
"Jadi kau Bim, pulang ke Jakarta besok?" tanya nyonya Tono sambil menatap puteranya yang sedang sibuk dengan laptop. Kendati sedang di kampung halaman, Bima juga tetap memantau semua laporan yang masuk melalui email.
"Jadi, Bu."
"Ibu dengar, kemarin kau menemui orang yang punya rumah kosong dekat gapura kampung itu?" tanya ibunya lagi penuh selidik.
Bima menoleh sesaat, dia tak tahu darimana ibunya bisa tahu soal itu tapi dia juga tak mau ambil pusing.
"Ya, Bu."
"Untuk apa, Bim?"
"Ibu tentu tahu aku sudah berencana lama untuk membangun rumah sendiri di kampung ini."
"Maksud Ibu, kenapa harus di bekas bangunan kosong itu?"
Bima tak langsung menjawab.
"Tak apa, Bu. Hanya suka saja dengan lokasinya."
"Tanah kita ini luas, Bima. Kau harusnya membangun rumah tak jauh dari rumah ibu dan ayah. Ayahmu juga sampai heran karena kau malah membeli bangunan kosong itu."
Bima tak menjawab lagi. Dia rasanya belum waktunya untuk menjelaskan apapun tentang rencananya membangun istana untuk Seruni. Lagipula, Bima memang tak berniat mendirikan rumah yang dekat dengan rumah kedua orangtuanya. Walau satu kampung, dia tetap ingin di lahan yang jelas terpisah.
"Nanti Ibu dan Ayah akan tahu. Yang jelas, rumah itu punya sejarah sendiri untukku."
Kali ini, ibunya yang diam. Ia masih tak mengerti mengapa Bima sampai harus membeli bangunan tua itu. Bima sendiri kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Besok dia akan kembali lagi ke Jakarta dan akan segera membatalkan rencana pernikahannya dengan Atikah di hadapan kedua orangtua gadis itu langsung. Dia tidak mau menyesal jika sudah terlanjur menikahi Atikah sedangkan sekarang rasa tanggungjawab terhadap Seruni menggebu-gebu minta dituntaskan.
__ADS_1
Pas pula saat sedang memikirkan hal itu, ponsel Bima berdering. Dilihatnya yang menunggu sambutan panggilan telepon itu adalah Atikah. Bima menarik nafas panjang, sebisa mungkin untuk tetap tenang.
"Atikah ..."
"Sayang, aku rindu sekali padamu. Kau kapan pulang, Bim?" tanya Atikah dengan antusias. Sesaat, ada rasa bersalah juga yang menggelayut di ujung hati Bima yang sekarang sama sekali tak ada Atikah lagi di dalamnya. Ia tidak tega akan menyakiti hatinya perempuan yang sangat mencintainya itu.
"Besok aku sudah kembali, Tika, sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa begitu serius, Bim?"
"Tentu. Sangat serius. Oh iya, apa kedua orangtuamu sudah kembali ke rumah?"
"Ya, mereka sudah di rumah. Sudah kembali dari luar kota. Bim, aku tak sabar ingin segera berjumpa denganmu besok."
Bima terdiam sesaat. "Aku juga, Tika."
Seruni sudah menjelma menjadi seorang perempuan dewasa yang cantik menggoda tetapi penuh luka. Dulu, Bima masih mendengar Seruni memanggilnya dengan sebutan "Mas Bima", sungguh manis. Sekarang tidak lagi. Bima! Begitu ketus dan dingin setiap kali Seruni menyebut namanya. Kebencian Seruni pastilah sudah serupa gunung. Tak ada lagi tatapan penuh cinta yang diungkapkan dengan malu-malu seperti dulu, sekarang hanya sorot mata benci dan luka yang nyaris muncul bersamaan setiap kali mereka bertemu pandang.
Yang Bima heran adalah mengapa hatinya nyeri sekali mendapati tatapan kebencian itu dari Seruni. Kenapa dia tidak berlagak pura-pura bodoh saja, toh tak ada saksi yang melihat perbuatan mereka dahulu. Sayangnya, hati nurani lelaki itu tiba-tiba saja muncul ketika pertama kali berjumpa Seruni bahkan berbunga-bunga setiap kali ia kembali melihat Seruni. Karma memang sedang menghantamnya tanpa ampun dengan membuatnya jatuh cinta sungguhan kepada sosok sedingin salju itu.
Jadi sore itu ketika dilihatnya Laras baru saja pulang, ia langsung mendekati adiknya.
"Ada apa, Bang?" tanya Laras dengan kening berkerut.
"Abang ingin bicara serius denganmu, Ras."
"Laras ganti baju dulu, Bang."
__ADS_1
Bima mengangguk, di gazebo rumah ia menunggu adiknya itu dengan segelas teh hangat dan makanan ringan yang baru saja disajikan oleh pelayan rumah. Beberapa menit kemudian, adiknya datang.
"Apa yang ingin Bang Bima bicarakan denganku?"
"Ras, kau dan Bayu apa sudah begitu serius mau menikah?"
"Tentu, Bang. Tapi tentu kami harus menunggu Abang menikah dahulu dengan mbak Tika."
"Ras ... Abang akan membatalkan pernikahan dengannya."
"Bang?!" Laras terkejut.
"Lupakan tradisi keluarga ini, menikahlah dengan Bayu secepatnya. Aku lihat, hubungan kau dengan Bayu sudah sedemikian jauh. Abang tak ingin terjadi apa-apa denganmu."
"Abang tidak bisa begitu, keluarga akan menentang habis-habisan jika aku melangkahi Abang."
"Abang yang akan bicara dengan ibu dan ayah."
"Abang aneh dan kenapa juga harus mendadak begini. Dan Abang tega membatalkan pernikahan dengan mbak Tika."
"Abang serius, Ras. Menikahlah secepatnya, karena yang kita bicarakan sekarang adalah tentang karma."
"Laras tidak mengerti maksud Abang!"
"Ras ... Sungguh, sepuluh tahun yang lalu, Abanglah yang sudah merenggut kehormatan Seruni lalu meninggalkannya begitu saja. "
Laras menutup mulutnya seketika dengan tangannya. Hampir limbung mendengar pengakuan kakak tercintanya itu.
__ADS_1