
Pulang dari pantai dengan oleh-oleh cincin yang sudah tersemat indah di jari manis, membuat Seruni sedari tadi tak henti tersenyum. Sampai sekarang pun, debar yang telah lama terpendam itu masih saja terasa, menguar kemana-mana, berbaur bersama udara.
Seruni mengintip di sela pintu, dilihatnya Bima masih ada di sana. Lalu Seruni membalikkan tubuhnya lagi. Jantungnya bertalu-talu. Ia sudah mulai kembali membuka hatinya lagi hanya ni untuk satu nama, Bima. Meski awalnya, Seruni masih ragu tetapi sekarang keyakinan itu muncul kembali.
"Akulah sang pemilik kehormatanmu, Seruni."
Kata-kata itu masih terngiang-ngiang, di telinga, di otak juga hatinya. Seruni segera pergi ke kaca yang tergantung di kamarnya. Dilihatnya pipi yang bersemu merah.
"Ya Allah, aku sudah mulai belajar untuk memaafkan dia." Seruni bergumam.
Lalu dengan cepat diraihnya ponsel. Terdengar langkah kaki menjauh dari kontrakannya dari arah depan sana. Seruni mengulas senyum, Bima pasti sudah pergi. Seruni mencari kontak. Mak Ute.
"Malam, Mak," sapa Seruni riang.
"Eh, ada apa rupanya, Run, jangan pula kau berteriak begitu. Senang kali kau rupanya."
Seruni tertawa kecil mendengar protes perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu.
"Mak, aku mau balik ke desa tak lama lagi."
"Ada acara apa rupanya, Run?" tanya mak Ute penasaran.
__ADS_1
"Mak, Bima melamarku. Kami akan menikah rencananya, Mak."
Mak Ute diam sesaat. Bima. Ah, barulah ia terkenang sosok gagah yang dulu sempat berbicara serius dengannya ketika ibu Seruni meninggal waktu itu. Di ujung telepon, mak Ute tersenyum kecil.
"Selamat, Mak turut bahagia. Jadi kapan rencana pernikahan itu, Run?"
"Belum bisa dipastikan kapan persisnya, Mak. Tapi, Bima akan membawaku dulu ke depan keluarga besarnya."
"Mak turut senang, aku pun mendukung kau dan Bima. Nanti mampirlah ke rumah Mak jika kau mau balik ke desamu."
"Pasti, Mak."
Seruni tersenyum. Mak Ute memang sosok pengganti ibunya sejak dulu. Meski ia seorang mucikari, tapi dia sangat baik kepada Seruni dan para pekerjanya. Memang, pekerjaan itu kotor tapi Seruni tak mau mencampuri urusan mak Ute perihal pekerjaan. Lihat saja bagaimana dulu perempuan tambun itu menjaganya dari para lelaki hidung belang. Hingga lulus sekolah, mak Ute pula yang sudah membiayai kehidupannya kemarin.
Selepas berteleponan dengan mak Ute, Seruni menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang tak seberapa empuk. Ia masih terbayang-bayang ketika Bima sore tadi menatapnya, ketika mereka saling menyatukan kening dengan segala perasaan yang membuncah.
Sempat pula keduanya berhenti di surau tak jauh dari pantai ketika Maghrib menyambangi tempat itu. Seruni berdoa kepada yang khalik, berusaha merayu Tuhan agar memudahkan jalannya dan Bima yang telah serius ingin meminang.
"Ya Allah, aku memang orang miskin, berbeda jauh dengan Bima yang berasal dari keluarga teramat terpandang. Tapi, aku tak pernah mengeluh tentang kemiskinan yang mendera di sepanjang hidupku selama ini, hanya saja, aku ingin sedikit egois sekarang, aku hanya ingin kemiskinan ini tak menjadi alasan keluarga Bima untuk menentang rencana mulia ini. Ya Allah, lapangkanlah hatiku agar senantiasa memberi maaf kepada Bima meski jika terkenang saat dulu, aku seperti sedang mengoyak hatiku lagi. Dia sudah berubah, dia sudah menjadi lelaki yang baik."
Seruni bergumam pelan seraya memejamkan matanya. Sebentar lagi ia akan menunaikan isya. Mungkin di sepanjang malam, ia akan terus berdoa dan merayu yang maha agung untuk mengabulkan permintaannya. Seruni hanya bisa mengadu kepada Tuhan atas semua kegalauan, kekecewaan juga semua rasa yang kini bercampur aduk di dalam hatinya.
__ADS_1
***
Pagi sekali menyambut hari yang tengah berseri dan bersemi, Seruni menemukan Bima sudah rapi dengan seragam polisi, tengah menanti dia menyuruhnya masuk. Kenapa rasanya jadi agak canggung, saling menatap tapi malu-malu. Bima meletakkan dua sarapan di atas meja.
"Makan dulu, baru aku mengantarmu ke kantor."
"Ya, kau juga makan bukan?" tanya Seruni kikuk, merasa bodoh sekali padahal matanya dengan jelas melihat dua bungkusan yang sudah Bima bawa.
"Makan, Sayangku. Tapi kalau kau mau dua-duanya, aku rela tak makan."
Ah, Bima sukses membuat Seruni jadi tersipu-sipu. Apa sih? Seruni jadi tak mau memberikan wajahnya sementara di depan Bima. Dia yakin, Bima pasti bisa melihat wajahnya yang serupa kepiting rebus sekarang, merah merona seperti abege baru puber. Jadi dengan dalih ingin membuat kopi, Seruni pergi ke dapur.
Bima sendiri tahu bahwa Seruni sedang malu-malu menatapnya. Cinta memang perlahan mulai merayap lagi ke kedalaman hati perempuan yang pernah dia buat luka itu. Lalu, Seruni kembali dengan telah menguncir rambut panjangnya yang bergelombang menjadi ekor kuda juga dengan segelas kopi di tangannya.
"Ayo, makan dulu."
Bima ternyata sudah membukakan bungkusan makanan untuk Seruni. Seruni duduk dengan tenang di depan lelaki itu. Mereka makan dengan sesekali saling melirik. Kala pandangan akhirnya bertemu, satu senyuman dari Bima membuat jantung dan hati Seruni nyaris berhenti. Sungguh, senyuman itulah yang ia lihat dahulu sepuluh tahun yang lalu, begitu membius, begitu mempesona, tapi berbeda, karena kini senyuman itu telah matang dan penuh tanggungjawab berbeda dengan jiwa pecundang yang sudah lama hilang.
"Nanti makan siangmu, aku antarkan."
Seruni tak lagi menolak, ia mengangguk pelan. Bima semakin tak sabar, ingin segera menghalalkan perempuan di depannya agar tak dosa bila dia sentuh lebih jauh. Sungguh, cinta lama itu memang belum usai.
__ADS_1