Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Berita Dari Kampung


__ADS_3

Kerikil kecil Seruni tendang sedari tadi. Dia masih betah, menyusuri jalan yang berdebu. Ada rasa lega sekaligus tak rela saat ia mengembalikan jam tangan Bima tadi, sebab jam tangan itulah yang sudah menemaninya kemanapun dia pergi. Namun, demi memutus secara total apapun yang berhubungan dengan Bima, maka Seruni harus melakukan itu, mengembalikan benda itu kepada tuannya.


Saat Seruni tengah berjalan menyusui trotoar dengan sunset yang memantul di jalan yang masih padat kendaraan, mobil mewah Bima lewat dengan perlahan. Di dalamnya ada Atikah yang sengaja datang dengan taksi saat ke kantor Bima tadi untuk pulang bersama lelaki itu. Bima menoleh tanpa sadar, melihat Seruni yang tak tahu kalau Bima melihatnya dari dalam mobil.


"Apa yang kau lihat, Bim?" tanya Atikah penasaran sekaligus curiga.


Secepat kilat Bima mengalihkan lagi pandangannya ke depan. Dia tak menjawab, membuat Atikah seketika dikuasai cemburu ketika sadar yang dilihat Bima adalah gadis yang tengah berjalan di atas trotoar itu.


"Siapa dia, Bim? Kau aneh akhir-akhir ini. Kau juga seperti sedang fokus pada hal lain. Apa dia yang menjadi buah pikiranmu akhir-akhir ini?" cecar Atikah lagi.


Bima memejamkan mata, menarik nafas panjang kemudian menatap Atikah.


"Jawaban apa yang ingin kau dengar, Tika? Aku hanya sedang lelah, begitu banyak pekerjaanku akhir-akhir ini."


"Kenapa tak kau akui saja kalau kau sedang memikirkan perempuan lain? Kau memikirkannya bukan? Gadis bernama Seruni itu? Siapa dia?"


Mendengar Atikah terus mencecarnya, Bima akhirnya mengalah lalu menghentikan laju mobil di pinggir jalan. Tak terlihat lagi Seruni yang tertinggal jauh di belakang.


"Jawab aku, Bim!" Atikah mulai meraung.


"Dia satu kampung denganku."


Atikah diam sesaat.


"Apa dia mantan kekasihmu dulu?" tanya Atikah penuh selidik.

__ADS_1


Bima bingung harus menjawab apa. Dia dan Seruni tidak pernah berpacaran sejak dulu, dia dan Seruni hanya terlibat cinta satu malam yang berujung terenggutnya kesucian gadis itu di masa lalu.


"Dia bukan mantan kekasihku, Tika. Tapi aku memang mengenalnya karena kami satu kampung."


"Tapi kau memikirkannya!" seru Atikah tiba-tiba. Bima tersentak kaget. Atikah tak pernah seperti ini sebelumnya.


"Hei, aku dan dia hanya saling mengenal bukan saling mencintai, tenanglah."


Mau tak mau Bima mengatakan itu, karena ia tahu bahwa Atikah adalah gadis yang nekat. Meski setelah mengatakannya, hati Bima sendiri seolah menyangkal sesuatu, tak mencintainya? Hati Bima seolah sedang menertawakannya saat ini.


"Lalu mengapa dia datang tadi?" tanya Atikah lagi.


"Dia memang harus lapor karena kemarin terlibat perkelahian dan aku yang menangani kasusnya." Bohong lagi Bima. Terpaksa dia melakukannya agar Atikah tak semakin berang.


Akhirnya Atikah bisa tenang setelah ia melihat Bima dan kemudian memeluk lelaki itu.


"Kita bisa pulang sekarang? Kau sudah tenang?" tanya Bima lembut dengan Atikah yang akhirnya mengangguk.


Bima menarik nafas lega lalu kembali membawa mobilnya melaju ke rumah kekasihnya. Nampaknya, ia akan sulit menemui Seruni lagi malam ini karena Atikah pasti akan menahannya pergi.


Semetara itu di dalam kontrakannya, Seruni baru saja sampai. Bergegas ia menutup jendela karena maghrib akan segera menyambangi. Ia juga bergegas mandi kemudian dan menunaikan ritual menghadap yang khalik. Seruni sendiri tetap meyakini kekuatan sholat. Meski ia hina, tetapi setiap ingat perkataan guru ngajinya ketika kecil dulu, ia tetap akan mendirikan ritual suci itu. Kata gurunya, tetaplah berpegang pada tiang agama meski kotor dan hinanya dirimu, dan tiang agama yang Seruni paham adalah shalat.


Saat rakaat terakhir, Seruni mendengar ponselnya berdering. Maka setelah selesai dengan masih mengenakan mukena dan wajah yang masih lembab karena air wudhu, Seruni meraih ponselnya.


"Mak Ute?" tanya Seruni pada diri sendiri setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Seruni segera menelepon balik.

__ADS_1


"Runi?"


Bergetar hati Seruni mendengar suara perempuan yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri itu. Rindu membayangi seketika.


"Mak?"


"Iya, ini Mak Ute."


"Runi rindu, Mak." Air mata Seruni mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Mak juga, Run. Namun, ada hal yang musti Mak bilang sama kau."


"Ada apa rupanya, Mak? Kenapa perasaanku tak tenang?" Seruni menekan dadanya.


"Run, ibumu ..."


"Runi selalu mengirimkan uang, Mak. Sungguh, setiap bulan selalu Runi kirim uang untuknya."


"Ya ... Mak tahu, Run. Tapi bukan itu, ibumu ... Ibumu sudah tak ada, Run. Meninggal satu jam yang lalu."


"Ya allah ..." Seruni lemas seketika. Meski dulu sang ibu mengabaikannya, tapi Seruni tak pernah lupa dari mana dia berasal. Setiap bulan uang selalu dikirimkan, baju-baju bagus selalu ia kirim juga. Ia masih menjaga hubungan baik dengan ibunya meski sang ibu telah mengecewakannya di masa lalu. Dan tak pernah Seruni berharap ibunya pergi secepat ini.


"Run ... Bisa kau pulang? Di detik terakhir nafas ibumu, namamu yang dia sebut."


Seruni berlinangan airmata. Ia menekan dadanya, memang telah sangat lama ia tak kembali ke desa. Selama ini, mak Ute sering mengunjungi ibu Seruni hanya untuk memberi tahu kabar Seruni. Sangking sayangnya mak Ute kepada Seruni, maka dia menjaga ibu Seruni untuk gadis itu, termasuk menyelamatkannya setiap kali ayah tiri Seruni berbuat kasar kepada ibunya.

__ADS_1


"Aku segera pulang, Mak. Semoga ada tiket pesawat untuk berangkat malam ini."


Mak Ute mengangguk di ujung telepon dan Seruni mematikan sambungan telepon itu. Ia segera menghubungi kelab malam tempatnya bekerja, bahwa malam ini juga dia akan bertolak ke desanya. Perjalanannya cukup panjang, jikalau pun mendapatkan pesawat setelah sampai di bandara maka ia akan mencari kereta atau bus untuk mengantarnya ke desa.


__ADS_2