Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Datang Dengan Luka juga Cinta


__ADS_3

Meski pulang dalam keadaan babak belur dihajar ayah Atikah, Bima bisa bernafas legas sekarang. Tak apa. Dia memang sengaja tak mau melawan tadinya, sebab dia memang harus legowo menerima resiko. Bima berjalan dengan langkah tenang keluar dari rumah Tika meski wajahnya sendiri sudah nampak membengkak. Baru saja hendak masuk ke dalam mobil, Atikah menghambur ke dalam pelukan lelaki itu.


"Bim ... Kau tak boleh begini kepadaku! Apa salahku, Bim hingga kau tega membatalkan pernikahan kita?"


"Maafkan aku, Tika. Aku tahu ini berat bagimu, tapi kalau aku nekat meneruskan pernikahan itu kelak, kaulah yang akan tersiksa nantinya."


"Tidak! Aku yakin ada sesuatu yang membuatmu akhirnya membatalkan rencana pernikahan kita kan? Kau cinta padaku, Bim! Iya kan? Sama seperti aku yang mencintaimu!"


Bima menggeleng lalu melepaskan rengkuhan Atikah perlahan. Ia memegang kedua pundak perempuan itu yang masih menangis tersedu-sedu di depannya.


"Atikah ... Maaf, aku sungguh baru menyadari bahwa aku sesungguhnya tak memiliki rasa cinta yang sedemikian dalam kepadamu. Memang terdengar egois, tapi akan lebih menyakitkan jika kita menikah tapi kau tak bahagia kelak. Aku hanya tak ingin semuanya terlambat."


"Bohong! Kau cinta kepadaku! Tapi kehadiran perempuan bernama Seruni itulah yang akhirnya membuat aku tersingkir dari hatimu! Iya kan? Iya, Bim! Mengakulah, Bim!" desak Atikah sambil menarik-narik bagian depan jaket kulit yang Bima kenakan.


Bima memejamkan matanya sesaat kemudian ditatapnya Atikah dengan selaksa rasa bersalah. Namun, ia harus tegas kepada dirinya sendiri. Lebih baik Atikah sakit sekarang daripada kelak dengan memaksa pernikahan di antara mereka tetap terjadi.


"Tika, dengarlah, aku akan membuat pengakuan kepadamu. Sebuah dosa yang aku lakukan di masa lalu."


"Apa ini ada kaitannya dengan Seruni?" tanya Atikah dengan tatapan menyipit.


Bima mengangguk.

__ADS_1


"Benar, Tika. Aku adalah pria brengsek yang dulu pernah merenggut kesucian Seruni. Akulah yang membuat hidupnya berantakan selama ini. Akulah yang sudah menggagahinya tanpa ampun sepuluh tahun yang lalu ketika dia masih berusia tujuh belas tahun. Dia masih sekolah waktu itu, Tika. Dia seusia adikku. Akulah pria yang telah membuatnya sedemikian dingin."


Atikah melepaskan pegangannya pada jaket Bima, tapi tatapannya memelas. Atikah menggeleng.


"Itu sudah berlalu, Bim! Itu sudah berlalu! Biarkan saja! Aku mencintaimu meski apapun yang telah kau lakukan di masa lalu kepadanya! Aku tak peduli, Bim! Yang aku inginkan hanyalah kau!"


Bima menggeleng, ia tidak bisa menuruti Atikah.


"Atikah ... Sungguh selain karena aku harus bertanggungjawab terhadap apa yang pernah aku lakukan padanya dulu, jujur saja, aku sudah jatuh cinta kepadanya. Aku mencintainya, Tika. Aku ingin memperjuangkannya."


"Bim!!!" Atikah menjerit.


Bima terpaksa harus melepaskan Atikah yang terus berteriak seperti orang kesakitan. Kedua orangtua Atikah keluar dan menarik paksa gadis itu untuk masuk. Bima sendiri hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, kemudian pada akhirnya ia kembali masuk ke dalam mobil.


Bima melangkah dengan tenang setelah memarkirkan mobilnya di depan gang. Beberapa perempuan paruh baya yang memang sering duduk di undakan dekat kontrakan menatap terkejut Bima yang tampak babak belur.


"Cari Seruni, Pak?" tanya seorang ibu-ibu.


"Iya, Bu. Dia ada?" Bima menyahut ramah sekalian bertanya.


"Ada, Pak. Baru saja kembali dari warung tadi."

__ADS_1


Bima bernafas lega. Ia tidak akan menyurutkan langkah lagi. Sekalipun Seruni terus menolak dirinya. Sekalipun Seruni tetap akan membencinya.


Bima mengetuk pintu beberapa kali. Terdengar suara Seruni sedang menggoreng sesuatu, sepertinya gadis itu sedang masak. Kemudian terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka dan Seruni muncul dengan dress rumahan dan rambut yang dicepol sembarang.


"Mau apa lagi kau?" tanya Seruni dingin, ia melihat luka di wajah Bima sekilas, sempat terenyuh tapi teringat kejadian sepuluh tahun yang lalu, jelas lukanya lebih dalam. Seruni masih berdiri di antara sela pintu, bahkan belum sepenuhnya membuka pintu.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Run."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan."


"Aku akan menunggumu sampai kau mau berbicara denganku."


"Pulanglah, kawasan kumuh ini bukan tempatmu," balas Seruni lagi.


"Run ..."


"Pulang!" desis Seruni.


"Aku akan menemuimu lagi kelak."


Bima berbalik tapi belum sempat dia melangkah lebih jauh, Seruni melihat darah mengalir dari sela kepala lelaki itu. Hati Seruni semakin terenyuh, ia tiba-tiba merasakan sakit yang sama. Matanya memancarkan kepedulian kendati benci masih mendominasi.

__ADS_1


"Bima ..." panggil Seruni akhirnya membuat Bima menoleh. "Masuklah dahulu, aku obati memar dan lukamu."


Bima tersenyum kecil, merasa sangat bahagia karena Seruni mau menahan langkahnya. Bima merasa tak sia-sia dia dihajar habis-habisan oleh ayah Atikah, kedatangannya ke kontrakan Seruni tentu karena cinta meski sekalian dengan luka pula.


__ADS_2