
Bima sedang disibukkan dengan urusannya menangani Bayu. Namun, kasus Bayu terjadi bukan di Jakarta dan berkas perkara akan ditangani di pusat kota tak jauh dari desa mereka. Banyak bukti yang memberatkan Bayu. Lelaki itu juga sudah dinonaktifkan dari jabatannya sebagai pegawai negeri sipil.
Kurang dari dua hari semenjak peristiwa penikaman itu, Bayu berhasil dibekuk setelah bersembunyi di rumah kerabatnya yang cukup jauh dari desa mereka. Lelaki itu tak melakukan perlawanan ketika ditangkap.
Bayu juga dipastikan akan mendapat hukuman yang setimpal atas semua perbuatan bejatnya. Mak Ute beberapa kali mengunjungi Seruni di rumahnya, menanyakan kebenaran itu sebab Bayu adalah pelanggan setianya Sari.
"Berbahaya. Aku tak menyangka lelaki itu nekat mau membunuh Laras." Mak Ute nampak menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan berbagai cobaan yang menimpa keluarga besar Bima tanpa jeda itu.
"Memang, kadang pakaian bagus tak bisa menjadi jaminan, bersihnya hati seseorang, Mak." Seruni bergumam lirih.
Mak Ute mengangguk, ia sendiri melihat Seruni nampak bersedih.
"Sudah sadar belum adiknya Bima itu?" tanya mak Ute lagi.
"Aku dengar dari Bima sudah, Mak."
"Kau tak mengunjunginya, Run?" tanya mak Ute.
Seruni menggeleng. "Tak mau nanti kondisi Laras malah jadi drop lagi kalau melihatku."
__ADS_1
"Lah, memangnya kau hantu sampai dia harus ketakutan melihatmu?"
Seruni mau tak mau jadi tersenyum juga. Dia terhibur dengan adanya mak Ute yang menemani meskipun mak Ute berkunjung tak lama.
Malam hari tepat pukul tujuh, Bima mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit. Laras sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa tetapi mengambil kelas VIP. Banyak sanak saudara sudah menjenguknya.
Saat datang, Seruni melihat nyonya Tono dan tuan Tono sedang makan. Tanpa diduga, seulas senyuman muncul dari bibir ibu mertuanya itu. Hati Seruni jadi bergemuruh, ia berikan balasan senyum pula meski sempat ragu.
"Makanlah dulu, Run," tawar ibu mertuanya itu.
Ingin rasanya Seruni menangis bahagia, baru kali ini, wanita itu menyapanya dengan ramah.
"Seruni sudah makan, Bu, masih kenyang." Suara Seruni terdengar bergetar meski sudah berusaha untuk terdengar biasa. Ia haru sekali.
Seruni mengangguk pelan, lalu tersenyum. Ia menatap Bima yang juga menatapnya hangat. Mata Seruni yang berkaca-kaca seperti sedang bertanya, apa dia sudah diterima oleh keluarga suaminya itu? Dan Bima mengangguk, seolah paham dengan makna tatapan istrinya itu.
Karena luasnya ruangan juga terhalang dinding pembatas, Seruni tak sadar jika Laras juga sedang menatapnya. Perempuan yang sekarang berstatus sebagai adik iparnya itu seperti sedang menunggu kedatangan Seruni pula.
"Seruni."
__ADS_1
Panggilan Laras membuat Seruni segera tersadar. Ia segera menuju ke ranjang dimana Laras sedang berbaring.
"Bang, aku mau bicara berdua saja dengan Seruni."
Bima mengangguk, ia meninggalkan ruangan itu, duduk di sofa bersama ayah dan ibunya. Mereka membiarkan Laras bicara dari hati ke hati dengan Seruni.
"Aku boleh duduk?" tanya Seruni dengan suara nyaris tercekat. Laras mengangguk lalu tersenyum kepadanya.
"Aku ingin berterimakasih kepadamu, aku berhutang budi kepadamu," kata Laras lirih.
Seruni mengangguk pelan.
"Maafkan aku, Seruni. Aku sudah begitu jahat kepadamu selama ini. Dari kita masih sekolah dulu, aku sering memfitnahmu. Aku iri kepadamu, Seruni. Tapi, orang yang aku jahati ternyata adalah penyelamat bagi hidupku. Sungguh, aku malu kepadamu."
Laras tak mampu menahan laju airmatanya. Seruni meraih jemari Laras lalu menggenggamnya perlahan.
"Tak ada yang perlu disesali, Ras. Semua sudah terjadi. Mungkin, ini proses pendewasaan kau dan aku. Aku sudah memaafkanmu jauh-jauh hari sebelum hari ini, juga tak merasa ku berhutang budi kepadaku. Aku juga senang, kau sudah sadar."
"Tidak, Run, aku memang berhutang budi kepadamu. Maafkan aku ya, juga terima kasih atas semuanya. Aku terlalu percaya diri bahwa aku tak akan jatuh seperti ini, ternyata kesombongan membawa petaka dalam hidupku sendiri."
__ADS_1
"Kau tak jahat, Ras, berhentilah berkata seperti itu. Kau hanya lupa satu hal di sela rasa angkuh yang sempat menderamu, kau hanya lupa, bahwa Tuhan tidak pernah tidur, akan selalu ada hukum tabur tuai dari setiap perbuatan yang pernah kita lakukan. Aku sudah memaafkanmu, dan semoga setelah ini, hidupmu akan lebih berarti, kau pasti akan menjadi manusia yang berbudi luhur, juga bisa lebih paham dengan semua rencana yang Tuhan siapkan untuk kehidupanmu. Jadikan saja semuanya sebagai pembelajaran agar bisa membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya, Ras."
Laras mengangguk, ia kemudian meminta Seruni memeluknya. Sudah tak ada lagi kebencian, tak ada lagi dendam. Semua menguap di udara, hilang, tak berdebu.