
Seruni masih berbalut mukena, selepas menunaikan isya. Ia lalu berjalan perlahan menuju jendela kamarnya. Hanya di kamar kontrakannya yang tak seberapa luas itu, Seruni bisa merasakan ketenangan. Seruni mendongak, menatap bulan yang tinggal separuh. Namun, nampaknya sebentar lagi hujan akan turun, setelah Seruni menengadahkan tangan ke luar jendela dan terasa rintik air yang perlahan.
"Mau hujan rupanya." Seruni bergumam pelan. Masih betah dengan mukena putih, ia bertopang dagu di bibir jendela. Tak berapa detik kemudian, air langit yang tadinya hanya berupa rintik-rintik kecil, kini menderas. Seruni masih betah berada di bibir jendela, merasakan dinginnya aroma malam yang berbaur dengan bau tanah basah.
Semilir angin membawa harum melati, mengusik penciumannya. Seruni menengadahkan tangan, berdoa di dalam hati, mensyukuri atas segala nikmat rejeki yang ia dapatkan selama ini, juga memohon ampun karena kemarin-kemarin, rejeki yang ia dapatkan berasal dari kelab malam, tempat yang kata orang adalah neraka dunia itu.
Ketika selesai mengusap wajah selepas berdoa, Seruni mendengar pintu kontrakannya diketuk, suaranya beradu dengan rinai hujan. Seruni tak heran lagi, pasti yang datang adalah Bima. Ia sudah hapal betul, sebab selama ini, Seruni tak pernah terima tamu, apalagi jika itu seorang laki-laki.
Benar saja, Bima sudah menunggunya di depan pintu, dengan tubuh sedikit basah sebab mobil tak bisa masuk ke dalam gang yang mengharuskannya berjalan kaki hingga sampai di kontrakan Seruni. Lelaki itu, ah, kenapa semakin gagah saja. Seruni mengalihkan pandangan, rasanya seperti berdosa karena sudah memuji pria yang dibencinya selama ini. Namun, memang betul, Bima tampan, tubuhnya atletis, matanya tajam. Seruni tak bisa menampik hal itu.
"Sudah malam, Bim, kenapa bertamu malam-malam begini?" tanya Seruni seraya berdecak sebal.
Sedang Bima hanya tersenyum kecil mendengar protes yang selalu Seruni layangkan. Perempuan itu nampak natural sekali dengan dress rumahan berwarna jingga sampai mata kaki, sedang rambutnya dicepol sembarangan.
"Kan sudah lewat magrib, juga belum jam sepuluh."
__ADS_1
"Batas jam bertamu itu hingga pukul sembilan. Kau ini!"
Meski mengomel dan protes, tapi tak urung, Seruni membawakan Bima handuk dan memberikannya kepada lelaki itu. Bima lagi-lagi hanya tertawa kecil. Dia suka Seruni yang selalu menolaknya tetapi tak bisa tak perhatian. Kalau mau dibilang dia kepedean ya sudah, yang penting Bima senang.
Seruni kembali datang dengan segelas teh hangat yang ia letakkan di depan Bima, di atas meja tepatnya. Lelaki itu segera menyeruputnya.
"Makan malam untukmu."
Bima menyodorkan sebungkus nasi goreng yang ia beli di pinggir jalan karena rasanya enak sekali. Bukannya tak mau membeli di restoran mewah langganannya, tapi ia paham betul selera Seruni dan Bima haru mengakui, terkadang makanan di kaki lima itu rasanya lebih enak dibandingkan yang terhidang di restoran mewah.
"Berat badanku sudah naik dua kilogram karena selalu kau sodori makanan enak seperti ini," keluh Seruni sembari membuka bungkusan nasi goreng itu. Bima tertawa renyah mendengarnya.
Ah! Seruni malas kalau mendengar Bima menggombalinya. Eh tapi, ngomong-ngomong, kenapa Bima tak membahas makanan siang tadi yang pasti kembali lagi kepada lelaki itu sebab ia tak bisa menerimanya?
Bima memandangi Seruni yang makan dengan lahap. Ia bertopang dagu, tersenyum-senyum sendiri menatap Seruni dengan jarak yang sedekat ini. Seruni yang merasa dirinya sedang diperhatikan, mengangkat wajahnya, pandangan keduanya kembali dipertemukan. Suasana hujan begini mengingatkan Seruni dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu, Dimana dia yang masih begitu polos, rela melepas kesuciannya begitu saja kepada lelaki berpangkat di depannya itu.
__ADS_1
Seruni beranjak setelah menghabiskan makanannya, membawanya ke wastafel cuci piring lalu membersihkan mulutnya dari sisa makanan di kamar mandi. Saat Seruni kembali ke depan, dilihatnya, Bima sedang bersandar dan memejamkan mata. Nampaknya, lelaki itu memang mengantuk.
Awalnya, Seruni masih membiarkan Bima begitu, tapi setelah melihat kepala lelaki itu tampak terkulai, hati Seruni jadi berdesir. Ia ke kamarnya, mengambil bantal lalu dengan perlahan, direbakannya kepala lelaki itu di atas bantal dan Seruni juga menaikkan kaki Bima jadi berbaring di sofa panjang yang tak seberapa empuk itu.
Pas pula, saat itu ponselnya berdering. Seruni segera menuju kamar, dilihatnya ada panggilan dari Angga. Entah apa mau lelki itu.
"Iya, Ngga?" Seruni memulai percakapan.
"Kau di kontrakan, Run? Aku ingin bertandang."
Seruni mengatupkan bibirnya. Ada apa dengan dua lelaki ini? Kenapa keduanya suka sekali mendatanginya di kontrakannya?
"Ehmmmm, aku sedang di luar, Ngga. Sedang ada acara dengan teman. Maaf ya."
Terdengar helaan nafas kecewa dari Angga di ujung telepon. Kendati tak ada Bima pun seandainya sekarang, Seruni juga mungkin tak akan mengizinkan Angga datang ke kontrakannya. Dia tidak ingin orang-orang di lingkungan itu berpikir yang tidak-tidak dengan kedatangan dua lelaki yang berganti-ganti.
__ADS_1
Akhirnya sambungan telepon itupun mati, Seruni menghela nafas lega. Ia kembali ke depan, dilihatnya Bima masih betah tertidur. Mau dibangunkan rasanya tak enak, lelaki itu sepertinya betulan kelelahan.
Seruni menyingkirkan ego dan kebenciannya yang sebenarnya pun ia tak tahu entah masih ada atau tidak sekarang. Diraihnya selimut di dalam lemari lalu diselimutinya Bima dengan sejuta perasaan yang berkecamuk. Hampir tak Seruni percayai jika lelaki yang sedang terlelap ditemani nuansa hujan malam ini adalah lelaki yang sudah merenggut kehormatan dan kesuciannya sepuluh tahun yang lalu. Tapi, kemana rasa benci itu sekarang? Seruni seolah kehilangan rasa itu perlahan berganti rasa yang lain, yang tak pernah berani Seruni untuk menjabarkannya.