Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Cinta dan Luka


__ADS_3

Entahlah, Seruni tak tahu keputusannya untuk tetap bertahan dan mencoba meraih hati keluarga Bima sudah betul atau belum. Meski ia sempat takut untuk mencoba tetapi memang semua hal tak akan pernah kita tahu hasilnya jika kita tak mau mencoba. Maka dengan keyakinan di dalam hatinya sendiri, bahwa niat baik pasti akan mendapatkan hasil yang baik pula di kemudian hari, Seruni pun memulai perjuangannya dan Bima.


Di hari setelah malam itu mereka bertemu di saung dekat sawah, Seruni dan Bima tak lagi gentar menunjukkan kepada semua orang tentang hubungan mereka. Kabar angin pun berterbangan menerpa keluarga besar Bima tanpa ampun. Nyonya Tono tak henti menahan gejolak amarah di dalam hatinya sendiri. Semua rongga di dalam tubuhnya terasa terbakar setiap kali orang-orang mempertanyakan tentang keseriusan hubungan Bima dan Seruni.


"Betul itu, Bu Tono, katanya Bima dan Seruni mau kawin sebentar lagi?" tanya salah satu teman arisan nyonya Tono di suatu kesempatan saat ada acara kocok arisan kampung yang diadakan di salah satu rumah warga.


"Betulan sepertinya, saya melihat Bima itu sangat memperhatikan Seruni. Di jalan juga mereka kerap saling


menatap penuh arti. Kalau hanya sekedar teman, rasanya tak mungkin anaknya Bu Tono akan senyaman itu bersama Seruni,"


timpal salah satu perempuan lagi.


"Dan lagipula, saat ibunya Seruni meninggal, aku sempat melihat Bima menemani Seruni di acara tahlilan waktu itu. Nampaknya memang sudah serius sekali hubungan mereka," imbuh yang lainnya.


Hati nyonya Tono serasa meledak mendengarnya. Namun, demi menjaga keanggunan juga tutur kata, ia hanya menarik senyum tipis.


"Ibu-ibu ini dengar dari siapa toh? Bima anak saya itu memang bukan orang biasa. Dia seorang berpendidikan, berpangkat pula, jadi tak heran, ada banyak perempuan yang suka dengannya. Mungkin termasuk gadis bernama Seruni itu. Tapi yang jelas, antara Bima dan gadis itu tak ada hubungan apapun. Keluarga kami juga sudah meminang gadis kota yang sederajat dengan kami. Tidak mungkin kan kami menyingkirkan batu berlian demi batu yang lain."


"Ah, Bu Tono, maksud Bu Tono, Seruni itu batu kali?" Salah satu dari mereka tertawa lepas saat mengucapkan perumpamaan itu.


"Nah, itu kalian semua paham," tandas nyonya Tono cepat.

__ADS_1


"Iya sih, Bu, karena kalau dengar desas desusnya, Seruni kerja di


tempat esek-esek di Jakarta sana. Tak heran kalau balik ke desa bisa jadi secantik itu. Badannya juga bagus sekali seperti artis-artis yang sering saya lihat main film. Makanya saya heran, dulu Seruni itu lusuh, bajunya saja kadang koyak kanan kiri, tapi sekarang malah bikin pangling," komentar yang lainnya lagi.


"Makanya, apa iya, anak saya yang seorang berpangkat dan dari keluarga terhormat akan menikahi gadis semacam itu? Apa tidak memberi arang di muka saya itu Bima?" tanya nyonya Tono dengan begitu percaya dirinya.


"Lalu bagaimana jika benar kabar burung itu, Bu Tono? Siapa yang bisa menebaknya? Kita ndak pernah tahu loh kalau betulan jodoh mau dipisahkan bagaimana juga ya mesti bakal balik jadi jodoh lagi. Pun kalau tak jodoh, mau didekat-dekatkan seperti perangko pun tetap akan terpisah dengan sendirinya kelak."


"Oalah, tidak mungkin anak saya berjodoh dengan perempuan semacam itu, Ibu-ibu. Saya yakin Bima pasti lebih mengerti keluarganya. Kalaupun mereka saat ini sering terlihat bersama, itu pasti si perempuannya yang kerap menggoda."


Lalu perbincangan itu terhenti begitu saja ketika acara kocok arisan dimulai. Selama acara berlangsung, nyonya Tono masih sering memikirkan kata-kata rekan-rekannya. Mereka kumpulan ibu-ibu desa yang cukup terpandang. Tentu saja nyonya Tono tak mau mempermalukan dirinya sendiri dengan mengakui kedekatan antara Bima dan Seruni.


