Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Laras Mengamuk


__ADS_3

Suara pecahan barang dari kamar lantai atas kediaman nyonya Tono terdengar memekakkan telinga. Nyonya Tono belumlah lagi sempat untuk mengurusi anak bungsunya itu karena saat ini sedang sibuk menjelaskan kepada ibu-ibu arisan lewat telepon. Nyonya Tono adalah orang yang paling menjaga kehormatan keluarga mereka, lebih tepatnya tak boleh keluarganya itu terlihat buruk di mata orang lain.


"Cuma kesalahpahaman, Jeng. Biasalah, pertengkaran antara adik dan kakak. Tolong jangan berpikiran macam-macam ya."


Suaranya sengaja dilembut-lembutkan. Sementara di ujung telepon salah satu anggota arisan itu hanya mengangguk sesekali mengiyakan.


Setelah mematikan sambungan telepon, si nyonya besar bergerak cepat ke lantai atas. Amburadul isi kamar Laras. Semakin pening si nyonya dibuatnya.


"Nah, nah, mau ikutan gila kau Ras, seperti abangmu?" tanya nyonya Tono sambil geleng-geleng.


"Biar saja, Bu, biar Laras mati sekalian. Sudah dipermalukan abang begitu, sekarang. Laras ini bukan lagi jadi PNS. Malu, Bu, malu!" Meraung-raung Laras jadinya.


"Sudahlah, tak ada yang bisa kita lakukan. Masih syukur kau tak dipenjarakan! Lagipula, bisa-bisanya kau bekerja sama dengan abang tirinya Seruni. Cari mati kok tanggung-tanggung?!"


Laras menatap ibunya dengan pandangan nanar. Ia sebenarnya memang sangat iri dengan Seruni, bahkan sudah dari dulu, jaman masih sekolah, meski Seruni tampil lusuh dengan baju seragam sekolah yang warnanya sudah menguning di beberapa sisi, tak sedikit para siswa mengejarnya.


Seruni kan memang cantik, tubuhnya indah, hanya saja tak terbungkus pakaian bagus. Padahal, dulu Laras itu juara umum di sekolah. Seruni tak sepintar dia, tapi kenapa selalu Seruni yang dikejar laki-laki. Sampai akhirnya dia mendengar gadis itu suka dengan abangnya, itulah kesempatan Laras membully Seruni sejak dulu. Seruni kerja di warung remang-remang mak Ute, Laras bikin berita Seruni melaccur di sana. Seruni bisa bayar uang SPP dan tak menunggak lagi, Laras bikin berita, itu gajinya dari germo karena sudah menjual tubuhnya ke lelaki hidung belang.


Nyonya Tono sudah pusing, jadi terpaksa harus merestui anaknya meminang Seruni. Ia segera pergi ke kamarnya sendiri, keluarganya hancur lebur karena Seruni. Pokoknya pangkal masalah semuanya karena Seruni, titik!


"Bawa sial memang gadis itu!" desah nyonya Tono. "Kau tidak bicara apapun, tak mau membela Laras bahkan," sambung nyonya Tono kepada suaminya yang sudah berbaring untuk beristirahat sejenak dari aktivitas.


"Lagipula kau ini, Bu, anak itu sudah pada besar. Mereka punya kehidupan masing-masing. Jangan juga diatur semua hal. Jengah!"


Nyonya Tono melotot, suaminya pun tak menggubris dirinya. Suaminya membela Serunikah?


"Kau membela gadis itu?" tanya ibunya Bima dengan pandangan menyelidik.


"Bukan membela, tapi lebih ke membiarkan Bima menentukan jalannya sendiri. Dia itu sudah dewasa, lebih dari matang usianya untuk memilih siapa yang pantas dijadikan pendamping. "

__ADS_1


"Nah kan, kau membelanya," kata ibu Bima sembari menggerak-gerakkan jarinya sambil geleng-geleng kepala.


"Yang kekanakkan itu bukan Bima, tapi kau dan Laras. Apa salahnya gadis itu sampai kau benci setengah mati kepadanya?"


"Loh, matamu ini jereng apa gimana? Tak lihat gadis itu kerjanya apa? Ngawani orang nyanyi! Dipegang sana sini, jadi pemandu karoke, kalau bukan melaacur lantas opo?!"


Tuan Tono jadi gantian geleng-geleng kepala melihat istrinya masih menggerutu sendiri.


"Pedas sekali mulutmu, Bu. Mungkin sudah kebanyakan makan cabe dari kebun kita. Sudahlah, aku mau balik ke perkebunan, beberapa bibit yang kita tanam pada mati. Jangan sampai kena azab jadi mati semua karena ulahmu dan Laras."


