
"Run, coba kau jangan terlalu cepat memutuskan. Aku rasa, Bima memang betulan serius sampai dia mengusahakanmu untuk datang dan membawamu ke depan keluarganya."
Mak Ute berkata sembari menyulut rokok. Di sisi keningnya kiri dan kanan tertempel koyo. Tadi sewaktu Seruni datang dengan raut tenang tapi menyisakan sembab di mata, mak Ute paham bahwa perempuan itu nampaknya sedang dikuasai kesedihan. Jadi sekarang, di sinilah mereka, di bawah batang akasia yang lebat dan besar juga tinggi pohonnya, dengan daun kehijauan yang memayungi, menghalangi sinar mentari terik siang itu.
Seruni masih nampak diam dan melamun, tatapannya sampai ke kejauhan. Beberapa kali pula, dalam diamnya, mak Ute melihat Seruni nampak menarik nafas panjang dan dalam.
"Aku tidak mengerti, Mak, apa harta begitu kuat pengaruhnya dalam strata sosial di dunia ini? Sedari dulu, dari aku kecil sekali, aku kerap dipanggil si miskin. Sudah miskin, keluarganya berantakan pula," gumam Seruni seraya menarik nafasnya panjang. Tatapannya pun masih menerawang. Mak Ute ikutan menarik nafasnya berat, seakan tahu beban yang sedang dirasakan perempuan yang sudah dianggap anak olehnya itu.
"Ya begitulah, Run, kaum pinggiran seperti kita memang kerap dipandang hina oleh orang-orang yang kaya di luar sana. Tapi bukan berarti, kita tak memiliki tempat pula di dunia ini. Nah kalau kasus kau ini, calon mertuamu itu yang memang nampaknya gila kehormatan. Cuma kembali lagi, Bima tak sama dengan ibu bapaknya atau adiknya yang kata kau kemarin mulutnya pedas seperti sambal buatan Rini. Bima itu betulan sayang kau, Run. Dia betulan pengen kau jadi istrinya."
Seruni menoleh, dipandangnya lekat mak Ute yang masih asyik merokok.
"Perkara menikah itu bukan hal yang bisa dipandang enteng, Mak, aku sudah putuskan tak akan mau menikah dengan Bima jika tak ridho orangtuanya. Siapa, Mak, yang mau menjalani biduk rumah tangga dengan tak ada restu di dalamnya."
"Yang akan menjalani pernikahan juga menjalani rumah tangga kan kau, Run, bukan keluarganya Bima. Lagipula, kau tak kasihan apa melihat Bima?"
"Apa yang mesti aku kasihani dari dia, Mak? Dia orang hebat, kalau hilang aku dari hidupnya, banyak lagi perempuan yang rela mengantri untuk jadi istrinya. Aku juga tak mau nanti Bima terbebani dan ikut dibenci oleh keluarganya yang maha tajir itu. Belum lagi, aku harus menghadapi mulut Laras yang sedari jaman sekolah dulu sampai sekarang memandangku tak ubahnya sampah," ujar Seruni datar.
"Tapi dia maunya kau yang jadi bininya, Run. Mak tahu bagaimana dulu Bima berkisah begitu menyesalnya dia sudah melakukan kesalahan fatal padamu dahulu," sahut mak Ute.
__ADS_1
"Mak tahu?" Seruni menoleh dan tertegun sesaat. Mak Ute mengangguk.
"Dia pernah menceritakannya kepada Mak."
Seruni tak lagi menyahut.
"Dia betulan menyesal dan sekarang kurasa, dia memang sudah tergila-gila kepadamu."
"Tetap saja aku tak mau sampai dia dan keluarganya bercerai berai. Biar sajalah, Mak, mungkin memang aku tak ada jodoh dengan Bima," ujar Seruni lirih. Kata-katanya sarat akan kesedihan juga kekecewaan.
Seruni juga tak sepenuhnya terkejut dengan penolakan yang diberikan keluarga Bima. Ia hanya sedikit kecewa, karena ternyata nasib baik belum mau menghampiri dirinya. Padahal yang dia harapkan hanyalah restu dari keluarga Bima.
"Untuk sekarang, aku belum siap, Mak. Biarkan saja Bima menenangkan dirinya begitu juga denganku."
Mak Ute geleng-geleng sambil menatap Seruni. Persoalan cinta memang serumit ini, hingga dia jadi mengerti mengapa para pekerjanya memilih jadi pelac*r saja daripada pusing memikirkan persoalan cinta yang bikin otak dan hati sakit.
"Istirahatlah kalau begitu, Run, kamarmu sudah mak bersihkan."
Seruni mengangguk lantas segera beranjak menuju kamarnya dahulu.
__ADS_1
"Run ..."
Seruni menghentikan langkahnya, ditolehkan kepala lalu dia menunggu apa yang mau dikatakan mak Ute lagi.
"Bagaimana pula kalau Bima mencari kau sampai kemari?"
"Katakan saja kepadanya, Mak, biarkan aku dan dia menenangkan diri dahulu. Besok saja kalau mau bertemu. Aku akan menunggunya di dekat ladang warga tak jauh dari warung Mak ini."
Lalu Seruni meneruskan langkahnya. Mak Ute membiarkannya pergi. Kasihan juga mak Ute kepada Seruni. Sedari dulu sudah begitu menderita. Meski jarang menangis di depan orang lain, tetapi Seruni lebih suka menyimpan dukanya sendirian di dalam hati. Seperti sekarang, meski bisa berkata dengan tenang di depan mak Ute dan masih kuat menyapa seraya mengajak pekerjanya bercanda, sejatinya Seruni sedang menyimpan kesedihan yang begitu dalam.
Berapa menit setelah Seruni masuk ke dalam bilik kamarnya dahulu, seseorang terdengar memanggil di depan. Mak Ute menemukan Bima sedang berdiri di depan pintu warung remang-remangnya.
"Aku ingin bertemu Seruni, Mak," ujar Bima langsung tanpa basa basi lagi.
"Tadi Seruni titip pesan, katanya kau baru bisa bertemu dia besok. Di sawah belakang sana."
Bima memejamkan matanya sesaat lalu mengusap wajahnya gusar.
"Baiklah, Mak, katakan kepadanya aku akan menemuinya besok."
__ADS_1
Mak Ute mengangguk, Bima pun berlalu. Sedang Seruni kini memilih untuk memejamkan mata, tubuhnya butuh istirahat, terlebih hatinya.