Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Tenang Tapi Beriak


__ADS_3

Harusnya, Seruni menemukan Bima menjemputnya keesokan hari di bandara seperti janji lelaki itu kepadanya ketika malam-malam sebelumnya, ia menelepon Seruni untuk menunggu perempuan itu di bandara setibanya Seruni di Jakarta.


Namun, kenyataan yang ada sekarang adalah ketika Seruni telah sampai di Jakarta, ia sama sekali tidak menemukan lelaki itu, bahkan wangi parfum dan tubuh Bima yang biasanya menguar, tak tercium di sekitaran bandara. Mungkin, memang sedikit berlebihan, tetapi memang begitulah adanya. Seruni udah begitu hafal wangi tubuh maskulin lelaki itu yang seharusnya, Bima berada di sini untuk menjemputnya.


"Apa mungkin dia sedang sibuk atau dikantor sedang ada masalah atau sedang ada kasus yang ditangani?" tanya Seruni pada dirinya sendiri. Dia jadi menerka-nerka. Namun, dia masih berharap Bima akan mendatanginya, mungkin lelaki itu telat beberapa saat untuk menjemputnya.


Tetapi sembari menunggu, tak ayal Seruni dikuasai rasa cemas begitu saja tak kala ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan waktu bergeser tiga puluh menit dari ia sampai dan menjejakkan kaki di tanah Jakarta.


"Baiklah, aku akan mencobanya menelponnya. Tak biasanya Bima begini. Kalau pun ada masalah di kantor, pasti ia akan menghubungiku atau dia terjebak macet?" tanya Seruni lagi tapi lagi-lagi hanya kepada dirinya sendiri.


Saat sedang sibuk menekan kontak ponsel dan sesaat sebelum ia menyambungkan panggilan telepon untuk Bima, tiba-tiba saja dari arah berlawanan, seseorang berseru memanggil namanya. Ia lantas menoleh, ia menemukan seorang lelaki paruh baya dengan sedikit berlari ke arahnya, memakai seragam sopir taksi.


"Neng Seruni ya?" tanya lelaki itu ramah. Seruni lantas mengangguk. Ia tidak mengenal lelaki ini tetapi dengan sopan tetap dianggukkannya kepala.


"Benar, Bapak siapa?" tanya Seruni sambil mengerutkan kening.


"Saya Pak Joko. Tadi Mas Bima telepon dan minta saya ke kantor, katanya suruh jemput Neng Seruni di sini." Pria itu menjelaskan


Semakin berkerut kening Seruni jadinya. Mengapa pria itu tidak menghubunginya langsung kalau memang dia tidak bisa menjemputnya? Namun, karena tidak ingin banyak bertanya dan menghormati pria di depannya, akhirnya Seruni menganggukan kepala lagi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu tolong antarkan saya pulang ya, Pak," ujar Seruni kepada lelaki bernama Joko itu.


Lelaki itu dengan senang hati kemudian mengambil alih koper yang dibawa oleh Seruni. Seruni mengikuti langkah lelaki itu menuju mobil taksi yang sedang terparkir di parkiran bandara dengan hati yang masih saja bertanya-tanya mengapa Bima sedikit aneh hari ini. Berkali pula Seruni mengecek pesan di ponselnya, lelaki itu sepertinya tidak mengiriminya pesan apapun.


Tak ayal, hati Seruni jadi semakin gelisah saat ini. Tak biasanya Bima begini. Namun, Seruni tetap melangkahkan kaki dan kemudian masuk ke dalam mobil taksi yang pintunya dibukakan oleh Pak Joko untuknya dengan tenang pula Seruni segera duduk di dalamnya. Ia bersandar di sandaran kursi, mengenang Bima yang ia masih terasa cukup aneh saat ini.


Tadinya, Seruni sedikit gengsi ingin mengiriminya pesan tetapi ia juga merasa harus mengabarkan kepada Bima bahwa ia sudah sampai di Jakarta. Jadi dengan merendahkan diri, Seruni meraih ponselnya lagi. Ia segera mengirim pesan kepada lelaki yang dulu sempat dibencinya itu.


Aku sudah sampai di Jakarta. Tadinya aku menunggu kedatanganmu cukup lama, apa yang sedang terjadi? Kenapa kau tidak datang seperti janjimu malam kemarin?


Seruni menyudahi pesannya tetapi ia belum menyimpan ponselnya lagi karena berharap Bima akan segera membalas pesan darinya itu. Sesaat kemudian dilihatnya pesan yang ia kirimkan sudah bercentang biru yang artinya Bima sudah membaca pesan itu tetapi mengapa lelaki itu sampai sekarang tidak membalas pesannya?


"Silakan, Neng Seruni. Dengan senang hati Bapak jawab," sahut pak Joko dengan logat jawa yang begitu kental.


"Apa Bima sedang sibuk sekali, Pak?" tanya Seruni kepada lelaki itu.


"Sepertinya tidak kok, Neng. Tadi sewaktu dia memesankan taksi kepada saya dan saya sempat datang ke kantor kepolisian menemuinya, mas Bima terlihat santai-santai saja bersama anggota anggotanya. Tapi tidak tahu juga, mungkin mereka akan melakukan kegiatan sebentar lagi."


Seruni mengatupkan bibir, nampak aneh memang Bima hari ini. Apa ia berbuat salah sehingga lelaki itu mendiamkannya? Tetapi mereka bahkan belum bertemu, jadi seharusnya dia tidak membuat kesalahan bukan?

__ADS_1


"Aneh," gumam Seruni kemudian.


"Siapa yang aneh, Neng?" tanya pak Joko yang sekelebat mendengar gumaman Seruni barusan.


"Ah, tak ada, Pak."


Seruni tersenyum kecil kemudian ia sibuk dalam lamunan. Tak lama kemudian, taksi mengantarkannya sampai di depan bibir gang. Seruni segera turun dengan Pak Joko yang membantunya menurunkan koper. Seruni hendak membayar ongkos taksi, tetapi lelaki itu menolaknya.


"Mas Bima sudah membayarnya, Neng."


"Baiklah, terima kasih ya, Pak. Saya masuk dulu."


"Biar saya bawakan kopernya," tawar pak Joko tapi Seruni segera menggeleng.


"Biarkan saya saja," kata Seruni yang kemudian berbalik dan masuk ke dalam gang.


Sepanjang perjalanan Seruni menuju kontrakannya yang sudah ia tinggalkan cukup lama itu, ia masih juga dikuasai berbagai pertanyaan. Sempat beberapa kali mencoba menghubungi Bima tetapi lelaki itu tidak menjawabnya. Bima benar-benar sibuk atau memang sengaja tidak mau mengangkat telepon dari Seruni. Hal itu membuat Serumi benar-benar merasa gelisah.


"Ada apa denganmu, Bim?" tanya Seruni lagi dalam kebimbangan, sembari memutar kunci yang sudah dimasukkan ke dalam lubangnya, kemudian masuk dalam kontrakan itu dan duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


Hingga malam tiba, tak juga ditemukan keberadaan Bima lagi. Lelaki itu sama sekali tidak mengirimkan pesan. Sementara di rumahnya sendiri ketika malam menjelang, Bima masih melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh seseorang. Ia maunya tidak pernah percaya pada apa yang dilihatnya saat ini tetapi entah mengapa, ia jadi emosi, hal itu menahannya untuk tidak bertemu dengan Seruni untuk sekarang.


__ADS_2