"Loh kok malah nyalahi aku, Pak?!"


Tuan Tono mengibaskan jemari, jengah lama-lama berdebat dengan istrinya yang keras kepala. Sebagai kepala keluarga, ia bukannya tak bisa bertindak tegas, tapi malas mau berdebat panjang lebar dengan istrinya itu. Dia juga bebas menyerahkan semua keputusan kepada Bima, anaknya.


Kalau Bima sudah benar-benar serius kepada perempuan, sampai ingin menikahinya, berarti Bima sudah menjatuhkan pilihannya dengan tepat. Berarti, perempuan itu punya keistimewaan sendiri bagi Bima. Ya sudah, sebagai orangtua dia hanya bisa mendukung. Jelas, bertentangan dengan istrinya yang gila hormat.


"Tin! Titin!"


"Itu Laras masih ngamuk juga?" tanya perempuan itu sembari melihat barang-barang dalam keranjang yang sebagian sudah pecah dan akan dibuang.


"Masih, Nya, cuma ndak pakai acara hempas barang lagi, karena semuanya sudah pecah, Nya, ndak ada yang bisa dipecahkan lagi."


Nyonya Tono bergegas ke atas, kemudian melihat Laras sedang duduk bersimpuh di atas lantai.


"Mau kutemui Tobi, Bu! Biar kucabik-cabik mukanya karena berani membawa-bawa namaku dalam kebodohannya!"


"Mau cari mati?" tanya nyonya Tono balik.


Laras diam seribu bahasa. Dia kemudian membiarkan ibunya pergi lagi.

__ADS_1


"Tin! Titin!" Sekarang giliran anaknya yang memanggil Titin. Padahal pelayan di rumah itu ada tiga orang.


"Iya, Non, sebentar. Ya gusti, kenapa Titin lagi? Kan masih ada mbok Yem sama Yuyun!"


Pembantu itu menggerutu di bawah sembari membawa pengki juga sapu dengan setengah berlari. Ia segera membersihkan kamar itu sepenuhnya setelah Laras yang sudah seperti orang gila keluar dari sana.


Sekarang, Laras terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. Kakinya terlihat dihentak-hentakkan setelah beberapa kali membuat sambungan telepon tetapi tak ada yang mengangkat.


"Kemana sih, Bayu?!" tanya Laras dengan kesal sembari menatap ponsel yang masih berusaha menyambungkan panggilan.


Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.


Suara operator kemudian terdengar. Mata Laras terbelalak. Tadinya panggilan itu masih tersambung meski belum diangkat, tapi beberapa detik kemudian malah seperti dinonaktifkan.


"Awas kau, Bay!"


Laras duduk dengan kesal di undakan tangga rumahnya. Ia sedang ingin bertemu dengan Bayu tetapi lelaki itu malah menghilang begini.


Tak bisa dibiarkan, Laras tak suka diabaikan begini. Ia segera beranjak, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri kemudian mengganti bajunya dengan setelan rapi. Ia segera berdandan. Tak lam kemudian ia membawa mobil ibunya pergi ke luar.


Sesampainya di rumah Bayu, pintu rumah itu tertutup rapat tetapi mobilnya ada. Laras jadi curiga, didorongnya pintu itu, ternyata tak dikunci. Lalu samar-samar didengarnya suara Bayu sedang tertawa, kadang tersamarkan dengan suara televisi di dalam kamar lelaki itu.


Baru saja hendak menyentak handel pintu, Laras tersentak lebih dulu kala mendengar suara gelak tawa lagi, tetapi kali ini bukan suara Bayu, suara perempuan lalu diikuti erangan serta ******* erotis menjijikkan.


"Bajiingan!" Laras menyentak pintu, terlihatlah dua orang sedang bergumul di atas ranjang. Tanpa sehelai benang pun. Laras mengamuk lagi, dibantainya perempuan yang ia ketahui sebagai salah satu pegawainya mak Ute. Dihantamnya kepala perempuan itu dengan vas bunga. Perempuan itu ambruk ke lantai.


Sementara itu, Bima dan Seruni terlibat perbincangan di telepon saat ini.


"Terserah kepadamu, Run, mau kau apakan Laras. Dia memang adikku, ada ibaku sedikit kepadanya tetapi jika kau mau memenjarakannya, aku tak mengapa."

__ADS_1


Seruni diam membisu untuk beberapa waktu.


__ADS_2