," kata nyonya Tono dengan semangat.
__ADS_1
Seruni dan Bima berpandangan lalu tersenyum. Bima memeluk pinggang istrinya itu, meminta Seruni duduk di pangkuannya.
"Ya, Bu, pasti aku ingat semua nasihat Ibu. Ibu dan ayah juga jaga kesehatan ya. Kalau begitu, kami matikan dulu teleponnya ya, Bu."
Sambungan telepon itu akhirnya dimatikan. Seruni meletakkan ponsel Bima lalu tersenyum kepada suaminya itu. Pagi ini setelag menelepon kedua orangtuanya, mereka bisa sedikit bermesraan. Bima menatap Seruni yang sedang duduk di pangkuan sambil mengalungkan lengannya di lehernya yang kokoh.
"Kau akan berat sebentar lagi, Sayang," bisik Bima kepada Seruni yang menanggapinya dengan tawa.
"Ya,"
"Tapi aku pasti akan selalu kuat untuk mengangkatmu."
"Tentu, Mas. Kekuatanmu tak perlu diragukan."
"Mau adu kekuatan lagi pagi ini?" tanya Bima dengan kerlingan nakalnya.
"Kau bisa terlambat ke kantormu, Sayang. Ingat, ada kasus yang menunggu untuk kau selesaikan di sana."
Bima menarik nafas panjang lalu menatap istrinya dan mengangguk.
"Aku selalu merindukanmu setiap kali berada di kantor," desah Bima.
"Kau bisa melakukannya setiap kali kit bertemu setelah kau santai, Sayangku," balas Seruni penuh arti.
Bima tersenyum lalu mengangguk, dikecupnya bibir Seruni sekilas lalu Seruni turun dengan perlahan dari pangkuan suaminya itu.
"Ayo, aku antar kau ke butik. Jangan menyetir mobil sendiri, aku tak mau ada apa-apa denganmu."
Seruni mengangguk mengerti lalu bersama suaminya ia melangkah keluar dan meninggalkan rumah mereka menuju tempat tujuan masing-masing, untuk kelak bertemu lagi sore nanti.
__ADS_1