
Butik hari ini sangat ramai, Seruni sampai kewalahan membantu kedua pegawainya melayani customer. Apalagi bersamaan dengan itu, barang baru datang entah beberapa kodi. Seruni sibuk membuka baju-baju dalam packing karung berukuran besar.
"Kalian istirahat bergantian ya. Ambil uang makan di meja sana sudah Mbak siapkan," kata Seruni kepada dua pegawainya yang tengah sibuk memajang barang.
"Ya, Mbak, sebentar lagi saja, sedikit lagi baju yang belum dipajang."
Seruni mengangguk, sedari tadi ponselnya juga tak berhenti bergetar. Ada banyak pesan yang masuk karena Seruni juga menjual barang dagangannya via online. Ada beberapa kurir yang akan datang untuk membawa banyak sekali barang yang sudah dipacking rapi oleh Seruni dan pegawainya.
Seruni kemudian duduk dengan berusaha mengatur nafasnya yang sedikit tersengal. Pagi tadi, dia sudah muntah beberapa kali. Ia tak ingin kelelahan karena usia kandungannya masih sangat rentan.
"Mbak Seruni istirahat saja, biar aku dan Ira yang membereskannya. Pembeli juga sudah mulai lenggang."
Seruni mengangguk, dia memang butuh istirahat. Ia juga meminum air putih sudah lumayan banyak untuk meredakan rasa mual.
Seruni mengusap perutnya, merasakan benih Bima yang sekarang bersarang dengan nyaman di sana. Ia mensyukuri semua berkah yang menghampiri kehidupannya kini. Suami begitu mencintainya, kedua mertuanya juga sudah sangat baik, adik ipar yang juga sudah begitu akrab dengannya.
Ponselnya berdering, kali ini dari Laras. Seruni segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Mbak, kata ibu kau sudah hamil?" tanya Laras semangat setelah Seruni mengangkat teleponnya.
"Ya, Ras. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah, aku ikut senang. Sebentar lagi bakal punya keponakan."
"Ya, Ras. Aku baru saja muntah-muntah. Aku kalah sekali di kehamilan pertama ini."
"Makanya, kau istirahat saja, Mbak. Lagipula kan pegawaimu ada buat jaga butik. Di sini pembangunan untuk toko baju juga hampir selesai. Barang-barang yang kau kirimkan kemarin sudah sampai."
"Syukurlah, Ras. Aku terbantu sekali dengan adanya dirimu. Aku sendiri tak bisa meninggalkan butik, Ras. Customer banyak sekali, hari ini saja belum setengah hari, setengah dari pajangan kami sudah ludes. Ini baru bisa beristirahat."
Seruni tersenyum, ia juga bahagia dengan kehamilannya itu. Setelah selesai berbicara dengan Laras, Seruni kembali meneruskan perbincangan melalui via telepon itu tetapi kali ini dengan mak Ute.
"Syukurlah kau sudah hamil, Run, Mak ikut senang mendengarnya."
"Aku bahagia juga, Mak. Tapi kenapa aku dengar suara Mak begitu lesu."
__ADS_1
"Tak apa, Run, tak ada yang terjadi."
Seruni tak begitu saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh mak Ute. Jadi setelah dia menelepon mak Ute, Seruni mencari kontak mbak Rini.
"Seruni?"
"Ya, Mbak, ini Runi. Mbak, aku merasa ada yang aneh dengan mak Ute. Aku bisa merasakan kesedihan saat berteleponan dengannya tadi."
Terdengar suara mbak Rini yang begitu lesu setelah itu.
"Wajarlah, mak Ute bersedih, Run. Warung remang-remang itu sebentar lagi tak bisa beroperasi lagi. Sudah ada surat pemberitahuan untuk mak Ute dari pemerintah setempat untuk menutup lokasi kami bekerja dan tinggal. Mak Ute tak bisa berbuat apapun lagi. Ini juga kami sudah bubar satu persatu. Banyak di antara kami yang sudah kembali ke keluarga masing-masing. Aku juga akan kembali ke keluargaku, Run. Tabunganku dari dagang badan selama ini sudah cukup buat usaha. Hanya saja, rasanya aku tak tega membiarkan mak Ute sendirian di masa tuanya."
Seruni sangat terkejut mendengar hal itu. Warung remang-remang itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Seruni merasa, mungkin ini memang sudah jadi bagian rencana tuhan sang pemilik alam dan segala yang ada di bumi dan di langit. Mak Ute pernah bilang kepada Seruni, bahwa dia akan berhenti menjadi mucikari ketika warung remang-remang itu akan dipaksa tutup. Mungkin inilah saatnya mak Ute berhenti.
Hal itu kemudian disampaikan Seruni kepada Bima pada malam harinya ketika mereka akan tertidur. Bima juga jadi ikut memikirkan. Meski bisa merasakan kesedihan Seruni, tapi mereka juga bersyukur karena nampaknya mak Ute sendiri juga sudah ingin berhenti dari pekerjaan itu. Karena mak Ute tentu bisa dengan mudah mencari lokasi baru, apalagi semua anak buahnya begitu setia tak mau berpisah. Tapi dari kisah yang Seruni dengar dari Rini siang tadi, mak Ute sudah meminta mereka untuk kembali ke keluarga masing-masing dan meninggalkan pula pekerjaan itu. Ia tak lagi punya keinginan untuk menjadi mucikari.
"Aku akan telepon Laras besok, mak Ute bisa tinggal bersama Laras di rumah kita di desa sana, Sayang. Mak Ute akan membantu Laras mengelola usahamu di desa kita."
__ADS_1
Seruni menatap Bima berbinar. Ternyata mereka satu pemikiran. Ia tak sabar ingin segera melaksanakan niat baik itu. Sudah saatnya ia membalas semua kebaikan mak Ute dulu kepadanya.