Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Ibu Bhayangkari


__ADS_3

Usia pernikahan Bima dan Seruni sudah menapaki dua bulan. Mereka juga sudah kembali ke Jakarta. Pernikahan mereka diliputi keberkahan juga kebahagiaan pastinya. Seruni menyadari, buah kesabarannya selama ini sepadan dengan hasil yang dipetik. Keluarga Bima sudah menerimanya juga tak segan meminta maaf kepada Seruni. Kondisi Laras juga sudah membaik meskipun masih kerap jadi gunjingan di kanan kiri.


Hal itu syukurlah tidak berpengaruh dengan usaha tuan Tono di kampung. Hanya saja sekarang Laras dan keluarganya harus bolak balik ke pusat kota untuk menghadiri sidang dan mengadili Bayu atas semua perbuatannya. Dan ada satu hal lagi yang terkadang masih membuat Laras bersedih, sebab kini tak ada satu pun perkantoran yang mau menerima Laras sebagai pegawai.


Memang, keluarganya terpandang, tanpa bekerja pun dia masih bisa mengandalkan harta kedua orangtuanya, tetapi Laras sudah terbiasa bekerja jadi terkadang rasa ingin kembali bekerja itu seringkali mendatanginya.


Tapi apa mau dikata, Laras hanya bisa menerima semua hal yang sudah menjadi konsekuensi. Hubungannya dengan Seruni pun sudah membaik. Kerap kali ia menghubungi Seruni hanya untuk bercerita. Dia pun sudah memanggil Seruni dengan sebutan Mbak karena bagaimanapun Seruni sekarang adalah kakak iparnya.


"Bagaimana, Sayang, apa sudah banyak barang-barang yang datang untuk dipajang di toko bajumu?" tanya Bima suatu malam saat Seruni sedang menyisir rambutnya.


"Baru setengah yang datang, Mas. Tetapi sudah ada banyak sekali teman-teman di tempat kerjaku dulu yang keep barang karena aku sempat memajang barang daganganku di media sosial."


"Wah, bagus, Sayang. Aku akan selalu mendukung semua hal yang kau lakukan. Selama itu positif dan bermanfaat." Bima mengecup kening Seruni lalu mengajak istrinya itu untuk naik ke tempat tidur.

__ADS_1


"Tadi sudah di telepon suplier barang yang lainnya menyusul besok, Mas."


Bima tersenyum lalu mengangguk. Namun, di tengah kebahagiaan pernikahan itu, Seruni masih sering gelisah dan gundah, sebab sudah dua bulan, dia belum juga ada tanda-tanda hamil. Kemarin dia sempat telat beberapa hari, dia sudah senang sekali, tetapi keesokan harinya dia mendapatkan tamu bulanan.


"Kenapa belum juga ya, Mas?" tanya Seruni gundah. Hal yang hampir setiap malam dikeluhkannya kepada sang suami.


"Apa, Sayang?" tanya Bima.


"Pura-pura tidak tahu!" Seruni mencubit gemas perut Bima hingga lelaki itu mengaduh. Ia tertawa kemudian menatap Seruni penuh pengertian.


Seruni menyebik, Bima memang selalu seperti itu. Dia pengertian kepada Seruni, tapi Seruni selalu tak enak setiap kali berteleponan dengan mertuanya dan dia belum bisa memberikan kabar gembira itu. Sempat berpikir dia tak subur, tapi Bima selalu meyakinkan Seruni, memang mereka yang belum diberi kepercayaan untuk secepatnya punya anak. Tapi lelaki itu yakin, suatu saat benihnya akan tumbuh dengan baik di dalam rahim istrinya.


"Ya sudah, jangan banyak pikiran ya, Sayang. Besok kita ada kegiatan. Jangan bangun terlambat."

__ADS_1


Seruni mengangguk, semenjak menjadi istri Bima memang jadwalnya cukup pada sekarang. Dia seorang ibu bhayangkari. Dia juga jadi banyak berkenalan dengan para istri polisi, mereka cantik-cantik dengan seragam pink khas ibu bhayangkari.


"Besok selepas acara, kita mampir di kontrakanku kemarin ya, Mas. Ada beberapa barang yang tertinggal, tak enak dibiarkan di sana, siapa tahu sudah ada orang yang mau menempati tempat itu. Juga aku mau memberi sedikit oleh-oleh untuk para tetangga di sana."


"Ya, Sayang, tentu saja, Mas akan menemanimu."


Seruni tersenyum lalu menerima satu kecupan lagi di bibir juga keningnya. Seruni sedang datang tamu bulanan, jadi kegiatan bercinta mereka harus tertunda dulu selama beberapa hari ke depan.


Keesokan harinya, Seruni telah rapi dengan make up tipis dan rambut dibentuk sedemikian rupa, seragam pink membuatnya bertambah cantik. Bima yang sudah gagah dengan seragam kebanggaan, memeluk istrinya itu dari belakang. Mereka sedang menatap ke arah cermin.


"Kau sangat cantik, istriku," bisik Bima mesra.


Seruni tersenyum, mengulurkan jemari lalu membelai pipi suaminya. Harum tubuh maskulin Bima membuat Seruni selalu mendamba, Begitu pun sebaliknya. Kehidupan berjalan semestinya, sebentar lagi ibu bhayangkari ini bukan sekedar perempuan biasa, ia akan fokus untuk membantu Bima mencari rejeki halal. Memulai bisnis menjadi seorang pedagang dan Bima selalu mendukung apapun yang istrinya kerjakan.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat, jangan sampai terlambat," kata Bima memberikan lengannya untuk digamit mesra Seruni yang segera menyambutnya dengan sukacita. Sampai di aula gedung kepolisian, Seruni mulai berbaur dengan para perempuan anggun lainnya. Ia bisa membawa diri, bibirnya selalu merekah penuh senyum, membuat ia cepat mendapatkan teman-teman baru. Bima memperhatikannya dari kejauhan, sebab saat ini sedang berbincang dengan atasan juga anggota yang lain. Ia melihat Seruni dengan hati yang sejuk, kadang tak menyangka akan mendapatkan jodoh yang dulu pernah dia tinggalkan. Hidup memang penuh rahasia.


__ADS_2