Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Terusir


__ADS_3

"Aku bisa menjelaskannya, Yah, Bu." Laras berusaha meraih ibunya tetapi nyonya maupun tuan Tono sudah terlanjur murka.


"Ini, Bu! Ini baru betulan mencoreng arang di keluarga terhormat ini!" bentak tuan Tono tanpa memperdulikan Laras yang sudah menangis tersedu.


"Dengar kau, Laras?!" tanya nyonya Tono dengan kemarahan.


"Kau yang salah, Bu. Kau manjakan dia, akhirnya malah buat malu!"


Nyonya Tono hanya diam. Betul, dia yang salah asuh, salah didikan, terlalu memanjakan Laras dan membiarkannya berulah di luar sana.


"Siapa yang melakukannya? Bayu?" tanya nyonya Tono dengan suara gemetar. Laras awalnya tampak sedikit kebingungan. Tetapi kemudian dia mengangguk. Betul, sepertinya memang Bayu.


"Mana dia?! Berani melakukan, tak mau tanggungjawab?" tanya tuan Tono dengan kemarahan yang sudah meledak.


"Mau, Yah, pasti mau."


"Antar kami ke rumahnya!"


Laras hanya bisa mengangguk pasrah. Betul, Bayu katanya sudah berjanji akan menikahinya setelah tahu kalau Laras hamil. Tetapi sampai sekarang belum ada itikad baik lelaki itu. Laras dibiarkan menutupi perutnya yang sudah semakin buncit. Sebab itulah, Laras sekarang jarang ada di rumah. Dia takut ketahuan, sayangnya dia lupa membuang barang bukti.


Bayu sempat memaksanya menggugurkan kandungan, tetapi Laras menolak mati-matian. Dia ingin mempertahankan bayi itu. Dia takut jika harus menggugurkan kandungannya. Namun, janji Bayu seperti menguap saja di udara. Setiap kali Laras datang ke rumahnya, lelaki itu selalu menghindar.


Sekarang, dengan datang orangtuanya, dia berharap Bayu mau bertanggungjawab secepatnya. Kalau orangtuanya yang mendesak, tentu Bayu akan tergerak untuk menikahinya secepat mungkin, begitu dalam pikiran Laras sekarang.

__ADS_1


Laras juga sudah ancang-ancang, akan melaporkan Bayu dan mengadukannya ke kantor jika dia berani lari dari tanggung jawab. Dia ingin Bayu dipecat sebagai pegawai negeri sipil jika lelaki itu masih saja berusaha mengelak.


Saat tiba di depan rumah Bayu, lelaki itu nampak terkejut. Dilihatnya Laras memandangnya dengan seringai. Dia yakin, kedatangan orangtuanya tak sia-sia.


"Masuk dulu, Pak."


Namun, belum sempat Bayu membuka pintu lebih lebar, tuan Tono yang sudah terlanjur marah, melayangkan tinjunya kepada Bayu hingga lelaki itu tersungkur.


"Kau membuat anakku menjadi perempuan murahan!"


"Anak Bapak memang murahan! Dia tak hanya tidur dengan saya, dia juga tidur dengan Tobi. Mungkin ada banyak lagi lelaki yang tidur dengannya selain saya!"


"Lancang kau, Bay! Ini anakmu!" Laras memekik.


Namun, tuan Tono mendekati anaknya itu. Tangannya melayang lagi, bolak balik menampar pipi sang puteri. Penghinaan macam apa ini?! Dia betulan malu, apalagi kata Bayu, Laras tidur dengan banyak pria termasuk kakak tiri Seruni.


Nyonya Tono sendiri hanya mampu terdiam, bahkan melihat Laras, dia tak sudi. Setiap kali Laras ingin mendekatinya, dia menghindar. Nampak kemarahan di mata nyonya Tono, berkilat-kilat.


"Aku tak mau tahu, kau mesti menikahi anakku!" hardik tuan Tono.


"Boleh saja, Pak, tapi pastikan dulu itu anakku atau bukan. Tanyakan sendiri kepada Laras, siapa saja yang menidurinya. "


"Kurang ajar!"

__ADS_1


"Pak, sudah, sudah." Nyonya Tono akhirnya tak tahan, dia menahan laju tangan suaminya yang akan kembali melayang.


"Anak siapa, Ras?! Anak siapa?!" Giliran nyonya Tono yang bertanya.


"Anak dia, Bu. Dengan Tobi aku selalu pakai pengaman, dengannya tidak!"


Sudah kepalang malu, Laras membeberkan hal memalukan itu. Tetapi Bayu tetap bersikukuh tidak akan mau tanggungjawab sebelum anak itu lahir dan bisa dilakukan test DNA.


Bayu menutup pintu rumahnya, membiarkan kedua orangtua juga Laras di luar. Dia tidak akan mau bertanggungjawab dan sekarang tetap merasa menang karena Laras sendiri mengakui bahwa dia tak hanya tidur dengannya.


"Murahan! Jangan berani pulang ke rumah sebelum kau bisa memastikan siapa ayah bayi itu!" Nyonya Tono mendorong pundak Laras dengan marah kemudian menyusul tuan Tono yang sudah berada di mobil.


Laras ditinggalkan tapi perempuan itu tak bisa berbuat banyak. Dia masih berusaha menggedor-gedor pintu rumah Bayu. Sayangnya, Bayu tak peduli, lelaki itu malah sudah dengan santainya bersiap mengepak barang untuk kabur.


Laras kebingungan, dia berjalan tak tentu arah. Sampai di depan gapura terlihat rumah mewah abangnya. Dia menggeleng, tak mau sampai berhutang budi. Namun, dia tidak punya tempat untuk berteduh sementara waktu. Dia terusir begitu saja.


Sampai akhirnya, dia tersentak saat seseorang berseru memanggil namanya. Suara itu tepat di belakangnya.


"Laras?"


Laras berbalik, perempuan dengan dress rumahan dan rambut dicepol itu menatapnya dengan sama bingung.


"Kau mau menghinaku juga?" tanya Laras keras kepala.

__ADS_1


"Masuklah, sebentar lagi malam," sahut Seruni tanpa memperdulikan kata ketus Laras barusan.


Seruni masih menunggunya. Laras hendak menggeleng, tapi dia sekarang tak tahu harus kemana. Akhirnya dia mengangguk juga, meski dengan menunduk, tak mau melihat Seruni yang berjalan di sisinya menuju ke dalam rumah.


__ADS_2