Desas desus itu memang semakin santer terdengar. Dan puncaknya ketika Seruni sedang melihat para kuli sekalian mengantar makanan untuk mereka, tiba-tiba saja saat ia baru keluar dari rumah yang masih dalam pembangunan itu, ia disambut dengan satu tamparan keras di pipi kirinya.


"Kau betulan menantangku?!" tanya nyonya Tono dengan mata nyalang menatap Seruni.


"Apa maksud, Nyonya?" Seruni tetap berusaha tenang, meski pipinya memerah dan terasa begitu nyeri akibat dihantam telapak tangan perempuan yang membencinya itu.


"Jangan berlagak bodoh! Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi puteraku. Kenapa kau begitu percaya diri bahwa aku akan menyetujui hubungan kalian? Dan rumah ini, ini pasti puteraku yang membelikannya untukmu! Pelac*r seperti kau mana mampu membuat bangunan semegah ini!"


Seruni meremas sisi dressnya. Kalau saja ia tak ingat sedang berhadapan dengan siapa, akan diajaknya perempuan di depannya itu untuk bergulat. Namun, Seruni sedari tadi hanya memandang nyonya Tono dengan tenang.

__ADS_1


"Nyonya, aku minta maaf kepadamu jika ternyata hubunganku dan puteramu begitu menyiksamu. Tapi, aku juga tidak bisa menahan atau melarang Bima untuk melakukan apa yang dia sukai. Juga perkara bangunan ini, kalau saja Nyonya tahu, harga rumah ini tak akan mampu mengembalikan sesuatu yang pernah terenggut saat aku dan Bima berada di sana sepuluh tahun yang lalu."


"Maksudmu, hal yang Bima sukai adalah kau, begitu? Dan dengar, peduli setan dengan apa yang sudah terjadi dahulu. Aku sudah katakan kepadamu, aku bisa memberimu uang bila itu bisa membuat kau menyingkir dari puteraku."


"Nyonya, kadang tak semua hal yang kita inginkan akan terwujud sesuai keinginan kita. Apa orang seperti nyonya hanya menjadikan harta sebagai tolak ukur tingkat kehormatan oranglain?"


"Seruni! Kalau tentangmu, maka urusannya bukan hanya tentang harta, tetapi juga sebuah nama baik. Kau pikir aku mau mempunyai menantu seorang pekerja sek* komersial sepertimu?"


Kali ini, Seruni menggeleng pelan. Sungguh, tak menyangka kata serendah itu meluncur begitu saja dari mulut seorang perempuan yang terpandang dan sangat dihormati itu.


"Saya bukan pelac*r, Nyonya. Saya tidak pernah menjual diri saya."


"Satu desa ini sudah tahu pekerjaanmu! Satu desa ini juga sekarang sedang menggunjing keluarga kami karena kau! Karenamu Bima jadi durhaka kepada orangtuanya! Ingat, sekali lagi aku melihat kau masih menempel kepada puteraku, maka kau akan tahu sendiri akibatnya!"


Lalu nyonya Tono masuk ke dalam mobilnya. Supir membawanya pergi dari hadapan Seruni yang segera menekan dadanya sendiri. Seruni duduk di bawah pohon rimbun tepat di seberang jalan. Kata-kata ibu dari lelaki yang dicintainya itu begitu menikam. Seruni memejamkan matanya sesaat. Tak lama kemudian, deru suara motor Bima terdengar. Seruni menyambutnya dengan senyuman hangat seolah tak terjadi apa-apa.


"Kita ke danau?" tawar Bima sembari mengulur tangannya membantu Seruni naik.


"Ayo," sahut Seruni mantap.


Bagai tak ada yang terjadi, Seruni menghabiskan waktu bersama Bima dengan tenang dan penuh senyuman. Seruni tak pernah paham, sampai kapan cinta dan luka akan beriringan seperti ini. Ia tidak bisa mundur, melihat Bima yang juga seperti tak peduli dengan penolakan yang diberikan keluarganya untuk mereka.

__ADS_1


Seruni ingin melihat, sampai dimana keyakinan Bima untuk terus mempertahankan dirinya. Kalau benar Bima tak gentar, berarti keputusannya untuk bertahan pun tak salah.


__ADS_2