Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Jangan Cepat Mengambil Keputusan


__ADS_3

"Ibu kenapa, Mbok?"


Laras menghambur menghampiri ranjang dimana ibunya tengah berbaring saat ini. Tadi, mantri sudah dipanggil ke rumah megah mereka untuk melakukan pemeriksaan kepada perempuan paruh baya itu. Tuan Tono yang tadinya juga sedang sibuk di perkebunan, mendadak harus pulang saat pembantu di rumah menelepon, mengabarkan bahwa istrinya ambruk begitu saja setelah menerima telepon dari seseorang.


"Mbok juga ndak tahu, Non Laras, tadi Mbok dan pelayan lain langsung membawa Ibu ke dalam saat melihat ibu jatuh pingsan."


"Maksudku, kenapa bisa jatuh begitu, Mbok?"


"Setahu si Mbok, Ibu sebelumnya sedang menerima telepon dari seseorang, Non."


Laras menoleh kepasa ayahnya yang sedang duduk di tepi ranjang. "Coba telepon abangmu, Ras, sepertinya tadi Ibumu menerima telepon dari Jakarta. Barangkali ada suatu hal yang membuat ibu terkejut."


Laras mengangguk cepat, dia segera meraih ponsel ibunya. Baru saja hendak menekan kontak Bima, ia melihat sebuah panggilan masuk. Atikah. Kening Laras lantas berkerut, berarti ibunya bukan bertelepon dengan abangnya, melainkan dengan calon kakak iparnya. Ada apa gerangan ini, kenapa tiba-tiba saja ibunya jadi syok?


"Aku coba telepon mbak Tika aja," putus Laras akhirnya sembari keluar dari kamar ibunya beristirahat sekarang.


Laras mulai menyambungkan panggilan dan beberapa saat kemudian, suara Atikah menyambut.


"Ini, Laras, Mbak Tika."


"Oh, kau rupanya, Ras. Ada apa? Tadi aku sempat menelepon ibumu tapi kemudian teleponnya mati begitu saja."


"Karena itu akhirnya Laras menelepon Mbak. Sebenarnya, apa yang Mbak dan ibu bahas tadi? Sekarang ibu tak sadarkan diri, Mbak. Pingsan."


Di ujung telepon, Atikah tampak terkejut pula padahal dia sudah bisa menebak apa yang terjadi kepada ibunya Bima itu. Namun, ia sekarang pura-pura tak tahu.


"Ya ampun, maafkan Mbak, Ras. Mbak tidak menyangka jika berita yang Mbak sampaikan kepada ibumu akan membuatnya jadi seperti itu."

__ADS_1


"Memang apa yang Mbak katakan kepada Ibu?" tanya Laras penasaran.


Terdengar Atikah menarik nafas panjang di seberang telepon. "Semoga kau tak terkejut pula mendengarnya, Ras."


"Katakan saja, Mbak."


Hening sesaat.


"Begini, Abangmu sudah membatalkan rencana pernikahan kami yang seharusnya akan berlangsung beberapa bulan lagi."


"Kok bisa, Mbak?!" pekik Laras.


"Mbak juga sedih sekali, Ras. Seandainya saja tidak ada Seruni, pasti sampai hari ini, Mbak dan abangmu masih mempunyai hubungan yang serius."


"Seruni?!" tanya Laras dengan suara cukup keras.


"Ya, perempuan yang bekerja di kelab malam itu. Mbak merasa sakit hati sekali, Ras, apalagi sekarang, Mbak sedang mengandung anak abangmu."


"Ya, tapi abangmu malah membatalkan rencana pernikahan kami. Mbak mungkin akan menggugurkan kandungan ini, Ras, biar saja, Mbak yang menanggung."


"Mbak, tenang, jangan gegabah. Aku akan bicara dengan abang. Memang Seruni itu benalu! Sedari dulu dia naksir abangku. Dia perempuan tak tahu diri! Biar nanti aku beri pelajaran kepadanya!"


Atikah tersenyum puas mendengar makian yang keluar dari mulut Laras. Dia sudah berhasil sejauh ini mempengaruhi keluarga Bima untuk tetap berpihak kepadanya.


"Siapa yang kau telepon itu, Ras?" tanya tuan Tono mengagetkan Laras.


Laras segera mematikan sambungan telepon begitu ayahnya sudah begitu dekat jarak dengannya.

__ADS_1


"Wajar ibu bisa pingsan begitu, Yah."


"Apanya yang wajar?"


"Bagaimana tidak terkejut, Yah, kalau ternyata rencana pernikahan antara abang dengan mbak Tika sudah batal. Abang bahkan tak memberitahu hal ini kepada kita padahal rencana pernikahan mereka tinggal beberapa bulan ke depan lagi. Apalagi, mbak Tika sekarang sedang mengandung anak bang Bima. Dia juga katanya akan menggugurkan kandungannya karena abang sudah tak mau lagi dengannya."


Tuan Tono diam sesaat, sepertinya ada yang janggal dari penjelasan Laras barusan.


"Jangan cepat mengambil keputusan, Ras, kita belum mendengar dari abangmu."


"Maksud Ayah, mbak Tika tidak bisa kita percayai saat ini?"


"Ya, Ayah akan mencari tahu kebenarannya dahulu. Rasanya, tak mungkin Bima sudah menghamili Atikah. Ayah tahu persis siapa abangmu."


Laras diam, kendati demikian, dia juga tetap saja tak suka jika sudah menyangkut hal mengenai Seruni. Kalau memang benar Bima sudah membatalkan rencana pernikahannya dengan Atikah, berarti hubungan Seruni dan abangnya sudah demikian serius.


"Tapi ibu tetap saja tidak akan restu dengan Seruni, Yah, walaupun mbak Tika mengarang tentang kehamilannya, bukan berarti ibu akan menerima Seruni sebagai menantunya."


"Siapa Seruni?"


Dahi tuan Tono nampak berkerut, ia baru kali ini mendengar satu nama itu.


"Pelac*r. Masa bang Bima bisa takluk dengan orang sekotor itu?"


Kali ini, tuan Tono terdiam. Terlalu sibuk dengan usaha-usahanya membuat ia tidak banyak tahu mengenai kisah asmara anak-anaknya.


"Kau tak asal bicarakan, Ras?" tanya tuan Tono dengan raut serius.

__ADS_1


"Laras tahu betul siapa Seruni itu, Yah. Sedari jaman sekolah dia naksir berat sama bang Bima. Waktu sekolah dulu juga sudah kerja di warung remang-remang di desa seberang. Apalagi sekarang, benar-benar memalukan kalau sampai abang yang berpangkat harus bersanding dengan perempuan semacam itu bukan?"


Tuan Tono tak menjawab, karena suara istrinya yang meminta air minum tiba-tiba terdengar. Laras juga segera menyusul ayahnya, ibunya sekarang pasti sedang terbebani pikirannya dengan hubungan Bima juga Seruni.


__ADS_2