Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Aku Sayang Padamu


__ADS_3

Meski ada tatapan marah di mata Bima dari seberang sana, tetapi Seruni tetap saja bisa melihat tatapan lain yang lebih mendominasi. Tatapan penuh rindu yang jelas sekali terlihat dari sana.


"Bim, apa salahku?" ulang Seruni dalam pertanyaannya.


Bima masih juga berdiri kaku di tempatnya. Sementara magrib mulai menyambangi Jakarta dan sekitarnya. Orang-orang berpeci dan memakai mukena putih mulai terlihat hilir mudik menuju surau di seberang sana.


"Aku magrib dulu, Run, tunggulah aku di kontrakanmu. Selepas isya aku akan bertandang ke sana."


Suara Bima akhirnya terdengar. Seruni tersenyum kecil, lantas ia mengangguk. Segera dilangkahkan kakinya menuju kontrakan. Ia sendiri harus melaksanakan magrib. Seruni segera mandi dan membersihkan diri, bergegas menunaikan ritual suci sekalian menenangkan diri.


Selepas magrib, Seruni membereskan beberapa perabotan yang berantakan. Ia jadi tak sabar untuk segera bertemu Bima dan menanyakan tentang menghilangnya Bima beberapa hari ini. Sungguh, buat dirinya galau saja.


Selepas isya, Seruni bergegas memasak masakan untuk menyambut Bima. Ia hanya memasak nasi goreng dari sisa nasi yang sempat dimasaknya pagi tadi. Pas pula ketika itu, suara ketukan pintu dan lafaz salam terdengar.


"Waalaikumsalam, masuklah, Bim." Seruni membuka pintu lebih lebar dan membiarkannya tetap terbuka. "Aku ambilkan nasi goreng dulu ..."


"Nanti saja, ada yang mau aku bicarakan denganmu."


Seruni akhirnya menghentikan langkah, berbalik lagi menuju ruang tamu dan mengambil posisi duduk tepat di depan Bima dengan meja sebagai jarak.


"Ya, sebaiknya memang begitu, karena aku pun ingin tahu ada apa dengan sikapmu akhir-akhir ini."


Bima tampak menatap lurus Seruni dan Seruni membalasnya dengan hal yang sama.


"Sebenarnya, ada apa dengan kau dan mantan kakak tirimu itu?" tanya Bima dengan tenang.


Seruni mengerutkan keningnya. Tobi? Bukannya Bima tahu betul bagaimana Seruni membenci Tobi mati-matian.


"Aku benci dia, kau sendiri tahu itu," ujar Seruni kemudian.


"Kalau benci, mengapa harus seintim itu?" tanya Bima lagi. Kali ini, amarah Seruni rasanya hampir memuncak. Apa-apaan Bima ini!

__ADS_1


"Intim bagaimana maksudmu, Bim? Fitnah apa ini?" tanya Seruni tajam.


Bima menghela nafas berat kemudian ia mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser benda itu setelah sempat sibuk membuka file yang ada di sana. Mata Seruni jadi membulat sempurna saat ia melihat foto-foto yang sekilas memang tampak intim sekali antara dia dan Tobi. Latar tempatnya di bilik milik mak Ute. Seruni menggeleng tak percaya melihatnya.


"Aku bisa menjelaskannya, Bim. Ini tak seperti yang kau pikirkan. Apa yang kau lihat di sini tak seperti semestinya."


"Bukankah tempat beristirahatmu di kediaman mak Ute cukup sulit untuk dimasuki. Mengapa dia bisa dengan mudah masuk ke sana dan berdua denganmu di dalamnya?" cecar Bima, suaranya mulai meninggi. Namun, begitu melihat raut kecewa dan sedikit takut di wajah Seruni, ia mulai merendahkan nada suaranya. "Aku tak tahu apa yang terjadi ..."


"Benar dia berada di dalam kamar yang sama denganku malam itu, Bim. Tapi dia menyelinap! Entah bagaimana caranya aku pun tak paham. Bukan aku yang sengaja memasukkannya ke sana. Aku juga melawan. Dan sungguh tak ada yang terjadi setelah itu. Aku dan dia tidak tidur bersama!" Seruni menjelaskan dengan penuh penekanan.


