Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Berkas Pernikahan


__ADS_3

Restu secara tak langsung sudah Bima dan Seruni dapatkan. Walau Seruni sadar, restu dari ibu Bima menjadikan menantu karena ada nilai tukar di dalamnya. Meski secara sadar pula, Seruni tak bermaksud sedikit pun menukar kebebasan Laras dengan restu itu. Seruni membebaskan Laras dari segala tuntutan karena dia paham, karena dia menjaga nama baik keluarga besar itu, apalagi Bima seorang polisi. Seruni juga menggunakan hatinya, menyingkirkan ego. Padahal bisa saja ia memenjarakan Laras karena Bima pasti menyanggupi hal itu. Sekali lagi, Seruni hanya ingin berdamai.


Sekarang, keduanya sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Mempersiapkan segala berkas yang diperlukan. Banyak sekali syarat yang harus Bima dan Seruni penuhi untuk diajukan empat puluh lima hari sebelum mereka melangsungkan resepsi. Memang, menikah dengan polisi tak semudah menikah dengan orang biasa, sebab ada banyak berkas dan agenda yang harus dilalui. Semua kelengkapan berkas sudah mereka urus, mereka tinggal mengikuti sidang nikah di kantor kepolisian. Rupanya, Bima tak sendiri. Ada beberapa pula anggota lain yang akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini.


Tentu, Bima sudah cukup paham dengan urusan berkas segala macam sebab dia juga sering mendampingi atasannya ketika ada yang sedang mengikuti sidang nikah. Tentang perwalian atas Seruni yang sebatang kara juga telah diurus dan sepakati, menggunakan wali hakim. Kedua orangtua Bima pun sudah dikabari, yang paling antusias adalah ayahnya Bima, sang kepala keluarga itu begitu bersemangat setiap kali mendapatkan telepon dari putera keduanya itu.


"Sayang, nanti untuk gaun pernikahan, kita memakai jasa kakak iparku saja ya. Kebetulan, dia seorang MUA di Jakarta," ujar Bima sembari membuka jaket kulitnya.


Seruni mengangguk, sembari menyesap es campur yang baru saja ia pesan. Ia memakai celana bahan juga kemeja yang longgar di tubuhnya. Tak lagi bekerja gadis itu. Ia ingat satu minggu yang lalu, ia mengajukan permohonan pengunduran diri kepada Angga. Angga awalnya tak begitu rela melepas Seruni, tapi Seruni begitu kuat tekadnya untuk berhenti.


"Aku akan segera menikah, Ngga. Calon suamiku tak mengizinkan aku untuk bekerja lagi."


"Bukankah dengan kau bekerja, dengan gajimu yang cukup besar itu, kau bisa membantu perekonomian suamimu juga, Run?" Angga masih berusaha untuk meraih Seruni.


Namun, Seruni menggeleng pelan tetapi begitu yakin. Ia tak bisa. Ia tak nyaman selalu berduaan dengan Angga di dalam ruangan yang sama setiap hari. Puncaknya ketika harus pergi ke Bandung bersama kala itu, Seruni mantap mengundurkan diri. Entah mengapa dia ragu, apalagi ketika tak sengaja menemukan beberapa karet pengaman di dalam dashboard mobil milik Angga sewaktu dia ingin meletakkan berkas penting.

__ADS_1


"Bima lebih dari cukup untuk menghidupi aku, Angga. Lagipula, dia memang tak suka aku bekerja. Mungkin, kalau ada rejeki kami nanti, aku akan membuka usaha sendiri."


Akhirnya, Angga tak bisa berkata-kata lagi. Dengan berat hati dilepasnya sang pujaan yang seharusnya bisa dijeratnya jika mereka memang berangkat bersama kala itu. Sayang, Angga tak paham siapa Seruni. Dia bekas perempuan yang bekerja pada malam hari, membaca gelagat mesuum lelaki sudah jadi makanan sehari-hari baginya. Untuk itulah, berhenti adalah jalan terbaik. Selain menghindari dari hal yang tak diinginkan, juga dia bisa membantu Bima mempersiapkan segala keperluan pernikahan mereka tanpa tersendat-sendat.


