Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Kau Menghamilinya?


__ADS_3

Pertemuan itu akhirnya berlangsung sesuai dengan janji Seruni juga Bima. Mereka bertemu di warung remang-remang milik mak Ute. Bima datang tepat pukul delapan dengan Seruni yang baru saja selesai menunaikan salat isya-nya. Wajah perempuan itu ketika menemui Bima juga tanpa riasan make up, baru saja tersapu air wudhu tapi malah terlihat menenangkan di mata Bima. Bima menyambut perempuan itu dengan senyuman sementara Seruni pun membalasnya dengan senyuman kecil pula.


"Maaf, aku terlambat isya tadi, sebab sedang menjaga salah satu anak dari pekerja di sini karena ibunya sedang ada kerjaan," ujar Seruni beralasan yang ia sendiri kemudian duduk di depan Bima, terhalang oleh meja.


"Tak apa, aku juga baru datang. Kalau kau ingin berdandan atau melakukan apapun dulu, silakan saja, Seruni. Aku akan menunggumu."


"Untuk apa aku berdandan, Bim? Aku tidak bekerja di sini, aku juga tidak akan menyambut para tamu. Aku hanya menumpang barang beberapa hari untuk menginap di warung remang-remang ini," sambut Seruni dengan tawa kecilnya.


Bima mengangguk-angguk paham, tapi nampaknya Bima sedikit terganggu ketika melihat satu persatu para lelaki datang setelah itu. Di desa tak seperti di kota-kota besar, warung remang-remang ini buka sejak pukul tujuh malam, walaupun belum banyak para pria yang datang, tetapi hiruk-pikuk kegiatan dan aktivitas di warung remang-remang itu mulai beroperasi.


"Ikutlah denganku, Bim, aku tahu kau merasa tidak nyaman berada di sini."


Seruni sudah beranjak dan berdiri, sementara Bima mengangguk setuju. Ia memang lebih baik pergi dari tempat itu. Rasanya tak nyaman membicarakan hal serius yang akan segera disampaikan oleh Seruni dengan suasana berisik para lelaki juga suara hingar bingar musik yang mulai terdengar. Hingga pada akhirnya, mereka kembali ke saung di sawah belakang warung remang-remang itu, suasananya lebih tenang meskipun hanya dengan penerangan temaram.


Hembusan semilir angin terasa membelai pipi mereka. Suasana desa ketika pada malam hari seperti ini sudah terasa sepi dan dingin. Seruni lupa pula membawa sweater-nya dan Bima berinisiatif membuka jaket yang ia bawa lalu lagi-lagi menyampirkannya di bahu Seruni. Seruni menoleh sebentar kemudian, menjadikan tatapan mereka bertemu untuk sekian detik. Tak ada suara yang keluar dari keduanya, hanya tatapan mereka yang saling bertemu, seolah menyiratkan kesungguhan perasaan. Mungkin, mereka juga saling menyelami rasa masing-masing, saling mengerti dan juga memahami kondisi juga keadaan.

__ADS_1


"Apa yang akan kau bicarakan denganku, Seruni? Sepertinya serius sekali. Aku sudah berkata kepadamu bukan, bahwa aku akan terus memperjuangkanmu walaupun ibuku masih menentang hubungan kita."


Seruni menggeleng, bukan itu yang ingin dia bahas. "Bukan itu yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi ada sesuatu yang lebih penting lagi dan ini menyangkut kekasihmu kemarin," ujar Seruni kemudian, membuat Bima menoleh dan mengerutkan dahi lagi. Ia tak mempunyai hubungan lagi dengan Atikah, jadi seharusnya Seruni tak membawa perempuan itu sampai ke desa ini, walaupun hanya melalui pembicaraan saja.


"Cerita antara aku dan Atikah memang sudah benar-benar berakhir, Seruni. Tak ada lagi yang terjadi di antara kami. Aku sudah memberi pengertian kepadanya juga keluarganya bahwa kami tidak berjodoh, walaupun aku sedikit terdengar egois karena membatalkan pernikahan sebelah pihak, tapi aku sungguh tak ada hubungan apa-apa lagi dengannya."


"Kau ingin aku jujur sesuatu, tentang kedatangan seseorang sore tadi ke warung mak Ute dan menemui aku?" tanya Seruni kepada Bima yang semakin mengerutkan dahi. Ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan perempuan ini. Tapi akhirnya dia mengangguk saja. Bima juga penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Seruni, nampaknya memang benar-benar serius.


