Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Pernikahan Yang Akan Segera Digelar


__ADS_3

"Jadi kapan kau akan meminang gadis itu, Bim?" tanya tuan Tono keesokan paginya ketika ia dan Bima sedang duduk di meja makan.


"Sekembalinya aku ke Jakarta, Yah. Ayah setuju bukan?"


"Semua keputusan ada di tanganmu, Bim. Sudah, jangan hiraukan yang lainnya. Pinanglah gadis itu, kan lebih baik cepat menikah daripada nanti terjadi khilaf."


"Khilafku sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, Yah. Rumah yang sedang dibangun di dekat gapura desa itu jadi saksinya," ungkap Bima jujur.


Ayahnya terdiam, tapi ia tak menanyai apapun lagi mengenai hal itu lebih lanjut. Yang jelas, tuan Tono memang sudah merestui Bima untuk menikah dengan perempuan pilihannya.


"Pokoknya, kalau memang sudah siap dan matang niatmu itu, ya sudah, jangan lagi menunda."


Ibunya Bima hanya diam, tak mau menyahuti apapun. Ia tak bisa lagi melarang Bima untuk menikahi Seruni sebab Seruni masih baik tak membawa kasus kemarin ke ranah hukum. Namun, ia tentu tak akan semudah itu menerima Seruni sebagai menantunya.


"Kau mau kemana, Ras?!" Nyonya Tono berseru kepada Laras yang baru turun tanpa menyapa siapa-siapa, dengan pakaian rapi dan terburu-buru.


Bima masih malas dan tidak mau menegur Laras, dia masih emosi melihat wajah adiknya yang seperti tak merasa bersalah sama sekali itu.


"Aku berangkat dulu, Yah, Bu. Mau lihat rumah baru buat Seruni, kata mandornya, sudah hampir rampung."


Ibunya tak menyahut, hanya ayahnya yang mengangguk.


"Kau jadi pulang siang kelak?" tanya tuan Tono sebelum Bima pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Ya, setengah dua berangkat."


Lagi-lagi ayahnya mengangguk. Bima tak sabar ingin segera mengabarkan berita baik ini kepada Seruni. Ia juga akan pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin untuk perempuan yang dicintainya itu.


Sesampainya di rumah dengan bilik bambu, Bima tersenyum. Ia melihat bekas bangunan itu sekarang sudah berdiri rumah megah bertingkat dua. Banyak sekali warga yang mengagumi rumah yang sudah hampir selesai itu.


Bagian yang paling Bima sukai adalah bekas bilik dimana penyesalan masih tertinggal di dalamnya. Bilik itu kini telah berubah menjadi kamar yang lebih luas, dengan dinding bercorak bambu yang dilukis khusus oleh seniman asal desa itu pula. Hanya ruangan itu yang seluruh dindingnya berbeda dengan ruangan lain, karena dinding selain itu hanya bercat putih bersih.


Bima juga sudah mengabari Seruni bahwa dia akan kembali hari itu juga, mungkin setelah magrib akan sampai.


"Paling seminggu lagi selesai ini, Pak Bima."


Bima menoleh, menemukan mandor dengan seorang tukang di belakangnya. Bima mengangguk.


Bima kemudian pergi keluar dari tempat itu. Ia mengunjungi mak Ute, perempuan itu menyuguhkan minuman dingin untuk Bima.


"Kebetulan kau datang, ada yang mau aku bilang."


"Apa, Mak? Kebetulan pula aku juga ingin mengabarkan sesuatu."


"Ya sudah kalau begitu kau saja yang duluan."


"Aku akan segera melamar Seruni, Mak. Dalam beberapa hari ke depan."

__ADS_1


Mak Ute tersenyum lalu mengangguk, tentu ia senang dengan berita ini. Namun, kemudian wajahnya nampak serius lagi.


"Aku ikut bahagialah. Tapi aku punya cerita tak enak buatmu lagi-lagi ini ada hubungannya dengan adikmu."


"Kenapa lagi dia, Mak?" tanya Bima jengah. Dia jengah mendengar apapun tentang adiknya saat ini.


"Kemarin dia berkelahi dengan anak buahku. Kepala Sari sampai bocor. Untuk tak terlalu dalam, sudah dijahit di puskesmas kemarin."


"Loh, mengapa bisa begitu, Mak?" tanya Bima heran sekaligus tak enak hati.


"Si Bayu, itu memang sudah langganan di warung remang-remang ini. Dia memang sering sama Sari. Aku pun baru tahu kalau Bayu itu pacarnya adikmu."


Tangan Bima terkepal. Betul dugaannya, Bayu memang bukan pria baik-baik. Terlihat sopan padahal lelaki hidung belang juga. Bima tak mengomentari apapun soal itu lagi. Laras pun belum kembali ke rumah, entah kemana adiknya itu.


Akhirnya Bima pergi, diantar orang kepercayaannya menuju bandara dengan perjalanan tiga jam. Sekarang dia hanya ingin fokus mempersiapkan pernikahannya dengan Seruni, sebab mengurus pernikahannya akan cukup banyak proses karena mereka tidak hanya akan menikah biasa, mereka harus melaksanakan nikah kantor terlebih dahulu.


Seruni juga sekarang sebatang kara, jadi perwalian untuk acara pernikahannya juga harus diurus mulai dari sekarang. Kegiatan Bima memang cukup padat sekarang, tetapi dia bahagia sebab akan segera mewujudkan impiannya menikah dengan Seruni.


Sesampainya di bandara Jakarta, terlihat Seruni sudah menunggunya. Gadis itu memakai dress cantik melewati lutut dengan rambut panjang terurai.


"Kita cari makan dulu ya."


Seruni tersenyum lalu mengangguk, berjalan bersisian dengan Bima yang membuatnya tenang.

__ADS_1


__ADS_2