
"Bim ..."
Suara Seruni kembali terdengar setelah ia lama terdiam. Di ujung telepon, Bima masih setia menunggunya kembali bicara.
"Tak apa, Run, semua keputusan ada di tanganmu."
"Sulit menentukkan keputusanku saat ini. Jujur saja, aku sangat kecewa dengan adikmu. Tapi ... "
"Tapi apa, Run?" tanya Bima.
"Biarkan saja."
Bima menarik nafas panjang. Sebenarnya, dia juga dilema berat. Di satu sisi tak terima dengan apa yang sudah Laras perbuat. Tapi ia juga masih memikirkan ibunya yang punya riwayat sakit jantung. Namun, hal itu berarti ia juga terpaksa akan membuat Tobi bebas begitu saja.
Namun, agaknya Bima bisa cukup bernafas lega sebab semua bukti foto tak senonoh itu sudah berada di tangannya. Penggeledahan di lakukan di kediaman Tobi saat itu, Bima menyita semua hal yang berkaitan dengan Seruni tanpa sisa.
"Berarti Tobi mau kau biarkan bebas begitu saja?" tanya Bima dengan nada berat.
"Terpaksa, aku tak tega kepada Laras. Bagaimanapun dia adikmu. Dia benci aku sedari dulu, mungkin sebab itulah dia melakukan itu."
"Seruni, maafkan aku. Seharusnya aku bisa melihat ini dari sisi hukum dan ..."
"Bim ... Aku tahu tak mudah menjadi kau. Tapi, aku sepakat kepadamu untuk menyelesaikan ini secara kekeluargaan. Dendam dan kebencian tak akan menyelesaikan masalah, aku memilih menerima semua hal yang sudah terjadi dalam hidupku dengan lapang dada."
Bima diam seribu bahasa. Sungguh, atas nama keluarganya, dia berhutang banyak kepada Seruni, juga cintanya yang semakin menggunung kepada gadis itu. Seruni tak mau terlalu banyak masalah lagi dalam hidupnya. Rasanya, menghirup nafas saja begitu sulit bagi Seruni selama ini.
__ADS_1
"Tunggu aku kembali ke Jakarta ya, aku akan segera meminangmu."
Seruni tersenyum di ujung telepon itu.
"Ya, Bim, hati-hati di setiap langkahmu ya."
Keduanya mengakhiri perbincangan di telepon itu. Seruni kemudian bersandar di salah satu tiang penyangga perusahaan raksasa milik Angga. Dia memang sedang dalam jam istirahat ketika Bima meneleponnya, tepat sesaat setelah ia keluar dari musholla perusahaan.
"Seruni, ada meeting ke Bandung beberapa hari lagi. Kau dan aku yang akan pergi ke sana kelak."
Seruni menarik nafas panjang, Angga kembali melewatinya dengan beberapa rekan bisnis. Lelaki itu nampak tampan dengan hanya memakai kemeja ketatnya tanpa jas. Baru saja Angga menyampaikan informasi yang membuatnya jadi kembali berfikir.
"Kenapa harus aku yang menemani dia?" tanya Seruni galau.
Seandainya saja, Angga tak menaruh hati atau berharap banyak akan dirinya, tentu Seruni akan dengan senang hati menemani perjalanan Angga, tentu karena mereka hanya atasan dan bawahan. Namun, lelaki itu lain, dia berharap lebih kepada Seruni. Jadi, perjalanan yang cukup jauh itu akan membuat Seruni tak nyaman, tetapi atas nama keprofesionalan, hal itu tak bisa ditolak olehnya.
Seruni naik kembali ke lantai atas, sebentar lagi dia harus mempersiapkan segala kebutuhan Angga untuk meeting satu jam lagi dengan pengusaha asing. Kemarin, Seruni juga menerima gajinya, gajinya cukup besar, malah sangat besar bagi Seruni.
Di sisi lain akhirnya Bima bergerak cepat. Dibantu beberapa orang kepercayaan juga aparat di desa itu Bima menindaklanjuti sementara Tobi, membuat surat pernyataan lengkap dengan materai yang harus lelaki itu tanda tangani.
Tobi akhirnya menandatangani materai perjanjian yang bersifat sangat mengikat yang berisi jika ia berani mengganggu Seruni lagi walau hanya sehelai rambut pun, maka lelaki itu akan langsung diseret ke penjara tanpa ampun.
"Jangan pernah menyentuh Seruni walau hanya seujung rambut saja!" desis Bima penuh ancaman kepada Tobi yang hanya diam.
"Aku tak bisa menyentuh Seruni, tapi adikmu sering aku jamah."
__ADS_1
Tinju dan pukulan melayang bertubi-tubi membuat Tobi terjengkang. Kemarahan Bima bukan cuma kepada lelaki itu tetapi juga kepada adiknya. Laras betulan sudah buat malu. Murahan pula! Bima sampai harus meludah sangking jijik dan geramnya dia membayangkan tingkah adiknya yang tak ubahnya pelaccur.
Sementara itu, di rumah Bayu, lelaki itu baru saja memakai bajunya. Beruntung pegawainya mak Ute juga sadar meski kepalanya berdarah.
"Bay, kepalaku bocor!" pekik perempuan genit itu membuat Laras murka.
"Ku kira sudah mati!" ungkapnya penuh kebencian sementara Bayu menahan Laras yang sudah seperti kesetanan ingin menghabisi pegawainya mak Ute itu.
"Kau bisa masuk penjara, Ras!"
"Aku pastikan kau juga akan dicopot dari jabatanmu, Bay! Beraninya kau mengkhianati aku yang sudah memberikan segalanya kepadamu!"
"Eh, jangan begitu, Ras! Aku masih butuh pekerjaan ini!" protes Bayu.
"Terus bagaimana denganku?!" pegawainya mak Ute bernama Sari itu memekik memegang kepalanya yang masih pening.
"Heh! Pulang sana ke rumah mucikarimu itu! Itu akibatnya kalau kau berani menggoda pacar orang!"
"Sudah, Sar, balik saja kau dulu ke tempatmu. Aku berikan uang ya, kau berobatlah."
Bayu menarik berlembar-lembar uang seratus ribuan lalu menyerahkannya kepada perempuan yang segera menerimanya dengan kasar itu. Tinggallah kini ia menghadapi Laras yang sedang menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Aku sudah telat satu bulan, Bay! Sepertinya aku hamil, aku akan cek malam nanti! Kau harus bertanggungjawab jika aku hamil!"
Bayu diam saja, tidak mengatakan iya atau menolak. Hanya diam. Diam dengan banyak rencana di kepalanya.
__ADS_1