Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Dinner


__ADS_3

Bima sudah berpakaian rapi dan nampak tampan dengan kemeja polos berwarna moca yang pas di tubuh atletisnya. Malam ini, dia akan menjemput Seruni. Dia memang belum bilang bahwa akan mengajak Seruni pergi makan malam romantis ala anak muda yang sedang ranum-ranumnya dalam berpacaran.


Jadi tepat pukul delapan malam, ia sudah berada di depan kontrakan Seruni. Saat pintu terbuka, dilihatnya Seruni nampak cantik dengan daster rumahan masa kini yang sering dipakai oleh gadis-gadis.


"Loh, kau tak bilang kalau mau kemari."


Seruni bertanya sembari mempersilahkan Bima untuk masuk ke dalam kontrakannya. Pintunya ia biarkan terbuka lebar agar tidak ada tetangga yang berpikiran macam-macam.


"Memangnya mesti bilang dulu kalau mau apel ke rumah pacar?"


Ditanya begitu, Seruni jadi sedikit salah tingkah.


"Ya sudah, tunggulah sebentar aku buatkan minuman."


"Tak usah, Run, bergantilah pakaian, aku akan membawamu ke suatu tempat."


Seruni mengangkat sebelah alisnya. Namun, ia akhirnya mengangguk. Ia segera meraih sebuah dress selutut yang pas di tubuh indahnya. Rambutnya ia biarkan tergerai. Tampilannya simpel tapi elegan. Sebagai mantan perempuan karaoke, dia tahu betul cara berdandan. Jadi ketika keluar dengan riasan natural tapi tetap memikat, Seruni disambut senyuman kagum oleh Bima.


Dandannya tak setajam ketika dia bekerja sebagai LC kemarin. Lebih natural, lebih alami tapi tetap memberi kesan elegan dan sedap dipandang mata. Aroma vanilla juga menguar dari tubuhnya.


"Ayo," ajak Bima yang segera disahuti Seruni dengan anggukan.

__ADS_1


Berdua mereka menyusuri jalanan gang sempit itu. Beberapa pemuda pengangguran saling sikut melihat objek fantasi khayalan sedang berjalan bersisian seorang lelaki tampan nan gagah yang mereka tahu betul bahwa itu adalah seorang berpangkat di kepolisian.


"Malam, Bang." Mereka saling menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Bima yang hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kecil.


"Mereka itu takut kalau lihat kau datang ke sini," ujar Seruni sambil tertawa tipis.


"Entahlah, aku heran juga. Apa yang salah dengan pria berseragam seperti kami?"


"Itu artinya orang seperti kalian disegani. Semoga kau selalu menjadi aparat yang mengayomi masyarakat."


Bima menoleh lantas tersenyum dan mengusak penuh sayang puncak kepala Seruni. Seruni yang diperlakukan seperti itu jadi salah tingkah lagi. Dia bisa merasakan kasih sayang yang begitu tulus dan nyata dari Bima untuknya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Bima membawa Seruni menyusuri jalanan ibukota yang masih dipenuhi kendaraan lalu lalang. Jakarta memang kota yang tak pernah tidur, situasi sepi akan jarang sekali terlihat di kota metropolitan itu.


"Apa yang mau kau tanyakan, Sayangku?"


Sayangku. Ah, manis sekali sebutan itu. Seruni sering mendengarnya dari banyak pelanggan ketika ia masih bekerja. Namun, saat mendengarnya dari Bima, rasanya berbeda, rasanya lebih istimewa saja.


"Hmmmmm apa rumah bilik bambu itu kau yang sudah merombaknya?" tanya Seruni hati-hati.


Bima nampak terkejut, ia sengaja tak memberitahu Seruni tentang pembangunan rumah itu karena nanti mereka akan kembali ke desa.

__ADS_1


"Ya, darimana kau tahu?"


"Dari mak Ute. Aku pikir itu bukan kau yang merombaknya."


"Hmmmm, akulah yang merenovasi bangunan itu, Run. Aku memang akan menghadiahkannya untukmu. Aku tahu kau pasti terluka setiap kali melewati tempat itu. Jadi aku ingin menghapus luka itu dengan hal yang lebih indah. Rumah itu sudah atas namamu, Seruni. Aku mempersembahkannya untukmu."


Seruni tak bisa menyahut untuk sesaat.


"Bim, apa kata orang tuamu kelak. Bukannya itu terlalu berlebihan?" tanya Seruni tak enak hati.


Bima menggeleng, ia mengelus jemari Seruni perlahan lalu melepaskannya lagi.


"Aku tidak bisa menghilangkan kenangan buruk itu dari sana, Seruni. Tapi aku hanya bisa mengusahakan semua hal indah untukmu di masa sekarang. Aku hanya berharap, kau mengerti bahwa aku sungguh ingin merubah pandanganmu tentangku. Mungkin di masa lalu aku adalah seorang pecundang, tetapi sekarang aku ingin menebus segala hal menyakitkan itu. Bertahun-tahun kau aku tinggalkan dalam luka yang panjang, meski tak serta merta bisa membuat kau utuh lagi seperti dulu, paling tidak, aku masih berkesempatan untuk membenahi apa yang tertinggal. Sekarang, aku hanya ingin menggali cintamu kembali, yang sudah terkubur dan tertinggal di balik bilik penyesalan."


Seruni menengadahkan wajahnya, menahan agar airmatanya tidak tumpah tapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk perlahan. Bima menggenggam erat kesepuluh jemari Seruni.


"Bagaimana kalau keluargamu menentang hubungan ini, Bim?"


"Biarlah aku kehilangan mereka, Seruni."


"Bima ... Meski aku kini telah yakin denganmu, tapi jujur saja, mungkin akan ada banyak hal yang kau korbankan jika ingin bersamaku."

__ADS_1


"Aku selalu siap dengan semua resiko."


Dan Seruni diam, meski kenyataan di depan mata tak semudah bibir berucap. Ia hanya tahu satu hal, cinta mereka tidak pernah salah.


__ADS_2