
"Jadi besok kau pulang ke Jakarta, Run?" tanya mak Ute saat mereka sedang berbelanja sore harinya. Seruni mengangguk. "Tak mau lebih lama lagi di sini?" tanya mak Ute lagi.
Seruni menggeleng. "Aku tak enak kepada atasanku, Mak. Mak tahu sendiri, tempat aku bekerja yang baru ini sebuah perusahaan. Bukan lagi diskotik yang bisa lebih leluasa aku tinggal pergi."
"Nah, ini sebenarnya yang mau aku bahas denganmu tapi aku lupa. Kebetulan pula kau membuka pembicaraan tentang pekerjaan barumu ini. Kalau Mak boleh tahu, bagaimana pula ceritanya kau bisa bekerja di perusahaan itu? Maksudku, bukannya masuk ke sana mesti ada serangkaian test yang harus dilewati?" tanya mak Ute dengan kening berkerut heran. Seruni memang belum pernah menceritakan bagaimana awalnya ia bisa masuk ke perusahaan Angga dengan begitu mudahnya.
"Aku juga tak tahu harus mengatakan aku beruntung atau tidak, Mak. Kebetulan atasan baruku adalah tamu yang kebetulan aku layani di meja karaoke malam itu. Dia menawarkan kepadaku pekerjaan yang lebih baik dan itu di perusahaannya."
"Nah Nah, lantas apa posisimu di perusahaannya?"
"Ehmmmm ... Sekretaris, Mak."
Mak Ute mengangguk paham. "Rasanya tak mungkin kau bisa diterima begitu saja kalau atasanmu itu tak ada maunya, Run. Nampaknya dia suka padamu."
Seruni lantas tertawa kecil mendengarnya. Mak Ute sama sekali tak salah tebak. Betulan, Angga naksir dia. Seruni tahu persis bagaimana lelaki itu mencoba untuk menarik perhatiannya dengan berbagai cara.
"Kenapa Mak bisa menyimpulkan demikian?"
"Alah, lelaki memberikan sesuatu yang begitu istimewa apalagi itu jabatan yang cukup penting di perusahaannya, pasti karena dia ada rasa. Dia ingin dekat selalu dengan targetnya. Mustahil, kalau tak ada rasa."
Sembari menyulut rokok dan berjalan terus di samping Seruni yang menggamit lengannya, mak Ute tertawa saat mengatakan hal itu.
"Aku tak mau terlalu percaya diri, tapi memang seperti itulah kenyataannya, Mak. Lelaki itu padahal sedang dalam masa berbedah dengan kekasihnya. Malah aku pernah dilabrak kekasihnya ketika sedang di perusahaan itu."
"Iyakah?" Mak Ute geleng-geleng kepala mendengarnya.
__ADS_1
"Ya, tapi aku sudah katakan kepada perempuan itu bahwa aku memang murni niat ingin bekerja di perusahaan itu bukan untuk menggaet atasanku."
"Jatuh cinta itu memang rumit, Run, sumber masalah!" ujar mak Ute seraya menarik nafas panjang.
Mak Ute pun kasihan kepada Seruni, kendati digilai dua lelaki, tetapi ia tetap belum beruntung dalam urusan percintaan. Kepada Bima terhalang restu orangtua yang gila kehormatan, sedang kepada yang satunya, Seruni yang tak punya perasaan.
"Kenapa tak pilih atasanmu saja, Run?" tanya mak Ute.
Seruni menggeleng. "Mak, entahlah, hanya saja semenjak aku kehilangan kehidupanku sepuluh tahun yang lalu, rasanya aku geli bila harus bersentuhan dengan lelaki lain yang tiba-tiba saja bicara soal perasaan. Rasa tak percaya. Malah seringnya teringat Bima dan jadi sangat benci. Ternyata, Jakarta akhirnya malah mempertemukan aku kembali dengannya. Awalnya, sungguh aku benci padanya, Mak, tapi melihat usaha dan upayanya dalam meluluhkan hatiku, entah mengapa aku jadi luluh juga, padahal rasanya ingin sekali aku menembak Bima saat kami bertemu lagi saat itu."
Mak Ute semakin geleng-geleng. Seruni memang tak beruntung dalam urusan percintaan. Tepatnya belum beruntung.
"Ya sudah kau sabar saja lah. Nanti kalau tak juga dapat restu, kawin lari lah kau dengan Bima."