"Baiklah, coba kau katakan kepadaku, ceritakan semuanya dengan jelas agar aku mengerti sebenarnya apa permasalahan yang sedang ingin kau bahas denganku ini."


Sebelum menjawab pertanyaan dari Bima itu, Seruni tampak menarik nafasnya panjang. Sebenarnya ragu ingin mengatakan itu kepada Bima, takut nantinya apa yang dikatakan oleh Laras itu adalah hal yang benar dan Seruni belum siap mendengarnya. Tapi demi menuntaskan rasa penasaran juga rasa bertanggung jawab yang harus dituntaskan, akhirnya Seruni buka suara.


"Tentu saja, Seruni. Katakanlah, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan kepadaku."


"Siang menjelang petang tadi, aku kedatangan adikmu, Laras. Dia datang ke warung remang-remang untuk menemui aku, untuk mengabarkan suatu hal. Yang pertama tentu kau tahu bahwa dia tidak akan pernah mengizinkan abangnya untuk menikah denganku. Dia tidak pernah menyukai aku, Bima, bahkan dari zaman sekolah dulu. Oke, kau pasti tahu tentang itu, tapi ada satu lagi yang disampaikannya dan sampai detik ini, masih mengusik rasa penasaran di dalam hatiku." Seruni menghentikan sebentar kalimatnya, mempersiapkan kata-kata yang akan keluar dan meluncur jangan sampai tersendat dan terdengar ragu-ragu. "Apa kau pernah meniduri Atikah selama kalian berpacaran kemarin?" tanya Seruni. Itu membuat Bima pada akhirnya menoleh lagi. Secepat mungkin Bima menggeleng, tidak pernah ada hubungan suami istri di antara dia dan Atikah selama mereka berpacaran dan hampir menikah kemarin.

__ADS_1


Kalau sekedar berciuman dan meraba-raba sedikit, Bima tak menampik. Memang dia pernah melakukannya tapi kalau sampai meniduri, ia tidak pernah melakukan itu. Walau memang pernah suatu kali mereka hampir saja kebablasan, tapi tiba-tiba saja Bima menghentikan aksinya itu, justru karena ia terkenang dengan Seruni.


"Aku tidak tahu kau mendapatkan informasi itu dari siapa, Seruni. Tapi yang jelas di antara aku dan Atika tidak pernah terjadi hubungan suami istri dan aku berani bersumpah atas nama Tuhan yang telah menciptakan aku, bahwa aku tidak pernah meniduri perempuan itu."


"Itu artinya kau juga tidak menghamilinya, bukan?" tanya Seruni memastikan


Bima tertawa kecil lalu dia menggeleng. "Kalaupun saat ini Atikah mengandung, aku berani jamin seratus persen bahwa itu bukanlah benihku, Seruni. Bagaimana dia akan mengandung anakku, jika kami saja tidak pernah melakukan hubungan suami istri? Atikah memang tidak pernah bisa menerima keputusanku untuk membatalkan pernikahan kami kemarin, mungkin karena itulah dia mengarang cerita bahwa dia sedang hamil saat ini dan kalaupun memang dia hamil, aku tidak tahu siapa yang menghamilinya. Kalau kau tidak percaya, nanti sekembalinya kita ke Jakarta, aku tidak akan segan untuk meminta bukti kehamilannya dan kalaupun dia terbukti hamil aku tidak akan ragu untuk melakukan tes DNA terhadap anak yang dikandung nantinya selepas dia lahir," jawab Bima lugas .


Seruni menyipitkan matanya, menatap Bima perlahan-lahan.


"Hei, kau tak percaya padaku?" tanya Bima sambil tersenyum jahil.


Mau tak mau akhirnya Seruni tersenyum lagi. Lalu perlahan Seruni merebahkan kepalanya di bahu lelaki itu.


"Mau dibawa kemana hubungan kita ini, Bima? Kau yakin ingin menikahi aku?" tanya Seruni pada akhirnya dalam lirih suaranya.

__ADS_1


"Seruni, kalau memang kedua orang tuaku tidak merestui kita, itu bukan berarti kita tidak bisa menikah," ujar Bima lagi.


Seruni sendiri diam, berusaha mencerna sebab ia tak mengerti apa maksud lelaki itu saat ini.


__ADS_2