Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Atikah Hamil?


__ADS_3

Pagi hari sekitar pukul delapan ketika mentari sudah mulai meninggi dan membuat sekitar ladang itu terang benderang, Seruni menemukannya. Bima sedang berdiri di sana, tak jauh dari saung tempat biasa dipakai para petani untuk beristirahat makan siang. Perlahan, Seruni mendekat.


"Bima," panggil Seruni pelan.


Bima menoleh, dilihatnya Seruni dengan baju terusan berwarna coklat muda yang kontras dengan kulitnya yang putih sedang menunggunya di belakang. Bima memberikan senyumnya walaupun tidak selebar kemarin, begitu juga dengan Seruni. Ia menatap lelaki itu dengan hangat juga senyum kecil yang ia berikan.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Seruni lalu bersisian berdiri di samping lelaki itu, terasa angin membelai anak rambut mereka dengan lembut.


"Mungkin lebih cepat sepuluh menit darimu, Run," ujar Bima.


Seruni tampak mengangguk, lalu keheningan mulai menyergap. Sepertinya keduanya kebingungan untuk memulai percakapan, situasi juga mendadak menjadi canggung, padahal kemarin Seruni ingat, ia dan Bima masih sempat bermesraan juga berkasih-kasihan.

__ADS_1


"Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Bim?" tanya Seruni lalu Bima menoleh. Padahal Bima yakin betul, perempuan itu tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Bima atau apa yang harus mereka bicarakan saat ini. Tapi Bima cukup terkejut dan cukup surprise melihat ketenangan yang ditampilkan oleh Seruni, padahal kemarin Ia baru saja dimaki-maki oleh ibunya juga adiknya tapi saat ini, Seruni seperti sedang menahan kegetirannya sendiri, menggantinya dengan senyum biasa, berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya kepada Bima walaupun Bima bisa merasakannya.


Sikap Seruni yang begitu tenang, sorot mata yang begitu tegas dan nampak menerima apapun yang sedang terjadi dalam kehidupannya, justru membuat Bima semakin ingin menggenggamnya erat-erat dan tidak ingin meninggalkan perempuan itu, kendati restu nampaknya masih sangat jauh mereka dapatkan.


"Seruni, aku tidak tahu apa tanggapanmu dengan apa yang sudah dikatakan oleh ibuku kemarin, tetapi aku berani jamin, Seruni, hatiku masih ada untukmu. Bahkan perasaanku semakin kuat kepadamu, aku tidak ingin kita berpisah hanya karena tak dapat restu dari kedua orang tua. Seruni, aku akan mengupayakan segala hal hanya demi bisa untuk bersamamu."


Seruni tertawa kecil seraya menggeleng lalu ia menatap Bima dengan serius. "Kita belum terlalu jauh, Bima. Pernikahan pun baru sebatas wacana dan obrolan. Kalau kau ingin mundur, ya sudah mundur saja, aku tidak ingin menenggelamkanmu dalam kehidupanku yang sangat kontras dengan kehidupan kalian. Aku sadar diri, aku tidak akan pernah bisa masuk ke dalam keluargamu. Kalian adalah orang kaya sedang aku hanyalah rakyat jelata yang tidak punya apa-apa, hanya punya sebatang badan yang dibawa kemana-mana. Memang tak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Seruni dan jujur saja aku tidak ingin membuat kau dan keluargamu bercerai-berai. Jadi lebih baik lupakan semua rencana kita kemarin, toh aku sudah memaafkanmu, karena aku melihat kesungguhan di matamu dalam menebus semua kesalahan itu."


Bima menggeleng, ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Seruni, bahkan sampai detik ini ia masih ingin memperjuangkan cinta mereka, meskipun alar melintang begitu kuat menghantam bagai badai yang menerjang. Bima ingin tetap bertahan dan ia juga ingin Seruni pun demikian.


"Seruni, pekerjaanku tidak ada hubungannya dengan semua ini. Yang menjadi kendala adalah restu dari kedua orang tuaku. Tetapi aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa aku rela kehilangan semuanya, aku ingin bersamamu, Seruni. Aku punya tabungan, walaupun nanti mungkin aku akan mempertaruhkan jabatanku dan pekerjaanku, aku masih bisa menghidupimu, kita bisa membuka usaha bersama."

__ADS_1


"Semua yang kau tawarkan kepadaku adalah hal yang sangat manis, Bima. Sungguh, kalau aku tidak memikirkan egoku, pasti aku akan dengan senang hati menerimamu. Tapi rasanya tak pantas jika aku yang menjadi penyebab jauhnya kau dari keluargamu, itu akan menjadi beban seumur hidup bagiku. Aku akan selalu dilingkupi rasa bersalah dan aku tidak ingin merasakan itu semua."


"Tapi aku mencintaimu, Seruni, kau sudah tahu aku akan memperjuangkanmu apapun resikonya!"


Lalu keduanya diam, karena sebenarnya, Seruni sendiri bingung dan tidak tahu akan dibawa kemana hubungannya dengan Bima. Memang tak semudah yang ia katakan, bahwa hatinya pun sepenuhnya tak rela jika harus berpisah dari Bima. Jujur saja, cinta kini mengambil peran yang begitu banyak di dalam hatinya. Ia tidak ingin kehilangan, tetapi juga nuraninya menahan agar tidak menjadikan Bima seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.


Jadi pagi itu, Seruni mengakhiri pertemuan mereka dengan sesuatu yang belum pasti. Hubungan mereka masih abu-abu, tidak jelas mau dibawa kemana, tetapi Bima sudah mengatakan bahwa ia akan terus memperjuangkan perempuan itu.


Sayangnya, ketika siang hari saat Seruni sedang memasak bersama para pekerja mak Ute, seorang gadis berteriak di depan sana. Seruni tersentak ketika ia melihat Laras datang dengan seragam PNS, menemuinya.


"Ini memang warung remang-remang, Laras, tapi bukan berarti kau bisa berteriak seenak itu. Kau mengganggu ketentraman orang, penghuni yang ada di sini," ujar Seruni kepada Laras yang saat ini sedang bersidekap di depan dada tangannya, ia memandang Seruni dengan sengit, tatapannya penuh dengan aroma kebencian juga permusuhan.

__ADS_1


"Aku katakan kepada kau sekali lagi, Seruni, berhentilah mengejar abangku! Kau tidak pantas untuknya, sampai hari ini ibuku masih trauma melihatmu, dia seperti sedang melihat hantu! Kau tahu ibuku saat ini sedang sakit karena kau dan kau harus tahu pula kau tidak akan pernah bisa bersatu bersama abangku, sebab mbak Tika saat ini sedang hamil anaknya. Jadi mengertilah dan menyingkir!"


Seruni yang sempat tersentak itu berusaha tetap tenang meskipun saat ini hatinya terguncang mendengar satu berita bahwa Atikah sedang mengandung anak Bima. Benarkah? Entahlah, hanya Bima dan Atika yang tahu. Seruni diam mematung, membiarkan Laras pergi dengan mobilnya setelah puas memaki-maki, sementara ia masih sibuk berpikir apakah benar Atikah memang sedang hamil saat ini? Hamil anak Bima?


__ADS_2