
Pagi sekali Bima sudah terbangun dari tidurnya. Padahal dia hanya tidur dua jam sejak mengikuti kemana Seruni pulang. Dengan seragam yang membuatnya semakin gagah, ia masuk ke dalam mobilnya. Tujuan Bima bukan langsung ke kantornya tetapi ia melajukan mobil itu ke arah yang berlawanan. Dilihatnya sudah banyak pedagang asongan di samping mulut gang. Bima ragu apakah harus mengusik pagi Seruni sementara kemarahan masih saja bergelayut di mata indah perempuan itu.
Namun, Bima tetap turun dari mobilnya, mulai berjalan menyusuri lorong gang dengan banyak sekali penghuni yang menyapa dirinya takut-takut. Beberapa pemuda langsung balik kanan dan lari tunggang langgang. Bima hanya tertawa kecil melihat mereka. Apa yang ditakutkan dari pria berseragam coklat sepertinya?
"Om, mau kemana Om?"
Seorang bocah kecil mendekat, tak takut kepada Bima yang berjongkok kemudian di depannya. Bocah yang Bima taksir usianya tak lebih dari enam tahun itu tertawa, memamerkan gigi ompong di depannya.
"Maaf, Pak Polisi, maafkan anak saya." Sang ibu tergopoh-gopoh segera mendekat dan meminta maaf atas kelancangan puteranya yang telah menarik-narik celana Bima guna menghentikan lelaki itu.
"Oh, tak apa, Bu. Oh iya boleh saya bertanya satu hal?" tanya Bima kemudian.
Perempuan paruh baya itu mengangguk seraya menggendong anaknya yang masih tertawa lucu ke arah Bima.
"Itu, kontrakan yang paling ujung benarkah itu ditempati perempuan bernama Seruni?" tanya Bima dengan tampang serius.
"Betul, Pak Polisi. Ada apa rupanya dengan Seruni, Pak? Dia gadis baik, Pak. Dia tidak pernah bikin masalah."
Bima tersenyum lalu mengangguk. "Saya tahu, Bu. Saya hanya ingin bertanya, biasanya jam berapa saja pintu kontrakannya terbuka?"
"Seruni kerja malam, jadi kalau bangun mungkin akan kesiangan. Biasanya jam pintunya terbuka ketika jam sudah menunjukkan angka sebelas karena dia sering menunggu tukang lauk masak lewat, di jam-jam seperti itulah pintunya akan terbuka."
Bima mengangguk-angguk lagi. "Apa dia sudah lama tinggal di sini, Bu?" tanya Bima lagi, entah mengapa rasa ingin tahunya mengenai Seruni begitu besar sekarang.
"Sudah cukup lama, Pak. Mungkin ada lima tahun."
__ADS_1
"Ya sudah, terima kasih ya, Bu. Tolong jangan katakan kepada Seruni kalau saya datang ke sini."
Perempuan paruh baya itu mengangguk lagi, ia termasuk orang yang takut berurusan dengan polisi karena itu dia tentu akan menyanggupi permintaan dari Bima barusan.
Bima akhirnya melangkah lagi keluar mulut gang. Beberapa ibu-ibu yang sedang memilih sayur langsung berlarian mendekat ke arah perempuan tadi.
"Cari Seruni." Begitu kata perempuan tadi setengah berbisik.
"Gagah sekali ya. Apa Seruni ada masalah dengannya?"
"Atau mungkin itu suami orang?" tebak yang lainnya.
"Hush! Seruni tak seperti itu. Dia gadis baik-baik." Perempuan tadi membela Seruni.
"Kita tidak tahu, meski pekerjaan Seruni adalah cewek karaoke, tapi mungkin jumlah rakaat solatnya lebih banyak dari kita! Kita ndak tahu apa yang terjadi dengannya di masa lalu. Kita ndak tahu apa-apa. Urusan dosa biarlah Gusti Allah yang menghakimi. Kita manusia penuh dosa jangan suka menggunjing sesama."
Semuanya diam, perempuan itu berkata atas dasar sadarnya. Terlepas Seruni adalah perempuan yang suka bekerja pada malam hari tapi pernah secara tak sengaja ia melihat Seruni sedang menengadahkan tangan di atas sajadah dengan mukena putihnya. Gadis itu menangis sesenggukan. Seruni juga sangat baik, meski tak banyak bicara dengan para tetangga tapi dia suka membagi uang jajan kepada anak-anak mereka tanpa sepengetahuan ibunya.
"Tapi aneh sekali loh, Mbakyu, sampai ada polisi mencarinya."
"Biarkan itu jadi urusan Seruni dan pak polisi tadi. Kita ndak berhak ikut campur. Sudah, masak sana, nanti suami pulang ndak ada makanan di atas meja!"
Ibu-ibu itu bubar semua. Namun, di jam makan siang tepat ketika Seruni baru saja menyelesaikan zuhurnya, seorang pria mengetuk pintu. Berkerut kening Seruni yang belum sempat melepas mukena saat membuka pintu.
"Cari siapa, Mas?" tanya Seruni heran.
__ADS_1
"Ini Mbak Seruni ya?" tanya lelaki dengan helem dan jaket lengkap itu.
"Betul, saya Seruni."
"Ah, Alhamdulillah setelah sempat nyasar akhirnya ketemu juga. Ini ada kiriman makan siang untuk Mbak Seruni. Tolong diterima ya Mbak."
"Tapi saya gak pesan makanan, Mas," kata Seruni semakin bingung.
"Ada yang memesankannya, Mbak."
"Saya nggak mau terima kalau tidak tahu siapa pengirimnya."
"Waduh, gimana ya, Mbak. Masalahnya orang ini juga bilang untuk tidak mengatakannya kepada Mbak."
"Ya sudah kalau begitu, buat Mas saja ya."
Seruni hampir menutup pintu tapi akhirnya ia membuka kembali pintu itu setelah si pengantar makanan berjanji akan memberi tahu siapa pengirimnya.
"Dari Mas Bima, Mbak."
Seruni mengatupkan bibir. Dia kesal mendengar nama itu.
"Buat Mas saja!" Seruni segera menutup pintu, ia tak peduli lagi dengan pengantar makanan yang berteriak memanggil namanya. Seruni menarik nafas panjang. Ia menatap jam tangan yang tergantung.
"Aku harus mengembalikan benda itu," gumam Seruni pelan, meski ada rasa tak rela karena selama sepuluh tahun ini, benda itulah yang telah menemani Seruni kemana saja.
__ADS_1