Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Bertemu Calon Kakak Ipar


__ADS_3

Ini kali pertama Bima mengajak Seruni untuk bertemu dengan keluarganya yang lain. Selama ini, Seruni hanya tahu keluarga besar Bima di desa tapi baru sekali inilah dia bertemu dengan kakak tertua Bima. Seorang lelaki, seorang pengusaha sukses dan cukup terkenal di Jakarta. Rumahnya besar sekali, istrinya menjadikan sebidang tanah kosong tak jauh dari rumah megah mereka sebagai tempatnya bekerja, menerima tamu-tamu yang akan memakai jasa riasnya.


Istri abangnya Bima_Bang Arif ternyata seorang MUA yang cukup tersohor di Jakarta. Sekarang, Seruni sedang memilih gaun yang nanti akan dia pakai di acara resepsi. Seruni sendiri sebetulnya ingin pesta pernikahan yang sesederhana mungkin. Ia memilih gaun berwarna putih tetapi istri bang Arif telah menyiapkan satu gaun super cantik dengan payet mutiara, berwarna putih, persis seperti keinginan Seruni. Istri bang Arif seorang yang cantik lagi anggun, memakai kerudung yang cukup panjang, sehingga menambah sisi elegan di dalam dirinya. Namanya mbak Inka.


"Bima pandai sekali memilih calon istri. Cantik," pujinya kepada Seruni yang entah mengapa langsung merasa nyaman ketika berdekatan dengan Inka. Perempuan itu nampak sederhana meski bersuamikan orang kaya juga meski ia adalah seorang perias dengan jam terbang tinggi.


"Lebih anggun dirimu, Mbak." Seruni merendah. Memang, sedikit merasa insecure saat ini gadis itu. Seruni selalu menjadi rendah diri ketika bertemu dengan perempuan ahli ibadah seperti Inka. Rasanya, seperti terbanting dengan kehidupan kelam yang pernah dijalaninya dulu.


"Setiap perempuan itu cantik, Dik. Apalagi jika dia menghiasi dirinya dengan keikhlasan juga ketulusan. Inner beauty kalau orang bilang. Aku melihatnya darimu, mungkin, karena itulah Bima begitu mendambakanmu."


Seruni jadi tersenyum kecil mendengarnya. Beruntung sekali Bima mendapatkan ipar selembut Inka. Sekarang, Seruni sedang mencoba gaunnya, dibantu Inka dan dua asistennya.


"Jangan hiraukan Bima, dia sedang berbincang dengan abangnya. Mereka sudah cukup lama tak bertemu, meski sama-sama tinggal di Jakarta, kadang kesibukan memang mengambil peran lebih besar. Jadi saatnya bertemu, pasti mereka akan berbincang cukup lama. Bima percaya, di tangan Mbak, pasti kau akan cantik sekali."


Seruni mengangguk pelan, memang tadi dia sedang mencari Bima lewat sorotan matanya yang menyapu seluruh penjuru ruangan. Rupanya, calon suaminya itu sedang berada di dalam rumah utama, bersama calon kakak ipar Seruni.

__ADS_1


"Ehmmmm ... Laras apa sering ke sini, Mbak?" tanya Seruni tanpa bisa dicegahnya.


Harusnya Laras pasti akan rindu pada kakak iparnya yang baik hati itu. Namun, pandangan mata teduh Inka nampak menerawang saat Seruni menyebut nama adik bungsu suami Inka.


"Tidak, Seruni, Laras lebih suka di desa. Juga, ehmmmm memang tidak begitu dekat denganku."


Seruni mengangguk saja. Laras memang sombong, Seruni tak bisa menampik hal itu. Namun, dia juga tak mau menyinggung lebih banyak hal lagi mengenai gadis itu. Hanya sekedar ingin tahu.


"Tapi ..."


"Tapi apa, Mbak Inka?" tanya Seruni penasaran.


"Laras walau hidup di desa, sepertinya lebih butuh bimbingan. Kadang, Mbak ingin sekali berbicara banyak dengannya. Sebagai kakak iparnya, Mbak ingin dia tak salah pergaulan."


Seruni mengatupkan bibirnya. Ia tahu, maksud niat Inka itu baik. Perempuan itu mungkin menyadari jika Laras memang pribadi yang cukup liar.

__ADS_1


"Dulu, pernah kami ajak tinggal di Jakarta, tapi dia menolak sebab Arif pasti akan sangat memperhatikannya di sini. Mungkin, dia takut jika harus dilarang-larang. Dia dimanja sekali oleh ibu. Ah, kau seumuran dia bukan?"


Seruni mengangguk lagi. "Malah satu sekolah dulunya, Mbak Inka."


Giliran Inka yang mengangguk-angguk. Sepertinya, baik Inka dan Arif tak ada yang tahu mengenai konflik di antara Seruni juga keluarga besar Bima di desa. Bima juga sepertinya menutup hal itu.


Setelah berbincang banyak, Seruni melepaskan gaun yang sudah ia coba bertepatan dengan Bima dan bang Arif yang datang. Seruni segera menyalami calon abang iparnya itu dengan santun.


"Semoga acara pernikahan kalian nanti lancar ya."


Bima dan Seruni tersenyum menanggapinya. Mereka memang sedang diliputi rasa bahagia. Tak sabar ingin segera mengucap ikrar janji setia sehidup semati di hadapan Tuhan dan malaikat-malaikatnya.


Ketika sore mulai menyambangi, Bima dan Seruni pun berpamitan pulang. Mereka tinggal melaksanakan sidang nikah di kantor kepolisian tak lama lagi. Rumah yang akan mereka tempati kelak setelah menikah sudah jadi sempurna. Bima juga sudah melengkapi furniture di dalamnya.


"Selangkah lagi, Seruni," gumam Bima di bawah bias senja. Seruni mengulas senyuman lalu mengangguk. Sungguh, tak sabar ingin merajut bahtera rumah tangga, menjalin ikatan setia, satu atap bersama lelaki yang telah mencuri hati, bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


__ADS_2