
"Run ..."
Seruni menoleh, menatap mak Ute dengan matanya yang basah. p p
"Iya, Mak." Seruni segera menghapus jejak airmatanya.
"Loh ... Kau kenapa, Run? Besok hari bahagiamu. Kenapa kau menangis?"
Mak Ute menarik sebuah kursi, mendekat ke arah Seruni yang tengah memandangi dirinya sendiri di cermin. Tangan dan kakinya sudah berhias inai. Seorang tukang henna baru saja selesai membuat tangan dan kakinya yang putih dengan ukiran indah.
Malam ini, bulan indah meski separuh. Terang, membias ke kamar baru Seruni yang sudah di hias pula. Kamar pengantin, di rumah baru Seruni. Sekarang, Seruni memang sedang berada di dalam kamar luas yang dulunya adalah bekas tempat ia pernah menyerahkan mahkotanya kepada Bima. Bedanya, tempat itu tak lagi kumuh sudah sangat cantik dengan dinding bergambar batang bambu.
"Tak apa, Mak. Hanya sedikit terharu, teringat bilik ini."
Mak Ute tersenyum kecil, ia mengusap lembut puncak kepala Seruni yang harum rambutnya menguar itu. Ada beberapa orang di rumah itu, termasuk kakak iparnya Bima, mbak Inka dan para asistennya. Mbak Inka sedang di depan, mengatur pelaminan untuk acara besok. Dan Seruni hanya ingin mak Ute yang menemaninya malam ini. Bagi orang lain, mak Ute memang seorang mucikari, tapi bagi Seruni, mak Ute bahkan lebih dari seorang ibu.
"Sekarang, Bima sudah mengganti kenangan pahit di bilik ini dengan masa depan yang lebih baik bukan? Jangan berkecil hati, Run, lihatlah perjuangannya demi bisa menebus semua kesalahan juga meraih cintamu."
Seruni mengangguk, ia tak bisa menahan laju airmatanya. Kali ini dibiarkannya mak Ute menyaksikan itu. Mak Ute menemani Seruni, pakaian perempuan itu beberapa hari ini lebih sopan. Ia memakai tunik dan celana panjang dengan rambut yang diikat rapi. Tak seperti biasanya, terkadang memakai daster atau baju tali sejari meski perut besarnya terlihat kemana-mana.
"Aku gugup sekali, Mak. Sungguh."
__ADS_1
"Wajar, hal yang lumrah dirasakan oleh setiap calon pengantin. Bima tak ke sini?" tanya mak Ute dan Seruni menggeleng.
"Tidak, Mak, dia sedang di rumah orangtuanya. Memang adat di sini, mempelai tidak boleh bertemu dulu sebelum mereka melaksanakan akad."
"Jadi akan terasa lebih yahud malam kelak, Run."
Seruni jadi tertawa mendengar kelakar mak Ute. Kemudian, terdengar suara langkah kaki. Mbak Inka masuk ke dalam dan membawa sebuah kebaya.
"Ini buat mak Ute pakai besok. Mari ikut aku, Mak, biar dicoba dulu."
Mak Ute menatap Seruni dan Inka bergantian dengan mata berbinar-binar.
"Ada rupanya baju buatku besok?" tanyanya tak percaya.
"Astaga, bahagia kali aku bah!"
Dengan semangat mak Ute berjalan beriringan dengan Inka yang hanya tertawa. Seruni melepas mak Ute dan kembali sibuk dengan lamunannya. Siang tadi, ia sudah nyekar ke makam ibunya. Sudah meminta izin bahwa besok akan menikah dengan lelaki yang dicintainya.
"Ibu, meski kebersamaan kita dahulu tak menyisakan banyak kenangan indah, tapi aku pasti akan jauh lebih bahagia jika di acara bahagiaku besok, ada dirimu. Semoga kau merestui pernikahanku besok dari atas sana, Bu."
Seruni bergumam lirih, berusaha menekan sesak di dada hingga sanubari. Hingga malam telah larut, ia memutuskan untuk tidur, sebab subuh sekali ia akan segera bersiap dan dirias oleh Inka.
__ADS_1
Undangan untuk acara mereka besok sudah disebar jauh hari oleh ayahnya Bima. Kepala desa juga ikut membantu menyebarkan undangan itu ke warga. Mereka antusias datang sebab Bima adalah pemuda incaran setiap gadis dari dulu hingga sekarang juga ia anak orang paling kaya dan terpandang, juga cerita tentang pertentangan keluarga Bima terhadap hubungan anaknya dengan Seruni dulu sempat jadi buah bibir.
Keesokan harinya, Seruni yang telah cantik dengan gaun pengantin putih keluar dari rumah itu, ternyata Bima sudah menunggu di sebuah kursi yang telah dihias, berhadapan dengan penghulu juga wali bagi Seruni.
Seruni didampingi Inka juga mak Ute dan beberapa asistennya menuju ke tempat akad akan dilangsungkan. Semua mata itu terpanah, menyaksikan Seruni yang begitu berbeda hari ini. Cantik sekali. Bima terbius dalam memukaunya sang calon istri yang berjalan dengan anggun dengan tatapan teduh.
Ah, bayangan Seruni sepuluh tahun yang lalu, kala mata mereka pertama bertemu malam itu melintas begitu saja. Bima ditikam rindu menggila, menunggu dengan sabar sang pemilik hatinya untuk bersanding dengan dia yang mengucapkan akad segera.
Sampai di samping Bima, Seruni menoleh sesaat, memberi senyuman untuk meyakinkan Bima agar dia lancar mengucapkan janji setia pagi ini. Saat tangan Bima menjabat dengan penghulu, terasa hati Seruni bergetar hebat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Seruni binti Almarhum Azmal Kurniawan dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi?"
"Sah!"
Arsy terasa bergetar, malaikat mengaminkan, Allah jadi saksi paling utama. Seruni meneteskan airmata dengan seulas senyum. Ia mencium takzim punggung tangan Seno Ari Bimantara yang sudah sah jadi suaminya.
Teman-teman Bima dari anggota kepolisian dengan atasan-atasan penting datang dan turut berbahagia, mereka berlomba mengambil rekaman sesi mengharukan itu dengan ponsel masing-masing.
Ayah Bima turut bahagia, nyonya Tono hanya mengulas senyum sekilas dan tak mampu menggagalkan pernikahan anaknya. Jangan tanyakan dimana Laras berada sebab ia memang sedang menghilang karena suatu hal.
__ADS_1
Bergandengan kemudian pasangan pengantin baru itu menuju pelaminan yang sudah disiapkan. Mereka saling berpandangan, tulus ikhlas dunia akhirat memulai bahtera rumah tangga dengan harapan sakinah mawadah warahmah. Inshaallah.