Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Menyulut Dendam


__ADS_3

Angga dan Seruni memang berada di ruang yang sama, di ruang lelaki itu. Namun, Angga merasa bahwa Seruni kini menjaga jarak darinya.


"Run, siang ini makan bersamaku ya."


Seruni lantas menggeleng dan segera menolak dengan sopan.


"Tak bisa, Ngga. Maafkan aku. Nanti ada yang mengantar makan untukku."


"Siapa, Run? Calon suami fiktifmu?" Angga berkata dengan gusar.


"Betulan, Angga. Aku memang akan menikah dengannya."


Nampaknya, Angga masih tak percaya jika Seruni memang akan segera dipinang oleh lelaki lain. Sosok yang membuat Angga penasaran sebab selama dia mencari tahu tentang Seruni selama ini, tak sekalipun dia mendengar dari orang-orang bahwa Seruni telah memiliki kekasih. Jadi dia sama sekali tak percaya jika perempuan yang sudah menarik hatinya itu sekarang memang akan segera menikah.


"Aku tak akan percaya sebelum melihatnya langsung. Oh iya, jangan larang aku menyukaimu ya."


Lalu Angga keluar dari ruangan itu diikuti pandangan tak mengerti Seruni. Seruni mengusap wajahnya, ia terkenang dengan Lila. Perempuan itu, sepertinya dia sudah akrab betul dengan perusahaan ini, juga dengan staff-staff yang bekerja di sana.


Jadi saat Seruni menerima berkas dari staff di depan ke ruangannya dan Angga, ia beranikan diri untuk bertanya mengenai gadis itu.


"Kenapa kau, Run, tampaknya ada yang mau kau tanyakan?" tanya gadis berkacamata itu kepada Seruni seolah menyadari gelagat Seruni.

__ADS_1


"Ehmmmm, ya, memang ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Tanyakan saja, Seruni, siapa tahu aku bisa membantumu."


"Begini, aku seringkali mendengar kalian membicarakan tentang Lila. Boleh aku tahu selain dia adalah kekasih Angga, apa dia juga pernah bekerja di perusahaan ini?" tanya Seruni akhirnya.


"Boleh aku duduk?" tanya gadis di depannya itu. Seruni mengangguk. "Ya, Lila dulunya juga salah satu karyawan di perusahaan ini, Run, dia juga adalah sekretaris pak Angga. Tapi beberapa bulan terakhir, katanya Lila pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan studinya. Mereka break dan aku rasa bukan itu satu-satunya alasan Lila pergi. Karena kami pernah dengar, pak Angga bertengkar hebat dengan Lila sebelum dia pergi."


Seruni mengangguk-angguk. Ia sebenarnya merasa lancang sudah menanyakan hal yang sedemikian pribadi ini, tetapi ia hanya ingin meluruskan hubungannya dengan Angga yang tak ada istimewa sama sekali selain hubungan antara atasan dan bawahannya.


"Kemarin dia menemuiku," kata Seruni pelan.


Gadis di depannya membelalakkan matanya. "Tak mungkin, Run, dia sedang di luar negeri."


"Berarti sebenarnya dia tidak di luar negeri?" tanya gadis di dean Seruni dengan bingung. "Loh, aku juga mengira kau adalah kekasih baru pak Angga."


Seruni tersenyum lalu menggeleng. "Tak, kalian salah paham. Aku sama sekali tak ada hubungannya dengan pak Angga. Dia memang membantuku masuk ke perusahaan ini dengan lebih muda, tapi aku sungguh tak ada hubungan spesial lebih dari itu dengannya."


Gadis di depannya akhirnya menganggukkan kepala tanda ia paham. Ia segera keluar karena Angga baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Wajah lelaki itu tampak kusut, ponselnya sedari tadi berdering.


Seruni tak mau banyak bertanya, hingga jam makan siang tiba, Seruni membawakan makanan untuk Angga dari kantin.

__ADS_1


"Untukmu mana, Run?" Masih saja Angga berharap bisa makan bersama Seruni.


"Sedang dalam perjalanan, Pak."


Angga menarik nafas panjang, tampaknya dia kecewa berat tapi tak bisa menahan Seruni yang segera keluar saat mendengar ponselnya berdering.


"Aku segera mengambilnya."


Seruni bergegas keluar dari ruangan dan menuju lift. Di sana dia melihat Bima sudah menunggunya. Kantin perusahaan itu memang outdoor, jadi Bima bisa menemani Seruni di sana. Hal itu juga dilihat banyak karyawan yang akhirnya mematahkan semua gosip bahwa Seruni ada main dengan Angga.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap keduanya dari kejauhan. Ternyata, rival Angga adalah seorang aparat keamanan. Meski tertutup jaket kulit tetap saja ia tahu potongan polisi seperti Bima.


Sementara itu, di tempat lain, ada dendam dan kebencian yang tersulut semakin tinggi. Atikah menatap ponselnya sedari tadi. Lalu dengan satu gerakan di teleponnya seseorang yang berada jauh di desa sana.


"Bu, ini Atikah."


"Ya, calon menantuku. Apa kabarmu?"


"Aku buruk, Bu. Bima membatalkan rencana pernikahan kami. Ibu tidak tahu?"


"Apa?!"

__ADS_1


"Aku sangat terluka, Bu. Tega sekali Bima membatalkan rencana pernikahan kami demi gadis karaoke itu. Apalagi sekarang aku sedang mengandung anak Bima."


Terdengar suara-suara gaduh di ujung telepon setelah itu. Atikah tersenyum licik. Kalau Bima tak bisa kembali dengan kemauannya, maka dia bisa meraih lelaki itu melalui keluarganya. Dia terlanjur dendam kepada Seruni. Akan dipermalukannya gadis itu melalui keluarga besar Bima yang tersohor di kampung sana!


__ADS_2