"Rumahmu sudah hampir jadi, Run. Semoga kau suka dan penyesalan kemarin bisa hilang saat kau sudah mendiaminya."


Seruni menoleh, apa artinya dia akan hidup di desa lagi? Bukannya tak suka, Seruni mau-mau saja sebenarnya, tapi bagaimana dengan Bima dan pekerjaannya?


"Kau ingin kita tinggal di desa setelah kita menikah nanti?" tanya Seruni heran dan lebih heran pula dia baru menyadarinya sekarang setelah mereka akan menikah.


Seruni mengatupkan bibirnya lalu perlahan senyum tercetak di wajah cantiknya. Ia mengerti maksud Bima. Bima memang sengaja membangun istana itu untuk menebus semua luka yang pernah tertinggal di sana.


"Kita akan melangsungkan pernikahan di desa, Seruni. Rumah itulah yang akan kita tempati kelak saat ... "


"Saat apa, Bim?" tanya Seruni sembari menatap lelaki itu jahil.

__ADS_1


"Ehmmm ... "


"Saat malam kedua," kata Seruni.


Bima menoleh. Namun, Seruni seperti mengatakan itu tanpa beban. Tadinya Bima mau bilang saat malam pertama. Tapi kemudian dia terkenang, bukankah malam pertama mereka sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu?


"Akan lebih indah, Run, percayalah." Bima menatap Seruni teduh.


Seruni mengangguk, mengelus sebentar jemari Bima lalu tersenyum. Ia sudah tak dendam dan benci lagi kepada lelaki itu. Kesungguhan Bima mampu merobohkan dinding kebencian yang kokoh dan sempat bersemayam lama di hati Seruni.


"Kita adalah dua anak manusia, yang pernah bertemu dengan cara yang terlalu terburu-buru dulunya, Bim. Aku yang terlalu yakin akan perasaanku padamu, aku yang begitu mengagumi dirimu, dan kau yang hanya punya nafsu saat itu. Tapi aku cukup bangga kepadamu, sebab kau bisa meyakinkan aku tentang penyesalan itu. Sungguh, sebenarnya hatiku sempat mati untukmu. Namun, ketulusan dan kesungguhanmu meniup ruh dalam hatiku yang telah mati itu, menjadikannya utuh lagi seperti sedia kala, seperti sepuluh tahun yang lalu. Bedanya, kita tak lagi terburu-buru. Kita lebih bisa menahan setiap hasrat yang sebenarnya tak tahan lagi ingin beradu. Semua adalah pelajaran, Bim, dan kita sudah melaluinya dengan susah payah."


Bima tak mampu menahan senyum yang terulas di bibirnya. Seruni yang sepuluh tahun yang lalu, begitu polos, begitu ranum tapi ia renggut begitu saja, telah menyadarkannya tentang arti perjuangan.


"Ya, setelah itu, mendapatkanmu bukan hal yang mudah, Run. Namun, aku yakin dan percaya, perasaanmu kepadaku pasti tetap ada, dia hanya tertidur untuk waktu yang lama dan sudah kau paksa tidur karena lelah menunggu waktu yang akan mempertemukan kita. Pada akhirnya, aku dan kau kembali bertemu lagi. Aku yang menyadari betapa bejat dan teganya di masa lalu. Aku menyesal, Seruni, pernah meninggalkanmu begitu saja, meski sempat sesekali mencari setelah aku selesai pendidikan kala itu, tapi tak begitu serius, ku kira kau pun menganggap malam itu hanya angin lalu. Ternyata aku salah, kau lah yang paling menderita karena hal itu. Sekarang izinkan aku untuk melaksanakan niat baik ini, menjadi imam juga pemimpin yang baik bagimu, wanita yang kucintai."

__ADS_1


Satu titik airmata Seruni jatuh begitu saja, tapi hatinya mekar berbunga. Bima adalah luka, tapi Bima adalah obatnya.


__ADS_2