
Sembari mengepak bajunya, Seruni masih berbincang santai dengan mak Ute. Kejadian ketika di pasar sebetulnya masih terngiang-ngiang di ingatan. Sungguh, orang yang katanya terhormat itu tak jadi jaminan akan mampu berlaku baik di depan khalayak ramai. Bukannya dengan memaki Seruni dan mak Ute seperti tadi akan membuat orang bertanya-tanya tentang sifat asli perempuan paruh baya itu?
"Gila, mamaknya Bima itu betul-betul berbahaya mulutnya. Kalau tak kupandang dia perempuan yang sudah melahirkan kekasihmu itu, Run, sudah kutampar bolak balik mulutnya," desis mak Ute sembari melepaskan roll rambutnya satu persatu.
Seruni memandangnya sesaat, lalu senyum kecil mengembang.
"Kau pula, sudah dimaki-maki, didorongnya kau tadi sampai menghantam tembok, masih bisa senyum-senyum!" kesal mak Ute kepada Seruni yang semakin membuat Seruni tersenyum lebar.
"Aku kudu piye, Mak? Meraung-raung di sana? Atau melakukan hal lain seperti yang dia lakukan tadi? Aku tak sama dengannya, Mak, aku masih bisa menjaga mulutku untuk tak berkata kotor dan kasar kepadanya."
Mak Ute menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan kasar mendengar jawaban Seruni yang begitu tenang.
"Lagipula, kasihan Bima," lanjut Seruni lagi, kini tatapannya menerawang. Lelaki itu sudah sampai di Jakarta dan sedari tadi tak berhenti meneleponnya.
"Kalau begitu menikahlah, jika kau kasihan padanya. Perkara restu orangtua, seiring berjalannya waktu, pasti akan kau dan Bima dapatkan."
"Nanti, Mak, kalaulah tiba saatnya, jika memang Tuhan berkenan mempersatukan, maka tentu aku dan Bima akan berada dalam ikatan yang lebih sakral."
__ADS_1
Mak Ute lagi-lagi hanya bisa menarik nafas panjang. Dia tidak paham problem cinta-cintaan. Ia hanya bisa mendoakan semua kebaikan bagi Seruni, juga menyiapkan bahu dan telinga jika Seruni butuh teman bicara.
"Kau terlalu mengalah, Run," desah mak Ute berat hati.
"Mengalah bukan berarti kalah, Mak. Aku tetap ingin menghormati ibunya Bima, jodoh ataupun tak jodoh dengan puteranya."
Mak Ute mengangguk-angguk saja setelah itu. Ia kemudian keluar untuk beristirahat. Sedang Seruni berbaring di kamar itu dengan pikiran melayang-layang. Malam harinya ketika sedang berbaur dengan beberapa pegawai mak Ute, dikarenakan warung remang-remang itu masih nampak sepi, Seruni ingin sedikit berlama-lama bersama para pekerja mak Ute. Ia menghabiskan hampir separuh malam berbincang dan bersenda gurau dengan para wanita malam itu. Mak Ute sendiri sedang ada keperluan, tadi pergi membawa mobilnya dengan seorang supir. Entah kemana, mereka pun tak tahu.
"Belum mengantuk kau, Run?" tanya mbak Rini sembari menyulut rokok.
"Jam berapa berangkat besok?"
"Jam delapan dari sini, Mbak," sahut Seruni.
Lalu perbincangan itu terhenti, manakala satu persatu lelaki hidung belang mulai memenuhi ruangan.
"Aku ke sana ya, Run, ada bang Joko, aku dengar dia baru saja gajian, dapat banyak kalau bisa goyang sama dia malam ini."
__ADS_1
Seruni tertawa kecil mendengarnya, lalu membiarkan mbak Rini menghampiri lelaki itu dengan genit dan manjanya. Seruni sendiri memutuskan untuk ke belakang lalu menuju kamar yang berjajar seperti kontrakan itu.
Namun, saat ia masuk ke kamar itu lalu menghidupkan lampu, ia tersentak bukan main. Seseorang telah menunggu dirinya. Lelaki yang ia ketahui sebagai kakak tirinya.
Seruni bergegas kembali meraih gagang pintu tapi ternyata Tobi lebih gesit dan cepat. Lelaki itu mengunci pintu, mengurung Seruni bersamanya di kamar itu.
"Aku akan berteriak, kalau kau berani macam-macam kepadaku, Tobi!" gertak Seruni sembari terus mundur karena Tobi sudah semakin maju dengan seringainya yang memuakkan.
"Berteriaklah, aku ingin tahu siapa yang akan datang menyelamatkanmu. Semua pelac*r dan germo itu tidak ada. Musik di luar sana juga akan menutup suaramu. Jadi menyerahlah, Seruni. Lebih baik kita nikmati malam ini hingga pagi."
"Bajing*an! Kau pikir aku suka kepadamu?! Aku geli! Benci setengah mati! Pergi!" Seruni berontak ketika Tobi mulai menyerempet tubuhnya semakin lekat. Seruni memukul-mukul dada lelaki itu dengan kuat. Tapi jelas saja ia kalah tenaga. Tiba saat Tobo menjatuhkan Seruni ke atas ranjang, Seruni dengan gerakan cepat langsung menendang benda keramat lelaki itu hingga Tobi menjerit kesakitan.
"Pergi! Atau aku tak segan-segan menghantam kepalamu lagi!"
Tobi tersenyum licik kemudian dia beranjak, meski masih sakit karena tendangan Seruni barusan, setidaknya dia puas dengan hasil yang didapatkannya tanpa sepengetahuan Seruni. Ia keluar dengan mengambil sesuatu yang tidak sempat Seruni lihat.
"Apa yang dilakukan keparat itu?" tanya Seruni kepada diri sendiri begitu Tobi sudah menghilang. Seruni memeriksa seluruh isi kamar juga bagian yang sempat Tobi ke sana tadi. Ia menyibak beberapa benda dan tak menemukan apapun. Seruni memutuskan tak ambil pusing lagi yang penting lelaki itu sudah pergi dari kamarnya. Ia segera mengunci pintu, menyiapkan mata untuk terpejam dan mengistirahatkan tubuh sebab besok ia akan kembali ke Jakarta.
__ADS_1