
Ini adalah malam yang ditunggu. Rumah besar megah itu sudah sunyi. Tak ada lagi Inka dan para asistennya karena mereka telah pindah menginap di rumah kedua orangtua Bima. Mak Ute pun sudah pulang ke tempatnya sendiri. Mereka mengerti, pengantin baru itu sedang tak ingin diganggu.
Bima dan Seruni sedang saling menyatukan telapak tangan mereka, jendela masih dibiarkan terbuka. Bima tahu, Seruni suka dengan sinar rembulan yang membias ke dalam kamarnya. Lalu, gerimis turun perlahan. Dingin, menghadirkan sensasi lain yang menggelitik dan terasa begitu menggebu ingin segera disalurkan.
Namun, Bima belum memulainya, ia masih ingin memeluk Seruni lebih lama sebelum masuk ke inti cerita malam panjang ini. Meski sudah tak tahan sebetulnya Bima, merasa sesak di bawah sana yang meronta liar ingin segera menggagahi sang pujaan yang sudah begitu menggoda dengan lingerie merah hati.
"Tutup saja jendelanya, Mas."
Bima memandang Seruni. Kali pertama ia mendengar Seruni memanggilnya mas Bima, dan itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Rasanya, langit-langit di dalam hati Bima bergetar tak karuan mendengarnya saat ini.
"Mas Bima ..." Seruni mengulangi, membuat Bima mau tak mau jadi tersenyum lalu memberi kecupan pertama malam ini sebelum ia beranjak menutup jendela.
Setelah selesai menutup jendela kamar itu, Bima kembali, naik ke atas ranjang lalu mulai merebahkan Seruni. Perlahan, dilumatnya bibir Seruni yang basah, Seruni mengalungkan lengannya di leher Bima, memperdalam ciumaan mereka.
Bayangan percintaan mereka di masa lalu, di tempat yang sama dengan suasana yang berbeda kembali terlintas. Namun, mereka tak lagi menyesalinya, mereka membawanya menjadi sebuah bayangan yang lebih indah.
"Meski bukan yang pertama, karena ini kali kedua aku menyelamimu, Seruni. Terima kasih untuk keikhlasanmu menerima aku kembali," bisik Bima sembari melepaskan kecupannya lalu mulai melakukan hal lain yang membuat Seruni terasa terbang ke langit tertinggi.
Bergumul dengan liar pun tak lagi jadi penyesalan sebab mereka telah halal, mereka melakukannya setelah sah dan mendapat restu seluruh alam. Seruni menerima Bima di dalam tubuhnya, mengikuti gerakan sang suami yang begitu perkasa.
__ADS_1
Denting jam yang beradu juga nafas yang tersengal dan bukti cinta yang sudah mengalir hangat dalam rahim Seruni menjadi sebuah pembuktian nyata akan indahnya cinta yang terbungkus dalam ikatan sakral.
Dan bagi keduanya, malam-malam berikutnya akan semakin menggebu. Seruni membuka dirinya, Bima memasukinya tanpa ragu lagi.
***
Keberadaan Seruni dan Bima di desa agaknya cukup lama. Mereka menjalani kisah sebagai pasangan pengantin baru dengan api asmara yang berkobar di segala penjuru rumah megah itu.
"Pagi ini, Mas mau aku masak apa?" tanya Seruni setelah mereka bangun.
"Nasi goreng saja, Sayang."
Seruni mengangguk, semalam mereka sudah belanja banyak keperluan dapur di mini market tak jauh dari gapura. Sudah tiga hari mereka mendiami rumah itu.
"Nanti saja, Run, laparku sepertinya bukan mau makan itu, lebih memakanmu kurasa."
Seruni menjawil gemas hidung suaminya itu lalu menurut saja saat Bima mengajaknya untuk kembali bermain. Setelah melepaskan cintanya ke dalam tubuh Seruni ia memandikan istrinya itu, saling menyabuni tubuh mereka di bawah pancaran air.
Selepas itu, barulah Seruni kembali ke dapur dengan rambut bergelung handuk kembali mengaduk nasi yang sudah menyatu bersama bumbu.
__ADS_1
"Masakanmu selalu enak," puji Bima setelah mereka duduk bersama di meja makan.
"Aku akan membuatkanmu banyak makanan lezat nantinya."
"Tentu, kau mahir segalanya. Di dapur, di ranjang apalagi."
Mendengar itu, Seruni jadi tersipu-sipu.
"Sayang, apa Laras di rumah Ibu?" tanya Seruni.
"Tak tahu, Sayang. Biarkan saja, aku muak mendengar tentang dia." Bima menjawab acuh tak acuh.
"Tak boleh begitu, Sayangku. Bagaimanapun dia adalah adikmu."
Bima mengangkat bahunya. Bima memang masih sangat marah kepada Laras. Dia sudah bersumpah tak akan memaafkan Laras dan tak akan berbicara dengan adiknya sebelum gadis itu meminta maaf kepada Seruni dengan sungguh-sungguh.
"Aku tak suka ada yang menyakitimu, Istriku. Kalau itu terjadi, aku akan menjadi orang yang paling murka, termasuk jika itu dilakukan adikku sendiri. Jika dia tak meminta maaf kepadamu secara langsung, jangan harap dia akan mendapat muka dariku."
"Sayang, aku sudah memaafkan dia. Semoga kau pun cepat memaafkannya." Seruni mengelus lembut jemari Bima, Bima membalasnya lalu tersenyum kepada Seruni.
__ADS_1
" Bagaimana aku tak tergila-gila padamu, Seruni. Kau begitu mempesona, sikapmu, ketulusanmu, kecantikanmu apalagi tak perlu diragukan."
Seruni tersenyum, beberapa hari ini, dia sudah seperti manusia yang terlahir baru. Hatinya lebih ikhlas, mungkin karena dia juga merasa tulus dicintai oleh Bima.