Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Mak Ute Ikut Seruni


__ADS_3

Nampaknya, rencana Seruni untuk membawa mak Ute kepada Laras jadi berbelok arah. Dia mempunyai rencana yang lebih baik. Hal itu sudah disampaikannya kepada Laras yang awalnya sudah setuju mak Ute akan tinggal bersamanya dan mengelola usaha di desa itu bersama, tetapi Bima dan Seruni sekarang merubah keputusan mereka. Mereka akan membawa mak Ute langsung ke Jakarta untuk menemani tinggal bersama.


"Jadi mak Ute tidak jadi tinggal bersamaku?" tanya Laras saat mereka sedang terlibat pembicaraan di telepon beberapa saat yang lalu.


"Biarkan mak ikut aku saja, Ras. Di sini juga aku tak ada yang temani kalau Bima sedang dinas. Kau tidak masalah kan kalau sementara mengelola usahaku di desa sendiri dulu? Atau kalau kau punya orang yang bisa kau percaya kau bisa merekrutnya beberapa." Seruni berkata kepada Laras dengan sedikit berpikir.


"Baiklah kalau begitu, aku tak masalah, Mbak, yang penting semuanya sudah dibicarakan dengan abang saja. Kalau memang itu yang terbaik, aku pasti tidak masalah."


"Kalau begitu, nanti aku akan pergi ke desa beberapa hari lagi untuk menjemput mak Ute," kata Seruni kepada Laras tetapi Laras segera melarangnya.


"Tak usah lah, kau kan sedang hamil muda, tidak baik perjalanan jauh seperti itu. Aku akan mengantar mak Ute ke Jakarta sekalian aku mau mengunjungi kalian," kata Laras yang disambut antusias pula oleh Seruni.


Tadi dia juga ingin seperti itu, tetapi dia tidak mau merepotkan adik iparnya itu dan dia bersyukur ternyata Laras mempunyai pemikiran yang sama dengannya.


"Baiklah, terima kasih ya, Ras. Aku sangat terbantu sekali dengan adanya kau. Aku akan menunggu kedatangan kalian."

__ADS_1


Pembicaraan itu terhenti kemudian. Seruni juga sudah mengatakan kepada Bima tentang rencana kedatangan Laras bersama mak Ute dalam beberapa hari lagi.


Semua hal sudah diurus oleh Laras dari desa sana dan mak Ute pun telah dikonfirmasi bersedia akan mengikuti Seruni ke Jakarta. Perempuan itu juga sudah bertaubat, tidak mau lagi menjadi mucikari seperti dulu. Lebih baik dia bersama Seruni di Jakarta dan menjalani kehidupan yang baru.


"Kalau mak Ute ada di sini, aku tentu saja akan sangat bahagia, Mas," ungkap Seruni pada malam harinya. Bima hanya tersenyum saja menanggapi. Dia juga sudah menganggap mak Ute seperti ibunya sendiri.


"Aku setuju saja dengan semuanya, Run. Semua yang terbaik menurutmu, maka itu pasti yang terbaik pula bagiku."


"Terima kasih ya, Mas, atas pengertiannya. Aku tidak bisa membiarkan mak Ute terlalu jauh dariku, dia sudah terlalu banyak berkorban jasa dalam kehidupanku. Sekaranglah saatnya aku membalas, kalau aku tidak bisa bersama dengan ibuku di masa tua, maka mungkin Allah telah menggantinya dengan keberadaan mak Ute."


"Ya, Mas, beberapa hari lagi Laras akan membawanya ke sini," kata Seruni dengan berbinar-binar menutup malam itu sebelum ia terlelap di dalam pelukan Bima suaminya.


Beberapa hari kemudian, tepatnya empat hari dari Seruni menelepon Laras, akhirnya mak Ute sampai dengan selamat di kediaman Seruni juga Bima.


"Apa aku tak merepotkan kalian berdua?" tanya mak Ute dengan tak enak hati. Seruni kemudian meraih jemari mak Ute lalu menggeleng.

__ADS_1


"Apanya yang merepotkan, Mak? Aku lebih tenang kalau mak ikut aku di sini. Mak juga sudah sangat berjasa dalam kehidupanku dahulu, aku tak mungkin membiarkan Mak sendirian di masa tua," jawab Seruni penuh perhatian.


"Betul, Mak, kalau di desa juga tak terlalu banyak hal yang bisa membuatmu terhibur. kalau di sini kan banyak hal yang bisa dilakukan, nanti kalau bosan bisa minta antar abang atau Mnak Seruni untuk pergi berjalan-jalan," imbuh Laras sambil tersenyum.


"Aku hanya tak enak hati, kalian tahu sendiri apa pekerjaanku dahulu. Rasanya tak pantas saja, takut akan membuat malu," kata mak Ute rendah diri.


"Semua orang itu punya masa lalu, tapi kan kita tak lagi tinggal di sana, Mak. Lagipula, memangnya kami semua ini manusia suci? Tidak bukan? Kita semua berhak untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Iya tidak, Ras?" kata Seruni kepada Laras yang segera menggangguk.


"Betul, Mak, aku sama sekali tak keberatan Mak ikut kami ke Jakarta. Pokoknya di sini Mak tenang saja, kehidupan lebih baik bersama kami." Bima menambahkan, membuat Seruni bersama Laras dan mak Ute menoleh. Ternyata suaminya itu sudah pulang dari bekerja dan sudah sejak lama mendengar perbincangan mereka.


Begitulah pada akhirnya, Seruni, Bima dan juga mak Ute tinggal di satu rumah yang sama. Bima juga akan mengurus surat tinggal mak Ute bersama mereka serta akan lapor kepada RT dan RW setempat. Setiap harinya Seruni akan ditemani mak Ute pergi ke butik. Kemudian sebelum melahirkan, mak Ute juga setia mengurus Seruni yang terkadang sering kalah dan kelelahan.


"Sebentar lagi kau akan segera melahirkan, Run, banyaklah beristirahat biar Mak yang mengawasi butikmu," kata mak Ute sambil mengantarkan susu hamil untuk Seruni yang segera diterima Seruni dengan senang hati itu.


"Terimakasih ya, Mak. Keberadaan Mak di sini benar-benar membantuku," balas Seruni pula, membuat keduanya jadi tersenyum hangat. Seruni akan segera melahirkan. Perutnya pun juga sudah membuncit sempurna, sudah tak sabar lagi dirinya untuk segera melahirkan buah hatinya bersama Bima.

__ADS_1


__ADS_2