Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Sabda Cinta Bima


__ADS_3

"Lebih baik kau keluar, daripada kepalamu aku ledakkan dengan peluru dari pistolku ini," ancam Bima kepada Tobi yang hanya bisa mengepalkan tangannya lalu berusaha bangkit dan berdiri. Tobi paham, bahwa pria yang telah menggagalkan aksi bejatnya malam itu bukan seorang sipil biasa. Tapi sepertinya dia mengenal lelaki itu. Apa mereka satu kampung juga? Yang jelas dia adalah seorang aparat. Tobi tak mau nanti masalah ini berbuntut panjang. Jadi dengan wajah tak rela dia paksakan kaki untuk melangkah keluar dari room.


Kini, tinggallah Bima dan Seruni di dalam ruangan itu. Seruni berusaha menutupi bagian dadanya yang sudah terlihat karena robek bajunya. Betul-betul terlihat bebas bukan hanya sekedar belahan tetapi dua benda itu menyembul indah dengan sedikit tertutup bra berwarna hitam pekat.


Bima melepaskan jaketnya lalu menutup bagian yang terbuka itu Seruni hanya diam. Sungguh sebuah ironi, dulu Bima lah penjahatnya, dulu Bima adalah pria jahat itu dan sekarang, pria jahat sepuluh tahun yang lalu itu telah menyelamatkannya dari obsesi sang kakak tiri untuk menggagahi Seruni.


"Pulang, Run, sungguh tempat ini berbahaya untukmu."


Seruni menoleh, dia menyandarkan tubuhnya, tatapannya menerawang kemudian.


"Semua tempat berbahaya, Bima. Semua tempat hanya menyajikan luka lalu berujung penyesalan."


Terdengar pilu di telinga Bima, ia tahu, Seruni sekalian sedang menyindirnya saat ini, atas kejadian sepuluh tahun yang lalu. Mungkin, maksud Seruni adalah apa bedanya Bima dan Tobi?


"Tapi, tak aku pungkiri, malam ini kau sudah menyelamatkan aku. Jadi, terimakasih." Seruni hendak beranjak, tapi dia merasa bersalah jika harus meninggalkan Bima yang kembali terluka di wajah dan beberapa bagian tubuhnya itu. "Diamlah di sini dahulu, aku ambilkan kotak obat dahulu."


Bima mengangguk. Entah mengapa, kendati sudah mendapatkan luka terlalu banyak hari ini, tapi dia malah menyukainya. Luka akhirnya mendekatkannya dengan Seruni.


Seruni sendiri berjalan sembari menarik risleting jaket Bima hingga ke lehernya. Dia teringat, jaket Bima yang satu lagi juga masih dia simpan.


"Run ..."


Seruni menoleh kepada atasannya yang segera menghampiri Seruni saat melihat tamunya sudah keluar dalam keadaan babak belur.

__ADS_1


"Itu tadi kakak tiriku, Bos. Dia mau memperk*saku tadi. Aku tidak mau lagi melayaninya kalau dia datang lagi ke tempat ini," ujar Seruni seraya memeriksa kelengkapan obat dalam kotaknya.


"Ya sudah, aku juga tak tahu kalau dia ternyata punya niat jahat terhadapmu. Malam ini, kau temani saja pak Bima. Aku rasa dia suka padamu, Run. Malah katanya, setiap malam akan menjadi tamu untukmu. "


Kali ini Seruni kaget. Dia merasa jadi kesal kepada Bima. Apa-apaan lelaki itu?


Seruni kembali lagi ke dalam room di mana Bima sedang duduk dengan tenang. Seruni duduk lagi di samping lelaki itu.


"Kemarikan wajahmu, biar aku obati."


Bima menurut saja, dalam hatinya sudah bersorak gembira. Biarlah sakit di badan yang penting bisa dekat dengan sang pujaan.


"Ada dua barangmu lagi yang berada di kontrakanku. Jaketmu waktu itu juga jam tanganmu yang lagi-lagi tertinggal di tempat itu. Aku akan mengembalikannya besok ke kantormu, sekalian dengan jaket ini."


Seruni menghentikan gerakannya perlahan, lalu kembali melanjutkan.


"Untuk apa aku menyimpannya, Bim?"


"Ya sudah kalau kau tak mau menyimpannya, biarkan aku buang saja."


Seruni tertawa tipis mendengarnya. "Semua orang kaya suka mubazir, suka membuang-buang sesuatu. Seperti habis manis sepah dibuang."


Bima kembali lagi tersindir. Ia paham betul maksud Seruni jadi kemudian dia hanya diam, hanya memandang wajah cantik dan menggoda perempuan di depannya itu.

__ADS_1


"Biarkan aku mengantar kau pulang," kata Bima lagi.


"Tak perlu, bisa pulang sendiri."


"Kau keras kepala sekali, Seruni," Bima menatap Seruni lekat.


"Jangan membuat calon istrimu salah paham. Nanti aku pula yang kena batunya."


Seruni berdiri, ia sudah selesai mengobati Bima. Tangannya kemudian terulur meraih gagang pintu.


"Aku sudah membatalkan rencana pernikahan itu, Seruni, dan aku ingin menikahimu."


"Atas dasar apa, Bim? Tanggungjawab yang harusnya kau lakukan sepuluh tahun yang lalu? Sekarang aku tak mengharapkannya lagi."


Seruni kembali hendak membuka pintu, tetapi Bima kembali menahan dirinya. Lelaki itu bahkan sudah membalikkan tubuh Seruni jadi menghadap dirinya. Ia menatap Seruni serius sekali.


"Ya, kau benar Seruni, karena aku ingin bertanggungjawab atas kejadian sepuluh tahun yang lalu yang telah terjadi di antara kita berdua. Tapi ada hal lain yang membuatku ingin segera menikahimu."


Seruni mengalihkan pandangannya, ia tak nyaman berhadapan dengan Bima dalam jarak sedekat ini.


"Lepaskan aku, aku tak mau mendengarnya!" desis Seruni.


"Aku mencintaimu, Seruni. Sungguh aku jatuh cinta padamu," ujar Bima tanpa peduli dengan penolakan Seruni barusan.

__ADS_1


Seruni menoleh lagi, menatap ke kedalaman mata Bima. Ia tidak ingin tertipu lagi, ia masih ingin menggali kebenciannya kepada lelaki itu. Namun, kali ini dipastikan Bima bukan penipu lagi seperti dulu. Dia serius, tapi Seruni tetap bergeming. Nampaknya masih betah dengan selaksa rasa kecewa yang pernah tercipta dahulu.


__ADS_2