
Sesuai kesepakatan Seruni, akhirnya Bima datang dengan mobil mewahnya, ia parkir di pinggir jalan. Tersenyum dari kejauhan dan itu senyuman penuh pesona yang membuat beberapa gadis kuliahan tak jauh dari Seruni tampak berseru heboh melihat lelaki berseragam itu. Seruni menatap mereka dengan decakan sebal karena mereka berisik sekali.
"Pak polisinya ganteng!"
Terdengar mereka memuji Bima yang berjalan dengan gagah menuju Seruni.
"Sepertinya, itu pacarnya kakak itu."
Terdengar lagi bisikan demi bisikan yang jelas bisa Seruni dengar. Tatapan memuja itu tak juga hilang apalagi saat Bima semakin mendekat ke arah Seruni. Aroma parfum mahal menyeruak, wangi yang maskulin membuat mereka jadi membuka tutup matanya.
"Wangi sekali!" desis mereka.
Haduh! Seruni sepertinya salah pilih tempat. Dia risih dengan suara-suara sumbang di belakangnya.
"Kau sudah lama menunggu, Run?" tanya Bima dengan senyuman dan demi Tuhan, Bima memang mempesona. Seruni sampai harus mengalihkan pandangan agar ia tak ketahuan memuji lelaki itu di dalam hatinya saat ini.
"Belumlah lama lagi, Bim. Tapi ... "
"Tapi?"
"Bisakah kita pindah tempat saja?" tanya Seruni yang memang sedari tadi tampak tak nyaman. Bima mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, memang suasana ramai di warung kopi dengan banyak orang yang baru pulang kerja juga para mahasiswa mahasiswi itu membuat ia pun tak nyaman. Jadi, Bima segera mengangguk.
"Biarkan aku yang memilih tempatnya."
Seruni akhirnya mengangguk setuju. Ia segera beranjak dan berjalan bersama Bima. Bersisian mereka dengan banyak sekali mata yang memandang keduanya hingga mereka menghilang setelah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Dalam perjalanan yang Seruni tak tahu kemana Bima akan membawanya sekarang, suasana hening. Hanya lantunan musik klasik yang terdengar dari mobil Bima.
"Aku akan membawakan ke tempat yang pasti kau suka, Run."
"Terserahlah, yang penting jangan tempat seperti tadi."
Bima mengangguk dan tertawa kecil. Merasa lucu dengan kekesalan Seruni padahal perempuan itu sendiri yang memilih tempatnya.
Mata Seruni sedikit terbuka kala melihat pemandangan di depannya. Bima ternyata mengajaknya ke pantai. Tempat yang cukup sepi dan karena hari ini adalah hari bekerja bukan weekend atau libur tanggal merah, jadi pantai itu sepi. Hanya terlihat beberapa pedagang bakso keliling dan pedangan buah kelapa yang ada di sana.
"Turunlah, duduk di sana, aku pesankan kelapa dulu."
Bima menunjuk sebuah bangku kosong di bawah pohon kelapa dengan angin sepoi-sepoi. Seruni menurut saja. Dia duduk dengan tenang, rambutnya tampak melayang-layang. Bima menatap Seruni dari jarak cukup jauh karena ia sedang memesan dua buah kelapa. Seruni tampak cantik natural, Bima menyukainya, Bima mencintainya, Bima menggilainya.
"Tak banyak yang ingin aku katakan. Tapi, aku merasa rencana kan akan melamarku adalah hal tergila yang pernah aku dengar, Bim."
"Aku serius, Seruni. Aku ingin menikahimu."
"Kita tidak akan pernah bisa bersatu, Bim. Aku masih menyimpan kebencian itu untukmu," ungkap Seruni jujur, matanya memandang lurus ke depan, suara ombak menambah aroma masa lalu yang mulai terbawa ketika Seruni mengatakan kejujuran itu kepada Bima.
Bima sendiri masih bisa merasakan luka Seruni yang menganga. Ia perlahan meraih jemari Seruni. Seruni menoleh, tampak matanya berkaca-kaca, hati Bima juga hancur melihat betapa luka itu sudah mengurung Seruni dalam lingkaran kebencian yang mendalam.
