
Pagi itu di bulan ke sembilan kehamilan di masa-masa penantian, Seruni masih melakukan aktivitas seperti biasa. Kalau berdasarkan check up rutin dengan dokter kandungan kemarin, Seruni akan melahirkan dua minggu lagi. Tapi perkiraan dokter bisa cepat atau lambat karena jarang sekali orang akan melahirkan sesuai dengan hari perkiraan tanggal lahir.
Pagi itu, mak Ute dan Seruni bersiap ke butik. Mak Ute sudah berada di dalam mobil menunggu Seruni. Ia hanya geleng-geleng lihat Seruni yang berjalan kepayahan dengan perut besarnya menuju mobil. Ia segera keluar, membantu Seruni masuk.
"Kau itu, Run, sudah baik Bima bilang di rumah saja. Kasihan pula aku lihat kau jalan kesusahan kayak begini."
"Tak apa, Mak. Aku masih ingin pergi ke butik. Aku kuat kok."
"Aku yang berdebar melihat kau, Run."
Seruni hanya tersenyum. Keberadaan mak Ute membuat hidupnya semakin berwarna saja. Kedua orangtuanya Bima rencananya dua hari lagi akan pergi ke Jakarta. Mereka juga sudah mendengar bahwa mak Ute tinggal bersama putera dan menantu. Mereka ikut senang dengan hal itu.
Mak Ute mengendarai mobil dengan hati-hati, sesekali melihat ke arah Seruni yang sedang mengusap perut besarnya dengan lembut.
"Kata dokter apa jenis kelaminnya, Run?" tanya mak Ute.
"Aku dan Bima sengaja untuk tidak mau tahu dulu, Mak. Biar jadi surprise saja kelaknya."
"Betul juga ya."
Seruni tertawa mendengar mak Ute yang sedang berpikir itu. Mereka tiba di butik yang sudah dibuka oleh kedua pegawai Seruni. Mak Ute membantu Seruni turun.
"Ayo, Mak. Sudah banyak pelanggan kita."
__ADS_1
"Berkah tokomu, Run. Semakin hari semakin ramai yang datang dan membeli."
"Aamiin, Mak. Kehadiran Mak dan calon bayi inilah yang membuatnya ramai. Ikhtiar mencari rejeki bukan hanya tentang skill tapi kalau kita tulus pasti Allah berikan ganjaran yang sama baik pula."
Mak Ute tersenyum lalu mengangguk. Mereka masuk ke dalam butik. Kedua pegawai menyapa mereka.
"Sudah ada yang laris, Ra?" tanya Seruni kepada salah satu pegawainya.
"Sudah, Mbak, Alhamdulillah sudah laku delapan potong padahal baru saja dibuka."
"Syukurlah, nanti jangan lupa istirahat bergantian ya."
Pegawainya mengangguk sedang mak Ute juga sekarang sibuk melayani para pembeli. Ada beberapa pembeli yang sudah begitu akrab dengan mak Ute, membuat toko Seruni semakin ramai karena kehadiran perempuan paruh baya itu.
Bagi Seruni, berbuat baik adalah magnet rejeki yang paling mujarab dan manjur. Ia memandang mak Ute dengan senyum yang tak pernah sirna. Mak Ute juga sekarang sudah rajin beribadah. Kadang Seruni sering melihatnya terbangun untuk melakukan solat malam. Seruni bahagia dengan perubahan yang baik itu.
"Kenapa kau, Run?" tanya mak Ute mendekat.
"Sakit, Mak. Melilit."
Seruni berusaha menjelaskan dan mendeskripsikan rasa sakit di perutnya sekarang. Mak Ute nampaknya paham.
"Kau nampaknya mau melahirkan, Run. Ayolah Mak antar ke rumah sakit."
__ADS_1
Seruni mengangguk cepat, memang rasa kontraksi semakin mencengkram. Sepertinya dia memang akan melahirkan lebih cepat dari tanggal perkiraan.
"Loh, Mbak kenapa?" Kedua pegawai mendekati Seruni yang sedang dipapah oleh mak Ute.
"Mbak Seruni mau melahirkan. Kalian jaga toko, layani pembeli dengan baik."
"Baik, Mak Ute." Mereka menjawab kompak.
Mak Ute segera membantu Seruni masuk ke dalam mobil. Kemudian dia sendiri bergegas menuju kemudi. Selagi mengemudi, ia menelepon Bima sekalian.
"Bim, ke rumah sakit sekarang, Seruni nampaknya akan melahirkan."
Bima nampak terkejut di ujung telepon tapi kemudian diiyakannya apa yang dikatakan oleh mak Ute. Lelaki itu segera meninggalkan kantor dan pergi dengan mobil. Di dalam mobilnya sendiri, Bima merasa cemas sekaligus bahagia. Ia tak sabar menantikan Seruni melahirkan dan sekarang Allah menjawab doanya segera.
"Bagaimana kau, Run? Sabar ya, sebentar lagi kita sampai."
Sementara di mobil lain, mak Ute mengendarai mobil dengan cepat tetapi dengan hati-hati. Ia berusaha menenangkan Seruni yang sedang kesakitan.
"Sakit, Mak, ya Allah sakit sekali."
"Tarik nafas, Run. Jangan pula melahirkan di sini dulu, Run. Mak tak pengalaman membantu orang melahirkan."
Mau tak mau Seruni jadi tertawa mendengar mak Ute di sela rasa ngilu perutnya. Mak Ute segera memarkirkan mobil di depan UGD. Para perawat segera membantu mak Ute meletakkan Seruni di atas ranjang dorong.
__ADS_1
"Pasien dengan indikasi akan segera melahirkan," seru mereka dan atas perintah dokter untuk membawanya segera ke ruangan persalinan.
Ketuban Seruni merembes, membuat para perawat bergerak secepat mungkin menuju ruang persalinan.