
Foto-foto tak senonoh yang Tobi ambil nyatanya membuat pria itu dalam masalah besar. Bima sudah menghubungi aparat setempat dan akan memproses lelaki itu. Seruni pun sudah dikabari akan hal itu.
"Aku mesti kembali ke desa kita, Run. Tobi harus diberi pelajaran."
"Terserahlah, Bim, aku pun sudah jengah dengannya. Kehidupannya seperti tak tenang jika tak mengusikku. Sedari aku masih tinggal di desa itu, dia selalu berusaha melecehkanku. Mungkin sekarang saatnya dia jadi pesakitan di jeruji besi," sahut Seruni sambil menyesap es jeruknya.
Saat ini, ia dan Bima memang sudah berbaikan. Mereka sedang makan di sebuah warteg. Banyak teman-teman Bima dari anggota kepolisian yang sudah tahu dengan hubungan mereka. Bima pun sudah terang-terangan menunjukkan kepada siapa saja bahwa dialah lelakinya Seruni.
"Maafkan aku kemarin sempat mendiamkanmu."
Seruni menatap Bima, lalu mengangguk. Seruni memang paling malas memperpanjang masalah. Lagipula, dia mengerti jika Bima cemburu berat. Hal itu sebenarnya lucu bagi Seruni, di balik penampilan dan sikapnya yang gagah dan tegas, Bima masih suka merajuk. Dan Serunilah yang bisa membuatnya cepat sadar dari kekhilafan.
"Jangan begitu lagi. Semua hal harus diselesaikan dengan kepala dingin. Aku ini, kalau mau berbuat mesum dengan pria lain tentu sudah kulakukan sejak dulu, Bim. Sejak aku kau tinggalkan."
Bima mengatupkan bibir, mau tak mau ia jadi tertampar dengan kata-kata Seruni barusan.
"Ya, aku memang salah menilaimu, Sayang."
Seruni menoleh, tadinya memberengut wajahnya tapi kemudian senyumnya terulas. Bima pun membalas senyuman itu. Mereka menghabiskan makanan masing-masing kemudian. Bima melihat Seruni yang semakin cantik setelah menjadi sekretarisnya Angga.
Angga? Ah, tergelitik hati Bima ingin membicarakan lelaki itu. Lagi-lagi mulailah hatinya sedikit cemburu.
__ADS_1
"Nanti kalau kita menikah, kau berhenti saja bekerja ya? Kau jadi ibu bhayangkari yang baik saja di rumah. Aku akan membahagiakanmu, Seruni. Jadi, tak usahlah bekerja lagi jika kita sudah sah menjadi suami dan istri kelak."
Seruni menoleh sesaat lalu mengangguk. "Iya kalau kita berjodoh dan menikah, tentu aku akan ikut semua kata-katamu, Bim."
"Kita kan memang akan segera menikah," tegas Bima kepada Seruni yang hanya tersenyum kecil.
Mudah sekali Bima berkata seperti itu, sementara restu belum juga mereka kantongi.
"Niatku untuk mempersuntingmu memang sudah tak bisa kutahan lagi, Seruni."
"Ya, jika kita jodoh tak kan kemana, Bim."
Setelah beberapa hari dari perbincangan di warteg itu, Bima kembali ke desanya. Di sana, Tobi di interogasi dengan berbagai macam pertanyaan. Lelaki itu mengakui jika memang dia yang menyelinap.
"Bisa-bisanya kau datang ke tempatku seperti itu! Mau kau perk*Sa pula Seruni!" Mak Ute yang turut dipanggil menjitak-jitak kepala Tobi dengan kesal.
"Diamlah, Mak! Tak usahlah ikut campur urusanku dan Seruni!" Tobi menghindari setiap jitakan itu tetapi itu malah membuat mak Ute semakin terbakar emosi.
"Bah!!! Bagaimana pula kau bilang itu bukan urusanku? Tempat itu punyaku! Kau masuk mengendap-endap seperti maling lalu mau kau jahati Seruni pula, kau bilang itu bukan urusanku?!"
Satu tamparan melayang di wajah lelaki itu. Bima mendekat, menyudahi aksi brutal mak Ute memukuli Tobi.
__ADS_1
"Sudah, Mak, biar aku yang menyelesaikan lelaki gila ini."
"Heh, dari dulu kau tau sendiri aku memang suka pada Seruni. Tapi kau musti tahu, ada yang menyuruhku melakukan itu. Aku sudah dibayar cukup mahal oleh orang yang kau percayai selama ini!"
"Omong kosong apa yang sedang kau katakan ini? Aku akan segera menyeretmu ke penjara!"
Tobi tertawa keras mendengarnya. Ia menatap Bima dengan tatapan mengejek.
"Kau pikir setelah kau jadi orang berseragam di kota besar, lantas kau bisa dengan mudah memenjarakan aku?" tantang Tobi.
"Jangan banyak bicara, bedebah seperti kau memang pantas berada di penjara!"
"Boleh saja kau memenjarakan aku, tetapi jika aku masuk ke penjara, maka kah juga akan memenjarakan adikmu!"
Bima dan orang-orang di dalam ruangan itu terdiam, begitu pula dengan mak Ute yang membelalakkan matanya mendengar hal itu. Apa maksud Tobi sebenarnya?
"Apa maksudmu?! Jangan bermain-main denganku!" Satu tinju melayang ke wajah Tobi dari Bima yang memang sudah menahan geram sedari tadi.
"Adikmu yang bin*l itu yang sudah menyuruhku! Dia yang sudah merencanakan semua ini! Jadi silahkan, penjarakan aku juga adikmu yang sok suci itu!"
Amarah Bima meledak seketika. Ditinjunya Tobi berkali-kali lalu setelah ia lelah, disentaknya mobil yang ia kendarai dengan cepat. Lelaki itu menuju ke kantor kelurahan. Menarik paksa adiknya yang tengah berada di dalam ruangan, membawanya menuju rumah mereka. Kali ini, kesabaran Bima akan Laras dan keluarganya sampai di puncak kepala!
__ADS_1