"Biarkan aku menebus semua kesalahanku kepadamu, Seruni. Aku memang pecundang dahulu, tapi bukankan pecundang juga layak diberi kesempatan untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu."
"Aku sudah terlanjur sakit hati dan tanpa sengaja jadi memelihara rasa benci itu kepadamu, Bim."
__ADS_1
Seruni kemudian diam begitupun Bima karena kelapa pesanan mereka telah datang. Seruni menghisap air kelapanya yang menyegarkan begitupun Bima.
Lalu setelah lama mereka terdiam, Seruni mulai beranjak, ia bergerak ke arah pesisir pantai. Bima menyusulnya, bersisian mereka berjalan.
"Aku tak menyangka jika apa yang aku lakukan kepadamu dahulu menyisakan luka dan kebencian yang begitu dalam untukmu, Seruni. Tapi jujur saja, aku memang mencintaimu mulai sekarang, aku ingin menebus semuanya, membahagiakanmu, membuat kau tak lagi luka."
"Kenapa kita harus kembali bertemu?"
Seruni menghentikan langkah, memandang Bima dengan sejuta tanda tanya. Bima menatap perempuan itu dengan pandangan menunduk untuk mempertemukan mata mereka sebab Bima jauh lebih tinggi dari Seruni.
"Karena Tuhan ingin aku bertanggungjawab dengan semua yang sudah aku lakukan kepadamu, Seruni. Jadi biarkan aku menikahimu."
"Menikahiku, Bim? Bima, apa kau tahu, ibumu pernah datang menemui aku saat aku berada di desa waktu itu?" Bima menggeleng. Ia memang tahu bahwa ibunya tak suka dengan Seruni karena perbedaan kasta di antara mereka, tetapi ia sama sekali tak tahu kalau ibunya sampai mendatangi Seruni. Sungguh, ia tak tahu. "Kau tak tahukan, kalimat demi kalimat dari ibumu seperti sedang menamparku bolak balik. Belum lagi kalimat merendahkan dari adikmu yang terhormat itu. Jadi apa alasan kita harus menikah, Bim? Sudahlah, lupakan saja! Dulu memang aku pernah bersumpah, jika suatu saat bertemu dengan kau kembali maka aku akan menghancurkanmu, menghancurkan kebahagiaanmu, tapi setelah kita bertemu, aku malah tak ingin apapun lagi. Hanya ingin kau menjauh saja darimu, Bim."
Bima memegang bahu Seruni. Di matanya ada selaksa rindu dan cinta yang begitu menggebu. Seruni seolah bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku mencintaimu, Seruni. Aku serius! Kalau aku tak serius, tak mungkin aku membatalkan rencana pernikahanku dengan Atikah. Aku rela dihajar ayahnya. Aku ingin membawamu di hadapan seluruh keluargaku, aku tak peduli apa kata mereka, aku hanya ingin mengatakan di depan mereka semua bahwa aku mencintaimu. Akulah pemilik kehormatanmu, Seruni. Jadikan aku orang pertama dan terakhir yang menyentuhmu."
Seruni hampir meloloskan airmata yang ia tahan sedari tadi, sesungguhnya, kebencian itu kini hanya di mulut Seruni saja. Sejujurnya, Seruni pun hanya ingin disentuh oleh satu lelaki yang dulu pernah menyentuhnya dan benar, benar apa yang Bima katakan bahwa dia adalah pemilik kehormatan Seruni.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Bima," desis Seruni akhirnya, matanya dan Bima masih saling menatap, terasa angin berhembus di antara mereka.
"Sekarang jujurlah kepadaku, Seruni, apa kau mencintaiku? Apa kau sudah menemukan kembali rasa yang pernah terkubur itu untukku lagi sekarang? Aku yakin, aku yakin kau masih memilikinya. Katakan kepadaku, Seruni."
Seruni mematung di tempatnya. Lidahnya terasa begitu keluh. Ia tak sanggup berdusta karena rasa itu memang jelas masih ada. Tetapi bibirnya seolah menahan agar tak terucap kejujuran terdalam itu. Namun, Bima masih menanti, menanti jawaban sang pujaan hatinya, di pinggir pantai dengan angin yang membelai kegelisahan mereka saat ini.
__ADS_1