
"Aku kembali dulu ya. Jika kau akan kembali ke Jakarta, kabarkan kepadaku, aku kan menjemputmu di bandara," kata Bima saat Seruni akan melepaskannya pergi dengan mobil yang akan mengantarkan Bima ke pusat kota dan menuju bandara menuju Jakarta.
"Ya, secepatnya aku pulang ke Jakarta, Bim. Kau sudah pamit pada keluargamu?" tanya Seruni.
"Sudah, aku sudah menemui ibu tetapi beliau sedang tak mau melihatku. Jadi tadi hanya berbicara kepada ayah."
Seruni mengangguk sembari menarik nafasnya panjang. Sungguh sebenarnya diapun tak enak hati. Sebab karena Bima memilihnya lah, nyonya Tono acuh tak acuh kepada puteranya.
Mobil kemudian berlalu dari depan warung remang-remang mak Ute. Seruni melambaikan tangannya hingga kendaraan itu hilang sempurna dari pandangan.
"Panjang kali nafas yang kau hirup, Run. Seperti tak rela mau berpisah dari Bima pun. Padahal nanti bakal bertemu lagi lah kau dan dia," goda mak Ute yang kebetulan menyaksikan perpisahan sementara itu.
"Begitulah, Mak, Seruni dan Bima itu sedang dihantam cinta gila. Terkenang pula aku dengan bang Burhan jadinya," imbuh mbak Rini yang warna rambutnya sudah seterang mentari pagi.
"Burhan lagi kau bahas, dia bakal menikah dengan janda kampung sebelah. Sudahlah, laki orang jangan pula kau ganggu."
Mbak Rini tampak gondok dengan nasihat dari mak Ute lalu pergi dengan sedikit bermasam muka. Seruni tersenyum. Problematika di warung remang-remang mak Ute hanyalah seputar cinta yang pasti tak akan pernah ada. Maksudnya, para pelac*r di sana kata mak Ute musti tahu diri. Jangan berharap lebih pada lelaki yang kerap datang hanya untuk menunggangi, apalagi pada suami orang, jangan sampai jatuh hati lalu memaksa minta dinikahi karena saat itu juga, mak Ute akan mengusir mereka karena perasaan seperti itu akan jadi masalah di warung remang-remangnya.
"Taklah, Mak, Mbak, aku hanya bingung memaknai hubunganku dengan Bima. Mau sampai kapan kami terus berjalan tanpa restu kedua orangtuanya begini."
__ADS_1
"Makanya, Run, jangan pula kau main hati!" sindir mbak Rini sembari mengaduk sup yang sedang dimasaknya. Maksudnya mau menyindir mak Ute yang segera melempar serbet ke wajah perempuan itu.
"Seruni berbeda dengan kau dan yang lain, Rin. Dia tak menjajahkan gunung dan goanya!"
Mbak Rini hanya nyengir mendengar protes dari mak Ute. Lantas ia kemudian diam dan mendengar curahan hati Seruni.
"Kalau memang sudah bulat tekad kau dan Bima, maka menikah saja, Run. Nanti kalau kau dan dia sudah punya anak, anaklah yang akan menjembatani hubungan kalian. Sekerasnya hati orangtua, jika sudah dapat cucu, maka akan luluh," komentar mbak Rini kemudian.
"Nah, tumben kau pintar!" sambar mak Ute.
Seruni tertawa melihatnya. Di warung remang-remang itu, memang sudah demikian terbuka. Berbicara begitu blak-blakan, tetapi tetap didengarkan dengan seksama.
"Aku hanya tidak ingin tekad Bima itu jadi bumerang bagi dirinya sendiri, Mak, Mbak. Tak menyangka pula jika hubungan ini sampai ke tahap ini."
"Aku ke pasar ya, Mak, mau pergi beli kembang buat ke makam ibu dan bapak besok," ujar Seruni sore harinya setelah dia rapi dengan dress vintage bermotif kupu-kupu.
"Ya, memang sebaiknya kau beli. Besok jum'at pasti banyak orang nyekar dan bunga yang dijual di depan pemakaman biasanya cepat habis."
Seruni mengangguk lalu mulai menyusuri jalan menuju ke pangkalan ojek. Setelah sampai di pasar, Seruni langsung membeli beberapa buah-buahan dan juga makanan lain untuk di warung remang-remang itu. Lalu bergegas menuju tempat anak kecil yang sering menjual kembang.
__ADS_1
"Saya tidak punya uang kembaliannya, Mbak."
Seruni tersenyum kecil lantas mengusap lembut kepala anak kecil itu.
"Ambil saja untukmu sisanya."
"Tapi ini terlalu banyak."
"Akan berguna membeli beras juga makanan enak," sahut Seruni membuat senyum di bibir anak itu jadi terbit.
"Kau tak menjual kembang kertas?" tanya Seruni.
Anak kecil itu menggeleng. Kembang kertas itu maksudnya bunga Bougenville. Kalau orang desa, menyebutnya seperti itu.
"Kebetulan sudah habis, Kak. Aku belum lagi memetiknya. Tapi kalau Kakak mau, aku bisa memetiknya dan mengantarnya besok."
"Tak apa, Dik, ini saja sudah cukup."
Seruni akhirnya mencari sendiri kembang kertas itu. Di salah satu tempat, yang cukup rimbun dengan banyak sekali tanaman liar dan sepi, di sanalah Seruni kini. Banyak kembang yang dia cari. Sumringah Seruni memetiknya. Ketika hendak berlalu, ia melihat sesuatu bergerak-gerak.
__ADS_1
Seruni tak sengaja melihat mobil di balik batang yang besar. Kacanya terbuka sedikit. Ia bisa melihat dengan jelas lelaki dan perempuan di dalam sana. Lalu ia bergegas balik badan dan segera berjalan dengan tenang mencari ojek setelah berjalan cukup jauh.
"Memangnya tak ada penginapan di desa ini?" tanya Seruni sambil geleng-geleng. Dia tahu persis siapa perempuan dan lelaki berseragam pegawai negeri sipil itu.