Bilik Penyesalan

Bilik Penyesalan
Sisi Kemanusiaan


__ADS_3

"Harus dirujuk ke rumah sakit di kota, Pak. Klinik ini tidak memiliki peralatan yang memadai. Kondisi Laras sekarang cukup kritis. Oksigen dan beberapa peralatan medis lainnya tak bisa mendukung, kurang." Dokter jaga dan juga perawat berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Laras. Lukanya memang sudah dibersihkan, ia juga sudah memakai tabung oksigen tetapi benar apa yang dokter katakan, bahwa Laras sebaiknya dibawa saja ke rumah sakit yang ada di pusat kota.


"Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua jam lebih. Saya akan urus semuanya, pindahkan saja adik saya ke dalam mobil ambulans."


Semua bergerak cepat. Laras masih tak sadarkan diri. Terlihat nyonya Tono tampak terguncang juga tuan Tono yang tampak jadi pendiam. Mereka ikut saja apa yang pihak klinik sarankan, dan Bima bergerak gesit juga cepat dibantu Seruni mengurus semua hal yang berkaitan dengan Laras.


"Kau di rumah saja, Sayang. Aku tak mau kau kelelahan." Bima menangkup wajah Seruni dengan kesepuluh jemarinya, berusaha memberikan pengertian kepada Seruni. Tetapi, istrinya itu menggeleng.


"Biarkan aku ikut serta, Mas,"


Bima akhirnya setuju, ia juga tak tega membiarkan Seruni sendirian di rumah mereka. Ambulance bergerak cepat. Seruni dan Bima berada di dalam ambulans, mendampingi Laras. Sementara kedua orangtuanya berada di mobil bersama supir mereka.


Dua jam terlewati dengan perawat yang masih terus memantau perkembangan Laras di dalam mobil. Saturasi menunjukkan angka yang semakin menurun, kesadaran Laras belum akan kembali, hal itu sangat bisa dipastikan.


Sesampainya di rumah sakit yang cukup besar di pusat kota, mereka segera di sambut oleh perawat, dokter juga pihak keamanan. Ranjang dorong diturunkan dan Laras kembali masuk ke ruang unit gawat darurat. Luka yang cukup dalam, tetapi dokter berusaha untuk menyelamatkan Laras.

__ADS_1


"Pasien harus dirawat di ruang ICU. Pasien kritis dan dalam pemantauan. Keluarga pasien?" Dokter mendekat setelah berkata kepada para perawat yang bergerak cepat, kemudian memanggil keluarga Laras. Bima, tuan dan nyonya besar itu mendekat sedang Seruni memang pergi ke kamar mandi.


"Operasi, kita harus melaksanakan operasi secepatnya. Harus dilakukan pembedahan sedikit karena ada organ yang terkena dan harus kami kabarkan bahwa kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari pasien."


"Selamatkan Puteri saya, Dok. Selamatkan puteri saya." Nyonya Tono tampak terguncang, suaminya hanya bisa menenangkan.


Sebersit penyesalan terlintas kala teringat merekalah yang sudah mengusir Laras hingga akhirnya terjadilah peristiwa ini. Namun, mereka memang sudah terlanjur kecewa berat dengan Laras, karena itu pula, mereka jadi refleks mengusir gadis itu.


Atas kesepakatan, akhirnya mereka setuju untuk menyelematkan Laras dan merelakan bayi yang Laras kandung. Mungkin, itu lebih baik. Sedang Bima sekarang juga sibuk menghubungi kenalan-kenalannya di desa. Mereka sudah bergerak mencari keberadaan Bayu dan dengan barang bukti pesan di ponsel adiknya, Bayu pasti bisa dijerat hukuman berat juga pastinya pemberhentian secara tak hormat dari tugasnya sebagai PNS selama ini.


Beberapa jam operasi itu berhasil. Mereka mengucapkan syukur, semalaman tak tidur, dan akhirnya Laras berhasil diselamatkan. Hanya saja, perempuan itu belum juga sadar. Dia akan menjadi pasien dalam pemantauan yang akan dimasukkan ke dalam ruangan ICU.


"Laras kehilangan banyak darah ketika peristiwa penikaman itu terjadi dan juga saat operasi. Kami butuh darah secepatnya, stok darah dengan golongan AB saat ini sedang kosong," ucap dokter.


"Saya saja, Dok. Saya yang sama darahnya dengan Laras." Nyonya Tono menawarkan diri dengan begitu penuh harap. Namun, saat dilakukan pemeriksaan, nyonya Tono sendiri tak siap fisik untuk melakukan donor darah kepada Laras. Apalagi, nyonya Tono punya riwayat sakit jantung.

__ADS_1


Saat kebingungan dan Bima sudah menyebar pesan untuk meminta bantuan agar ada yang bisa menyumbangkan darah, orang-orang itu tidak ada yang mau. Mereka ingat, Laras begitu angkuh dan sombong, jadi mereka pun enggan.


"Saya bersedia mendonorkan darah saya, Dokter."


Semua mata melihat ke arah sumber suara. Seruni berjalan perlahan menuju ke arah dokter dan perawat dan menunjukkan kesediaannya sembari menunjuk lengannya.


"Darah saya AB, saya bersedia."


Bima mendekat, memeluk Seruni sementara nyonya Tono hanya diam seribu bahasa, ia menunduk, terasa malu karena sekarang orang yang dibenci dan selalu dihinanya justru akan menjadi penyelamat bagi puterinya sendiri.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Seruni lah yang dinyatakan layak untuk melakukan donor darah secara langsung kepada Laras.


Sungguh berhutang budi keluarga itu kepada Seruni, meski Seruni tak menganggapnya begitu. Ia melakukannya murni karena rasa kemanusiaan yang memang masih begitu tinggi.


Sungguh beruntung, beberapa hari kemudian, akhirnya Laras sadar dari koma. Dan ia merasa malu, setelah tahu siapa yang telah menyelamatkan hidupnya. Perempuan itu, yang dulu selalu difitnahnya, dicaci maki tapi malah membalasnya dengan darah kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2