
"Aku tidak tahu." Seruni mengalihkan pandangannya, tak mau lagi menatap Bima yang masih menunggu jawaban darinya.
"Kau tahu, Seruni, kau hanya tak mau mengungkapkannya."
"Tak ada yang perlu diungkapkan, Bima. Tak ada yang perlu aku ungkapkan kepadamu."
"Kalau begitu, akulah yang akan membawa kedua orangtuaku ke hadapanmu langsung!"
"Bagaimana kalau mereka menolaknya?!" Suara Seruni meninggi tapi membuat senyum tercetak di bibir Bima. Itu artinya, Seruni memiliki rasa yang sama, hanya saja, keluarga besar Bima yang menjadi masalah terbesarnya saat ini.
Seruni seolah tersadar sesuatu setelah dia kelepasan bertanya tentang hal tadi kepada Bima.
"Maksudku, aku ..."
"Seruni, mau sebenci apapun kau kepadaku, aku tahu rasa itu sejatinya masih ada untukku, bukan?"
__ADS_1
Seruni menatap Bima lagi, ada airmata yang mengalir perlahan tanpa bisa Seruni cegah. Bima terenyuh melihatnya, lantas dengan lembut, disapunya airmata itu dengan ibu jari. Seruni merasakan gemuruh hatinya laksana genderang saat ini. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia hanya bisa memandang Bima dengan sejuta kegalauan hatinya.
"Ya ... Rasa itu memang masih ada, Seno Ari Bimantara. Tapi aku memilih untuk menekannya, sebab kau telah menggantinya dengan luka yang teramat dalam."
"Aku mengerti kesakitanmu, Seruni. Tapi tak bisakah kau memberikan aku satu kesempatan lagi?"
Seruni mengalihkan pandangannya lagi, tapi Bima menarik lembut dagu Seruni untuk kembali menghadap dirinya. Merah bibir Seruni membuat Bima mati-matian menahan hasratnya. Ingin sekali diciumnya bibir indah perempuan yang penuh luka itu.
"Pernikahan bukan permainan, Bima. Pernikahan adalah sebuah perjanjian. Pernikahan terbentuk karena restu. Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan begitu mudah sementara kau tahu, jurang pemisah di antara kita begitu jelas. Aku hanya orang miskin, sementara kau adalah orang terpandang di desa kita, bahkan mungkin di kota perantauan ini, tak sedikit orang yang mengenal kau dan keluarga besarmu yang tersohor itu.".
"Kalau begitu, biarkan aku kehilangan mereka asalkan aku bisa meraihmu lagi."
"Kita sudah sama-sama dewasa, Seruniku. Kau dan aku sudah melewati masa-masa itu. Akulah pengukir luka di tubuh dan hatimu. Akulah yang merenggutnya, jadi biarkan aku merubah pandanganmu kepadaku dengan keseriusanku untuk hidup bersamamu. Aku akan meyakinkan mereka tentang kau. Tentang aku yang sudah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu dahulu."
"Bagaimana kalau mereka tidak setuju."
__ADS_1
"Yang utama adalah kau, Seruni. Kau setuju, maka yang lain adalah urusanku. Sekarang, katakan kepadaku apa kau mau ikut denganku ke desa kita?"
Seruni tak langsung menjawab. Ia diam seribu bahasa sementara Bima masih menunggu jawabannya.
"Kau sungguh-sungguh dengan niatmu itu?" tanya Seruni akhirnya.
"Seruni, jujur saja, aku ini lelaki, aku memuja semua yang ada padamu. Aku memiliki hati untuk mencintai kau dan aku memiliki nafsu yang masih sama seperti dulu, hanya saja sekarang aku sudah bisa mengendalikannya sampai kau halal untuk aku sentuh lagi. Izinkan aku menyentuhmu dengan adanya ikatan di antara kita, Seruni. Ikutlah denganku ke desa kita, akan aku umumkan pada semua orang bahwa aku akan menikahimu."
Seruni tak lagi mampu berkata-kata. Ia hanya bisa merasakan airmatanya senantiasa mengalir sedari tadi. Kali ini mungkin Seruni tak lagi bisa mengelak. Bima memang bersalah di masa lalu, tetapi bukankah kesempatan itu akan selalu ada untuk mereka yang telah menyesal. Seruni juga tak akan bisa lepas dari bayang-bayang Bima. Pria itu akan membersamainya kemana pun ia melangkah.
Namun, jurang pemisah di antara mereka memang tak main-main. Sebuah kasta. Seruni adalah gadis yang lahir dengan ekonomi tertekan juga tumbuh dalam lingkungan keluarga yang berantakan apalagi desas desus kerap menyebutkan bahwa Seruni sengaja lari ke kota untuk melac*kan diri. Sanggahan tak akan berarti, orang memiliki pandangan sendiri tentangnya. Apalagi keluarga Bima yang jelas terpandang di mana-mana. Tiba-tiba saja, nyali Seruni mengerucut. Ia yakin yang didapatnya kelak adalah penolakan bahkan penghinaan.
Namun, kesungguhan Bima membuat hati Seruni bimbang. Sekali lagi diyakinkan dirinya, semoga saja ia tak salah memberi jawaban.
"Baiklah."
__ADS_1
Satu kata dan itu disambut senyuman dengan binar kebahagiaan di mata lelaki di depannya. Perlahan, Bima mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Tak bisa lagi Seruni berkata-kata saat Bima meraih jemari manisnya lalu menyematkan cincin di sana. Benda itu tampak berkilauan ditempa cahaya senja.
Kalau dipotret, Bima dan Seruni pasti nampak serasi dan indah dalam bingkai asmara dua manusia yang pernah terpisah karena keadaan. Kini, mereka kembali bertemu dalam usia yang sudah matang, diiringi kisah asmara singkat berujung benci juga penyesalan. Bima hanya ingin mengganti penyesalan dan kebencian Seruni menjadi cinta yang lebih nyata. Ia hanya berharap, keluarga merestui mereka, jikalau tidak, maka dia akan tetap mencintai Seruni dengan caranya.