Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Bagaimana Jika Kita Kawin Lari?


__ADS_3

"Apa maksudmu, Bim, Kita bisa menikah meski tanpa persetujuan dari kedua orang tuamu?" tanya Seruni masih memandang Bima dengan tidak mengerti.


"Aku laki-laki, aku tidak butuh wali nikah. Jadi walaupun tanpa persetujuan kedua orang tuaku, aku tetap bisa menikahimu, bukan?" Bima bertanya balik.


Seruni akhirnya mengerti arah pembicaraan lelaki itu, tetapi dia sama sekali tidak bisa membenarkan tindakan Bima, meskipun dia juga ingin menikah dengan lelaki itu. Kalau saja tidak memikirkan egonya, sudah Seruni katakan ia akan dengan senang hati menerima pinangan yang secara tidak langsung diutarakan oleh Bima barusan. Namun, Seruni tetap saja mengedepankan hati nuraninya. Ia tidak mau egois. Lagipula, Seruni tidak ingin selamanya menjadi bencian keluarga Bima. Apalagi itu kedua orang tuanya.


Kalau hanya Laras yang membencinya mati-matian, ia tak begitu mengapa, tapi kalau sudah urusannya dengan orang tua sendiri, rasanya ia tidak bisa membiarkan itu semua. Sejujurnya, Seruni juga bingung dengan keadaannya sekarang, Ia ingin ikhlas lepas dari Bima, tapi rasanya tak rela juga. Bagaimanapun, Bima sudah berusaha menyentuh hatinya di relung yang paling dalam sehingga untuk menyingkir dari kehidupan lelaki itu juga bukan perkara yang mudah.


"Aku tidak mau egois, Bim, walaupun jujur aku katakan kepadamu, aku sangat tersanjung. Kau benar-benar ingin meminangku, tapi kalau sampai kawin lari, rasanya aku tidak bisa."


"Lalu kau mau bagaimana, Seruni, aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu atau melepaskanmu begitu saja. Aku sudah betul-betul mencintaimu, aku ingin menikahimu, bukan semata-mata karena kesalahanku sepuluh tahun yang lalu. Aku betul-betul mencintaimu. Aku ingin menjadi imam untukmu."


Seruni diam sesaat, merasakan angin yang berhembus dingin membelai pipi. Hatinya tak dingin lagi untuk Bima,hatinya sudah terbuka begitu hangat setelah disentuh sedemikian serius oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Kau tahu, Bim,dulu setelah kau meninggalkan aku di bilik bambu itu, aku pernah bersumpah aku tidak akan pernah mau lagi melihatmu. Aku begitu membenci dirimu, bahkan kalau pun nanti kita memang akan dipertemukan, yang ada dalam pikiranku adalah menghancurkanmu tanpa sisa. Tapi nyatanya setelah kita bertemu seperti sekarang, aku akui bahwa perasaan yang dulunya ada sudah mulai tergali lagi meski sudah kukubur begitu dalam. Apalagi aku mau melihat kesungguhanmu itu. Namun, sekali lagi aku katakan kepadamu, kita tidak bisa melawan kedua orang tua. Aku tidak ingin membuat kau dibenci oleh keluargamu Bim."


"Aku sudah siap dengan segala resiko itu, Seruni. Aku benar-benar ingin menjadi suamimu . Aku ingin menyentuhmu dengan halal. Aku tak mau lagi Jadi pecundang."


Seruni menoleh, kemudian Bima menghadapkan dirinya di depan Seruni. Sungguh ia tak bisa menahan untuk tidak membelai bibir gadis itu, jadi dengan hati-hati diusapnya bibir Seruni yang lembut itu dengan ibu jarinya lalu dipandangnya Seruni begitu lekat.


"Dulu, kali pertama aku menatap matamu, Seruni, kala kau masih berusia tujuh belas tahun saat itu, aku benar-benar melihat telaga cinta dari sana. Maaf, aku meninggalkanmu karena memang kepulanganku ke kampung kita waktu itu memang hanya sebentar, karena besoknya aku harus segera melaksanakan pendidikan. Maafkan aku ya? Dulu, aku pikir kau hanya akan menjadi cinta satu malam untukku, tapi pertemuan kita untuk kali kedua sewaktu kau berkasus kemarin, malah membuka mata dan hatiku lebih lebar lagi. Hatiku seolah-olah kau isi kembali, Seruni. Sekarang, aku tidak pernah ragu untuk menjadikanmu istriku."


