
Seruni Masih begitu syok mengetahui rencana Bima yang dia pikir adalah rencana gila itu. Perkara menikah bukan hal yang gampang, apalagi Seruni saat ini sedang berusaha mengobati hatinya yang sudah terkoyak-koyak karena ulah Bima dahulu.
Namun, sesungguhnya, Seruni tersentuh. Bima menunjukkan kesungguhannya dengan tak tanggung-tanggung. Hanya saja, semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Selain karena Seruni bersumpah akan membenci Bima seumur hidupnya, juga karena kehidupan mereka yang bertolakbelakang, begitu kontras.
Dia hanya kaum pinggiran, sedari dulu terkenal dengan kemiskinan ketika di desa juga berasal dari keluarga broken home. Ya, sudahlah broken home, Seruni juga menderita broken heart karena Bima di masa lalu nya.
"Aku tidak mengerti apa yang ada di otak lelaki itu. Apa menikah dikiranya sebagai persoalan yang gampang? Sekedar ijab kabul semata?" Seruni menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tak habis pikir dengan rencana gila Bima yang ingin segera menikahinya.
Lagipula, ibu Bima tak menyukai Seruni. Oh, bukan hanya ibunya, tapi juga Laras yang sedari jaman sekolah dulu berkata dengan ketus dan angkuh bahwa Seruni tak pantas bersanding dengan abangnya.
"Aku harus bicara dengannya, kalau tidak, masalah ini akan semakin rumit dan aku tidak suka hidupku terusik," gumam Seruni sembari membuang kotak makanan lalu berjalan menuju toilet.
Di depan wastafel tepat setelah Seruni membersihkan mulutnya dari sisa makanan, ia mengeluarkan ponsel. Ditekannya kontak Bima.
"Ya, Sayang?"
Sayang? Seruni berdecak kesal dan sebal. Sejak kapan dia menjadi sayangnya Bima? Sementara di ujung telepon, Bima terdengar terkekeh kemudian.
"Ya, Seruni, kenapa meneleponku?" tanya Bima akhirnya setelah tak mendapat sahutan hanya karena dia menyebut Seruni dengan sebutan manis barusan.
"Aku ingin bicara denganmu, sepulang aku bekerja kelak."
"Tentu aku bisa. Tunggulah nanti aku akan menjemputmu."
"Tak usah, kita bertemu saja di warung kopi."
Setelah menyebutkan alamat lengkapnya tanpa sempat Bima menyela, Seruni sudah mematikan sambungan telepon. Lalu sembari menggenggam ponsel, Seruni berjalan keluar toilet. Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis cantik berpakaian seksi.
__ADS_1
"Kau yang namanya Seruni?" tanya gadis itu.
Seruni mengangguk, ia tak kenal siapa gadis yang tengah menatapnya tajam itu.
"Lila." Ia menyodorkan tangannya.
Seruni mengangguk paham, ternyata inilah Lila yang sering dibicarakan oleh staff lainnya saat ia mulai bergabung dan menjadi sekretaris Angga.
"Seruni." Seruni menjabat dan membalas Lila.
"Aku sudah tahu, aku sudah banyak mendengar tentang kau dari karyawan lain di sini."
"Lantas, kau ada perlu apa lagi denganku?" tanya Seruni tanpa basa basi lagi.
Lila mengangkat sebelah alisnya, merasa bahwa Seruni cukup berani untuk bertanya hal yang ia rasa seharusnya Seruni sudah paham.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Ini soal aku, kau dan Angga." Lila menegaskan.
Seruni tersenyum tipis sesaat.
"Aku tidak bisa memotong jam kerjaku untuk memberikannya kepadamu. Kau tahu namaku, sekarang aku pun tahu namamu. Tapi aku tidak tahu apa maksudmu menyebut tentang kau, aku dan Angga. Memangnya kita kenapa? Angga adalah atasanku. Aku karyawannya yang kebetulan dia jadikan sekretaris. Berarti urusanku hanya dengan Angga karena aku bekerja padanya. Jadi, aku tak ada urusannya denganmu, Lila. Urusan kau hanya dengan Angga dan mungkin akan lebih beradab jika kau tidak melibatkan aku dengan masalah kalian."
Seruni kemudian menunduk perlahan, lalu dia berjalan menjauh dari Lila yang memandangnya tanpa berkedip. Ia cukup surprise mendengar kalimat demi kalimat yang Seruni ucapkan. Terdengar begitu tegas meski diucapkan dengan perlahan dan lamat-lamat.
"Tapi kenapa Angga selalu membahas tentang kau?"
__ADS_1
Seruan dari Lila mau tak mau membuat langkah Seruni terhenti padahal dia sudah lumayan jauh dari gadis itu. Seruni memejamkan matanya sesaat, belum selesai betul urusannya dengan Atikah yang cemburu buta karena Bima membatalkan pernikahan mereka semenjak pertemuannya kembali dengan lelaki itu, kini, datang lagi masalah baru dan orang baru yang sekarang menyeret-nyeret dirinya juga.
"Kalau tentang itu, mungkin kau bisa tanyakan langsung kepada Angga. Aku hanya pegawainya, Lila. Aku bukan siapa-siapa Angga."
"Tapi kata Angga kau begitu istimewa hingga dia memutuskan hubungan kami demi kau," tuding Lila lagi.
"Aku tidak tahu jika Angga sampai berkat demikian, tapi kau harus percaya kepadaku bahwa hubunganku dengan Angga tak lebih dari sekedar hubungan antara karyawan dan atasannya."
"Kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan bermain hati dengan Angga? Kau harus tahu, Seruni, aku dan Angga saat ini memang sedang break tapi kami tidak putus jadi aku sangat tak rela jika Angga memutuskan hubungan kami karena kehadiran orang lain dan itu sepertinya kau."
"Kau boleh saja tidak percaya kepada Angga tapi kau mungkin bisa memegang kata-kataku, bahwa aku tidak akan melibatkan diriku lebih jauh dengan Angga di luar hubungan kami sebagai atasan juga bawahan. Maaf, Lila, aku rasa aku juga perlu meluruskan jika kedatanganku ke perusahaan ini murni karena aku memang ingin bekerja bukan untuk menggoda siapa-siapa termasuk Angga."
Lila kehilangan kata-katanya, ia hanya bisa mematung dan tertegun mendengar kalimat tegas yang diberikan oleh Seruni barusan. Sedang Seruni juga tak lagi menoleh.
"Seruni, bisa kita keluar malam ini?" tanya Angga menghampiri meja Seruni padahal Seruni baru saja duduk di sana.
"Maaf, Pak, aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku akan membicarakan pernikahanku dengan calon suamiku malam ini."
Angga tertegun. "Calon suami?" tanya lelaki itu nampak kecewa di raut wajahnya.
Dan Seruni mengangguk. Ia tak ingin Angga terus mendekatinya dan ia terkesan memberi harapan. Dia hanya ingin Angga tak menganggapnya lebih dari seorang karyawan.
Seruni sendiri menggerutu di dalam hati. Terpaksa harus mengatakan cerita palsu tentang pernikahannya dengan Bima.
__ADS_1
Memangnya siapa yang akan menikah?
Dia menarik nafas panjang, pusing mengurusi Bima dan Angga di saat bersamaan seperti ini.