Seruni mengerucutkan bibirnya. "Mak ini," katanya sambil mencubit gemas lengan gembul perempuan itu.
"Berhenti, aku ingin bicara denganmu."
Seruni menatap mak Ute yang juga sedang menatapnya.
"Mari, Nyonya." Seruni mengangguk sopan, menuju ke sudut bangunan tak jauh dari posisi ia berdiri dengan ibu Bima itu barusan.
Mak Ute memandangnya dari kejauhan, tampak keduanya sedang terlibat pembicaraan serius. Berkali-kali ia melihat nyonya Tono itu menunjuk wajah Seruni. Awalnya, mak Ute masih membiarkan, namun tak kala ia melihat perempuan itu mendorong Seruni cukup kuat hingga Seruni menghantam tembok di belakangnya, mak Ute tak lagi bisa tinggal diam dan menyaksikan begitu saja.
"Hei! Kau tak bisa memperlakukan Seruni begini!" seru mak Ute lantang hingga teriakannya memancing reaksi beberapa orang.
__ADS_1
Sembari mendekati ibu dari Bima itu, mak Ute menatapnya tajam, siap menabuh genderang perang.
"Jangan ikut campur, kau cuma mucikari! Jangan sampai aku melaporkan kau ya!"
"Apa yang mau kau laporkan? Tempatku? Aku juga membayar pajak di bumi Pertiwi ini! Kau pikir karena kau kaya lantas bumi yang kuinjak ini terasa punyamu juga heh? Aku tak suka kau mengkasari Seruni, urusan hati kau tak bisa mengaturnya! Anakmu memang mencintai Seruni jadi jangan pula kau salahkan Seruni!"
"Tutup mulutmu! Kau sama saja seperti dia! Kotor! Menjijikkan! Orang semacam kalian tak sepantasnya berada di antara kami!"
"Apa? Menjijikkan? Ada kotoran di mukaku rupanya? Apa matamu yang sudah terlalu rabun hingga seenaknya menjadi hakim bagi orang lain?"
"Mak ... Sudahlah. Baiknya kita pergi." Seruni berusaha menengahi.
"Kalau tak ingat Seruni ada di sini, sudah aku remukkan mulut kasarmu itu! Sekali lagi aku melihat kau jahat pada Seruni, aku tak akan tinggal diam!"
Nyonya Tono mengepalkan jemari. Ia menatap sekeliling, dilihatnya mereka sudah jadi tontonan. Ia menatap penuh kemarahan kepada mak Ute dan Seruni yang sudah pergi itu.
"Apa yang kalian lihat?! Kembali bekerja!" serunya lantang kepada semua orang yang segera bubar itu.
Nyonya Tono memejamkan matanya, ia tak menyangka jika gosip Bima dan Seruni kini semakin hangat diperbincangkan. Jengah, setiap hari harus menghalau semua berita yang bikin kepalanya mau pecah. Belum lagi, Bima yang keras kepala dan tak mau memutuskan hubungannya dengan Seruni.
Perempuan itu kemudian terkenang bahwa Laras pernah bilang saat ini Atikah tengah mengandung anak dari puteranya. Ia ingin memastikan kebenaran cerita itu dari Atikah karena Bima sama sekali tidak mengakui bahwa Atikah betulan hamil anaknya.
"Memang harusnya Atikah yang menikah dengan anakku, bukan gadis lacur itu!" dengus nyonya Tono sembari melangkah cepat ke dalam mobil dengan supir itu. Ia ingin segera membicarakan tentang Bima kepada suaminya. Tuan Tono selama ini memang masih bungkam, ia tidak ingin suaminya berpihak kepada Bima untuk menikah dengan Seruni.
"Orang seperti itu mana pantas menjadi menantuku? Apa dia tak sadar diri!" gumamnya penuh kekesalan. Ia harus bergerak, memisahkan Seruni dan Bima sebelum keduanya nekat menikah diam-diam. Ia sama sekali tak rela jika Bima tetap meneruskan niatnya itu.
__ADS_1
Dia juga kesal dengan mucikari yang selalu membela Seruni itu. Tapi, ia tak mau berdebat dengannya, mak Ute tentu bukan orang biasa, bukan lawannya, dia tidak ingin berdebat panjang lebar dengan mak Ute yang juga tak kalah garang darinya itu.