"Tidak, Seruni, aku yakin kau adalah jodohku. Lagipula aku yakin kau tidak akan pernah bersedia menyerahkan kehormatanmu kepada pria lain bukan?"


Seruni terdiam lagi, apa yang dikatakan Bima itu benar adanya. Sungguh, selama ini dia tidak pernah terpikirkan untuk menyerahkan tubuhnya ke lelaki manapun setelah Bima mengambil mahkota kesuciannya. Tanpa disadari, sebenarnya hanya Bimalah pemilik kehormatannya.


"Jadi aku mohon kepadamu, Seruni, jangan pernah menyerah. Aku masih ingin memperjuangkanmu. Aku tahu keluarga besarku sudah begitu keterlaluan. Mereka menyebut mu dengan sebutan yang hina dan kotor. Tapi aku tidak pernah peduli dengan hal itu, Seruni. Bahkan jika sisi dunia ini akan membenciku karena aku mencintaimu, aku tidak akan pernah peduli akan hal itu."

__ADS_1


Serunu memandang Bima tepat ke kedalaman matanya, tidak ada keraguan di mata lelaki itu, juga tidak ada kebohongan. Inikah yang dinamakan dilema? Di satu sisi ia ingin meraih Bima dengan keegoisannya, tetapi di sisi lain, hati nuraninya selalu mengatakankan hal yang sebaliknya.


"Bima, menikah karena mendapatkan persetujuan orang tua itu ada hal yang sangat menyenangkan. Akan sangat menyenangkan bukan jika kita menjalani kehidupan rumah tangga tanpa memiliki beban di belakangnya? Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang di antara kau dan keluargamu. Namun, jika kau sudah yakin ingin menikahiku, aku memiliki satu opsi yang mungkin bisa kita lakukan berdua."


"Apa itu, Seruni?" tanya Bima heran.


"Aku tidak akan menjauh darimu. Aku ingin kita mencoba untuk terus memperjuangkan hubungan kita. Aku tidak akan menjauh darimu, aku hanya berharap usaha kita untuk meluluhkan hati kedua orang tuamu bisa segera terwujud. Namun, jika sudah berwaktu-waktu kita menunggu dan tidak ada kejelasan apapun, dan mereka masih menentangnya, maka aku menerima segala hal yang menjadi keputusanmu, Bima. Kalau kau ingin meninggalkanku dan memilih keluargamu, maka aku tidak akan pernah menahannya, tetapi jika kau memang sudah teguh dengan keinginanmu untuk mempersuntingku maka aku tidak akan pernah menolaknya lagi."


"jadi maksudmu..."


"Ya, kita jalani dulu semuanya. Kita tunggu sampai beberapa waktu. Jikalau seperti apa yang aku katakan tadi, maka lakukanlah apa yang kau pantas lakukan menurutmu, yang penting kita sudah berusaha, karena aku tidak ingin Bim, citramu sebagai anggota kepolisian yang sudah begitu apik kau jaga selama ini, akan tercoreng hanya karena diriku. Kalau nanti jika kau sudah benar-benar matang untuk menentukan pilihan di antara aku atau keluargamu maka semuanya kuserahkan kepadamu."


Bima mengerti, perlahan Bima tersenyum. Ia bersyukur Seruni tidak mengabaikan perasaannya. Jadi yang dimaksud saat ini adalah mereka terus menjalani hubungan seperti biasa tetapi bersama-sama menghadapi semua alar melintang yang jadi jurang pemisah, hingga tiba pada saatnya, nanti ketika tak mampu lagi memperjuangkan salah satunya, maka Bima bersiap akan melepaskan salah satunya. Melepaskan keluarganya atau memilih Seruni. Seruni sudah bersiap akan hal itu, ditinggalkan atau Bima yang tetap bertahan dengan keputusan.

__ADS_1


__ADS_2