
Dalam pesawat yang akan mengantarkannya segera ke Jakarta, Bima masih merenung. Ia sudah bersiap dengan segala resiko yang akan diterimanya. Sekalipun nanti mungkin bogem mentah akan ia dapatkan dengan ayah Atikah. Tak apalah, Bima sudah bertekad akan membatalkan segera rencana pernikahan mereka sebelum terlambat.
Maka ketika pesawat telah mendarat dengan selamat di landasan bandara Soekarno-Hatta, Bima juga melangkah dengan penuh wibawa dan rasa percaya diri. Meski ada segurat rasa gelisah yang membayang, tetapi Bima tetap harus menjaga dirinya agar senantiasa tenang. Dia tidak mau nanti malah mengacaukan segala rencana yang sudah disusun sedari kemarin hanya karena tidak tega pada Atikah.
Bukannya apa, jikalau pun nanti jadi menikah dengan gadis itu, pernikahannya sudah dipastikan tidak akan bahagia karena hatinya sekarang sudah diisi oleh orang lain. Bukan pula sampai hati, Bima hanya tak mau terlambat dan terlanjur.
"Apa aku perlu menjemputmu, Bim?" tanya Atikah di telepon barusan.
"Aku membawa mobil yang sengaja kutinggalkan di bandara, Tika. Biar nanti aku menjemputmu sekalian."
"Baiklah, aku sungguh tak sabar ingin bertemu dan melepas rindu denganmu."
Kali ini Bima diam. Tujuannya bertemu dengan Tika jelas bukan karena ingin melepaskan kerinduan, melainkan membatalkan pernikahan. Bima menuju mobilnya yang terparkir rapi. Ia meletakkan koper di bagasi dan langsung menuju bank tempat Atikah bekerja. Dia memang mengambil jadwal penerbangan sore agar bisa sekalian menjemput Atikah.
Ketika sudah hampir sampai di depan bank, terlihat Atikah sudah menunggunya. Gadis itu cantik dengan kemeja ketat berwarna putih dilengkapi blazzer kerjanya juga dengan bawahan rok yang sedikit di atas lutut.
Sesampainya di dalam, Tika langsung menghujani Bima dengan ciuman di pipi lelaki itu. Semakin berdebar Bima jadinya, ia yakin pembatalan pernikahan kelak akan membuat Atikah sangat terluka.
"Sayang, kau tak suka bertemu denganku lagi?" tanya Atikah setelah menyadari ada yang aneh dari lelaki di sampingnya itu. Bima menggeleng perlahan.
__ADS_1
"Kita langsung ke rumahmu saja ya. Ada ayah dan ibumu bukan?"
Atikah mengangguk dengan semakin heran. Di perjalanan menuju rumahnya pun, Bima lebih banyak diam, tak seperti seorang lelaki yang rindu dengan kekasihnya setelah berpisah satu minggu lebih.
Seorang security membuka pagar rumah Atikah yang bertingkat dua dan besar itu. Atikah turun bersama Bima.
"Duduk dulu, Bim, biar aku panggilan mama dan papa."
Bima lagi-lagi hanya mengangguk sementara itu, perasaan Atikah sudah tak tenang sedari tadi. Sampai akhirnya Atikah kembali lagi dengan kedua orangtuanya yang tentu saja tersenyum menyambut kedatangan calon mantu.
"Om, Tante." Bima menyalami mereka dengan hormat dan sopan.
"Ya, kedatangan saya ke sini memang ada kaitannya dengan rencana pernikahan itu, Om."
"Memangnya ada apa, Nak Bima? Bukannya sudah sepakat tanggal dan harinya? Kalian hanya perlu mengurus surat undangan untuk para tamu juga menentukan di hotel mana acara itu akan berlangsung." Nyonya Salma ikut menimpali.
Bima menarik nafasnya panjang. Ia menatap kedua orangtua Atikah dengan gejolak perasaan yang mulai berkecamuk di kepala.
"Om, Tante, juga kau, Tika, aku benar-benar memohon maaf dengan keputusan yang sudah matang aku pikirkan mengenai rencana pernikahan itu."
__ADS_1
Bima berhenti sesaat, kedua orangtua Atikah saling berpandangan. Mereka semakin heran. Ada apa ini sebenarnya, mengapa hati mereka mulai tak nyaman. Apalagi Atikah, hatinya sedari tadi seperti sedang bergejolak hebat.
"Saya memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini," kata Bima akhirnya dengan segala pertimbangan dan juga pemikiran yang sudah benar-benar matang.
Atikah membelalakkan matanya, kedua orangtua Tika nyaris lemas seketika mendengar kata-kata yang baru saja meluncur dari bibir calon menantu mereka itu.
"Bim! Kau bercanda kan?!" Atikah meradang, matanya mulai memerah.
"Ya, Bima, apa maksudnya semua ini?! Kau sudah melamar Atikah, kenapa tiba-tiba membatalkan semuanya?!" Suara tuan Roni seketika membesar. Bima tetap berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Maafkan saya, Om. Saya tidak bisa lagi meneruskan rencana yang pernikahan dengan Atikah. Saya benar-benar meminta maaf."
"Semudah itu kau mengucap maaf?!" tanya tuan Roni yang sudah berdiri.
"Aku tidak terima, Bim! Aku tidak mau gagal menikah denganmu!" Atikah berlari lalu meninggalkan mereka.
Bima menarik nafasnya panjang, belum lagi sempat bernafas lega karena sudah berhasil membuat keputusan berat itu, Bima merasa sakit. Tuan Roni baru saja memberinya bogem mentah beberapa kali. Nyonya Salma terpaksa memanggil staff keamanan untuk segera meredakan suaminya. Bima sendiri hanya diam tak membalas serangan dari ayah Atikah, kendati tentu ia lebih lihai dalam hal bela diri, tetapi dia sadar itu memang karena salahnya. Jadi dia tidak akan melawan hantaman demi hantaman yang diberikan oleh ayah Atikah.
Sementara di dalam kamarnya saat Atikah tengah menangis tersedu-sedu, ia terkenang dengan satu raut wajah. Seruni. Feeling Atikah mengatakan, sebab kehadiran Serunilah akhirnya Bima membatalkan rencana pernikahan mereka. Atikah harus secepatnya melabrak Seruni! Dia akan mencari tahu siapa Seruni sebenarnya dan dimana dia tinggal
__ADS_1