Bima memejamkan matanya sesaat. Dia juga sebetulnya tak sepenuhnya percaya kepada foto-foto itu.


"Aku berani bersumpah, Bim. Demi Allah aku tidak sehina itu." Seruni mulai bergetar suaranya. Bima sendiri jadi kalut kemudian akhirnya ia meraih lagi ponsel itu. Ia akan mengusut tuntas foto-foto itu dan menyeret Tobi ke penjara.


Lama keduanya terdiam.


"Maafkan aku sudah tak percaya kepadamu, Seruni."


"Lebih baik kau pulang." Seruni berkata dengan lirih. Bima menatapnya dengan nelangsa.


"Aku percaya kepadamu, Run. Memang aku yang salah terlalu cepat dikuasai amarah hingga menuduhmu sudah mengkhianati aku."


"Pulang, Bim!" Seruni menunjuk pintu.


Bima menarik nafas panjang. Akhirnya dia mengangguk. Seruni masih terduduk di kursi, tak mau melihat Bima untuk saat ini.


"Aku sayang padamu, Run. Maafkan aku, jika sudah bisa kau maafkan, tolong hubungi aku."


Kemudian Bima betulan pergi dari tempat itu. Seruni menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Ia benci sekali kepada Tobi, lebih benci kepada Bima yang percaya begitu saja dengan foto-foto durjana itu.


"Bagaimana kau bisa lebih percaya dia dibanding aku, Bim?" tanya Seruni pada kehampaan dengan suaranya yang lirih. Ia tak ingin bertemu Bima dulu untuk sekarang. Memang lebih baik saling berbenah dan merenung.

__ADS_1


Seruni perg ke dapur. Nasi gorengnya sudah dingin, ia mulai menikmatinya perlahan. Kadang di sela suapan, airmatanya mengalir begitu saja. Sepiring nasi goreng untuk Bima tak tersentuh. Seruni kembali menghangatkannya lalu menelepon tukang ojek langganannya.


"Tumben, Mbak Seruni, telepon malam-malam begini."


Tukang ojek itu pasti heran karena sudah cukup lama ia tak pernah lagi dapat orderan mengantar Seruni bekerja pada malam hari.


"Bukan saya yang akan pergi, Pak, tapi nasi goreng ini. Tolong antarkan ke alamat ini."


Seruni menunjukkan alamat itu kepada tukang ojek lalu memberikan selembar uang lima puluh ribuan.


"Kembaliannya ambil saja, Pak." Seruni menahan lelaki itu untuk memberikan kembaliannya.


"Baiklah, Mbak, terima kasih banyaknya."


Seruni mengangguk lantas segera masuk lagi ke rumah dan menutup pintu kontrakan. Sementara itu, Bima yang sudah kembali ke rumahnya dan akan segera berbaring, terpaksa mengangkat tubuhnya lagi dan membuka pintu. Ia heran melihat seorang lelaki dengan helm dan motor butut menunggunya dekat pagar.


"Maaf, Pak, saya tekan belnya berkali-kali takut Bapak sudah tidur." Lelaki itu kemudian menyerahkan makanan dalam tempat bekal itu untuk Bima.


"Dari siapa, Pak?" tanya Bima heran.


"Mbak Seruni, Pak."


Bima tak ayal jadi tersenyum. Ia kemudian menerima benda itu dengan senang hati. Kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya. Aroma nasi goreng dengan toping sosis juga sayur hijau dan telur ceplok mata sapi itu tercium lezat.


Bima segera memakannya, menikmatinya sampai habis. Kebetulan perutnya memang lapar. Ia sampai lupa makan karena memikirkan masalahnya dengan Seruni.


Setelah makan dan membersihkan sisa makanan yang menempel di mulutnya, Bima kembali masuk ke kamar. Ia segera meraih ponsel, melihat fotonya dan Seruni yang mereka ambil di pinggir danau saat itu. Setelah itu dikirimkannya pesan penuh kerinduan kepada Seruni dan ia bersiap untuk tidur.


Hampir saja Seruni akan memejamkan mata, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Ia segera membukanya saat tahu dari Bima.


Terima kasih nasi gorengnya. Aku sayang padamu.

__ADS_1


Seruni, meski sempat kecewa, tak bisa menahan senyumnya, membawa wajah Bima ke dalam alam bawah sadarnya.


__ADS_2